Celoteh Santri Gus Dur

Lomba Baca Kitab Kuning Berhadiah Istri

©istimewa

©istimewa

Oleh: Muhammad Autad Annasher*

Ketika ada kabar lomba baca kitab kuning dari dua partai besar, PKS dan PKB, saya kurang tertarik. Karena kedua kitab yang dibacakan sudah terlalu mainstream dilombakan di pesantren-pesantren. Yang pertama adalah kitab Fathul Mu’in. Kitab karangan Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari ini memang diakui sebagai masterpiecenya fikih. Bahkan, guru saya dulu pernah berujar begini, “kalau kamu sudah bisa menguasai Fathul Mu’in, maka kamu akan bisa menguasai kitab-kitab fikih yang lain”. Tentu, menguasai di sini bukan saja kamu lihai baca, tetapi juga mampu memahami.

Yang kedua, adalah kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, karya Al Imam Abu Hamid Al-Ghazali. Kitab ini membabar bagaimana cara seseorang mencapai ma’rifatullah (mengenal hakikat siapa Allah itu sebenarnya), yakni dengan jalan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Di dalam nya juga dibahas ihwal dari penyakit hati, cara pengobatannya, serta menuntut seseorang agar bisa mencapai maqam seorang sufi. Menghilangkan sifat iri, dengki, sombong, takabur, yang mengarah ke hal-hal duniawi, kemudian mengisinya dengan sabar, qana’ah, tawakkal, taubat, zuhud, yang arahnya ke ukhrawi. Kitab ini juga mengkritik empuk mana itu ulama’ su’ (jelek), dan mana itu ulama’ khoir (baik).

Penulis tidak tahu, mengapa PKB mengambil kitab ini untuk dilombakan, apa mungkin karena kitab Ihya tersebut dipilih karena salah satu musisi paling keren tanah air, yakni Ahmad Dhani—yang sedang diusung oleh PKB sebagai calon DKI 1 itu punya anak yang bernama Al-Ghazali? yang familiar dengan nama panggilan ‘Kaka Al’? Hanya Allah dan PKB yang tahu.

Yang jelas, dari perlombaan itu yang menarik adalah, kitab yang diusung oleh PKS itu fikih, yang di dalamnya berisi tentang segala pokok permasalahan yang berkaitan dengan hukum (Shalat, Puasa, Zakat, Haji Umroh, Jual Beli, hingga Jihad, Jinayat, Hudud, I’taq). Segala hal yang murni kaitannya dengan hukum. Sementara kitab yang dilombakan oleh PKB adalah kitab yang lebih mengarah ke kajian tasawuf; pembersihan jiwa, membenahi akhlak, dan hal ihwal yang berkaitan dengan moralitas.

Kalau pembaca bisa menguasai kedua kitab ini, maka pembaca akan bisa meniru para ulama’ dan para sufi. Yang tidak hanya tahu hukum saja, tetapi tahu implikasi dan dampak dari hukum itu. Yang tidak hanya bisa memberikan fatwa sesat, tetapi tahu apa dan bagaimana dampak dari fatwa itu. Yang tidak hanya bisa mabur tanpa sotang, mencolot tanpo lar dan njajan tanpo mbayar, tetapi bisa menjadi seorang yang benar-benar mampu bersinar, sebagai panutan di tengah masyarakat, dan memberi manfaat ke yang lain.

Pembaca tentu dapat mencerna sendiri, bagaimana akhlak atau moralitas politikus negeri kita saat ini? Dan bagaimana pula hukum yang ada di negeri kita yang dengan mudahnya bisa diperjualbelikan oleh para elit? Apalagi sudah tidak asing lagi jika kedua partai besar yang mengadakan lomba sekarang, para pemimpinnya pernah dan mau dicokok oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Iya, kan?

**

Terkait kitab Fathul Muin, ada cerita menarik yang saya peroleh dari guru saya, di tempat saya mondok dulu, tepatnya di kota Kudus. Jadi begini, di kota kretek itu ada dua sekolah yang isinya laki-laki semua. Sekolah ini begitu terkenal di wilayah pantura. Banyak alumninya yang menduduki posisi penting di masyarakat. Mulai dari politisi sampai kiai kampung. Ketika ada masalah di masyarakat, entah itu dari bertanya tentang hukum ataupun masalah yang sifatnya tidak masuk akal—hal-hal yang berbau klenik, pasti mengarahnya kepada guru dari kedua sekolah tersebut. Mulai dari bagaimana hukumnya jual beli di internet, qadla’ sholat bagi orang yang sakit menahun, donor darah di bulan puasa, sampai permasalahan santet, barang hilang yang kemudian bisa diterawang dengan terapi doa, sulit dapat jodoh, dan lain sebagainya. Kedua sekolah itu guru-gurunya ampuh dan sakti mandraguna. Apapun bisa.

Nah, terkait kajian fikih, di tempat saya belajar—kitab fikih yang diulas adalah Fathul Mu’in (tingkat Aliyah, setara SMA). Sementara di sekolah sebelah, kitab fikih yang dikaji adalah Tuhfatut Thullab, syarah Tahrir, Karya Imam Zakariya Al-Anshori.

Suatu ketika ada dua siswa dari kedua sekolah itu bertemu. Mereka saling mengungul-unggulkan kedua kitabnya yang dikaji itu. Santri pertama mengatakan, “kitab gue yang paling keren. Ini masterpisnya dari segala kitab fikih.” Sementara yang satunya bilang, “yah, punya gue donk yang keren, Syekh Zainuddin itu muridnya mbah Zakariya, alias si pengarang kitab Tuhfatut Thullab”. Ketika geger-gegeran itu meletus, saling mengunggulkan mana kitab yang paling kece badai, lalu, keluarlah seorang guru yang kebetulan bersimpangan dengan kedua murid tersebut. Kemudian dipanggillah kedua santri itu.

“Bocah–bocah santri sing geger podo mrene. Saiki kitabe sing dikaji iku diwaca dewe-dewe, kene tak semak e. Demikian ujar guru saya. Nah, ketika disuruh baca, mereka tidak bisa baca semua. Saya tidak tahu, apakah karena takut kharisma dari guru saya itu yang sangat besar, dan atau, karena memang kedua santri itu benar-benar tidak bisa baca. Mengingat, mengartikan tulisan arab gundul dengan makna utawi iki-iku bukan persoalan yang mudah. Kamu harus berdarah-darah dulu setiap pagi, sore dan malam untuk menunduk, maknani (istilah pesantren), dan bermesra-mesraan dengan kosa kata arab, serta sorof-nahwu.

Yang jelas, sepenggal cerita dari guru saya tersebut, kedua santri itu kemudian disuruh belajar lagi mengenai kedua kitab fikih yang dikajinya tersebut. “wes gak usah do geger-gegeran endi sing unggul, wong dikon moco ae do ora iso”. Demikian kalimat yang paling saya ingat sampai saat ini dari kisah beliau.

**

Cerita di atas sepertinya sangat menarik bagi saya yang menyadari betapa besarnya gesekan di tengah-tengah masyarakat yang saling mengunggulkan kitabnya masing-masing. Kitabku yang paling murni, sumbernya jelas dari Tuhan. Eh, punyamu sudah banyak terkontaminasi dan perubahan-perubahan. Loh, kelompokmu kan rujukan kitab hadisnya pakek ini. Wah, gawat, banyak hadis-hadis dhoif (lemah) dimasukkan. Wah, gawat, punyamu sanadnya nggak jelas, dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah, sudah berapa banyak buku yang kamu baca? Sudah berapa kitab yang kamu telaah (baca: muthola’ah) setiap harinya? Hingga kamu berani mengafir-ngafirkan dan menyesat-nyesatkan orang lain?

Kalau memang bacaanmu itu sudah melampaui Syekh Zainuddin Al-Malaibari, dan Imam Al-Ghazali, silakan kalau mengklaim punyamu dan kelompokmu yang paling benar.

**

Saya tidak tertarik dengan kedua lomba yang diadakan oleh poli(tikus) di atas bukan karena kitabnya yang sangar. Babon, masterpiece, dan menantang. Bukan karena hadiahnya yang menggiurkan. Puluhan juta rupiah dan bisa traveling ke Saudi serta ziarah ke makam wali. Tapi, saya sedang nyari lomba yang hadiahnya cukup dapat santriwati hafidzah, dan ditanggung segala resepsinya. Yang mana di dalam resepsi itu difasilitasi Habib Syekh dan Gus Nuril bisa satu panggung main gamelan bersama Kiai Kanjeng. Sudah, itu saja.

Muhammad Autad An Nasher. Penulis adalah alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan II, dan aktif di Jaringan Gusdurian. Ia bisa ditemui di akun twitter @autad.

2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top