Celoteh Santri Gus Dur

Wajah Toleransi Media Kita

©istimewa

©istimewa

Oleh: Agung Hidayat Aziz*

Seorang kawan pernah bertanya kepada saya, media seperti apakah yang dapat digolongkan kredibel dan terpercaya? Jujur saja, meskipun saya berasal dari jurusan Ilmu Komunikasi, pertanyaan itu bagi saya cukup rumit. Karena media memang sulit dinilai dalam kerangka yang ideal. Setiap media bisa disenangi atau tidak oleh pembaca/pendengarnya. Bisa dianggap kredibel atau tidak dan bisa pula dianggap terpercaya atau tidak.

Entah jawaban itu memuaskannya atau tidak, saya kembali merespon. Ada angin apa bertanya demikian? Rupanya ia baru saja mewawancarai seseorang, yang boleh dikatakan berpandangan Islam agak kekanan-kananan. Ketika ditanyai, referensi media seperti apa yang sebaiknya digunakan untuk melihat Timur Tengah. Orang yang diwawancarai itu menyebutkan nama-nama media yang terdengar ganjil jika ingin dituliskan dalam catatan kaki makalah. Nama-nama tersebut bagi kawan saya yang mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional dan Pegiat Komunitas Studi Timur Tengah tidak kredibel, nilai akademisnya kurang bahkan cenderung hanya memanaskan isu.

Nama-nama media itu terkenal dengan kegemaran memberitakan isu Palestina-Israel, zionisme, konflik dengan liberalisme serta bentrokan sektarian. Kawan saya dengan terang pun bertanya pada orang itu, “Mengapa Anda menganggap media tersebut relevan?”. Dengan lingkungan perkuliahannya yang kerap menggunakan referensi asing seperti BBC, Al-Jazeera, The Diplomat, TIME dan lainnya nama-nama tersebut baginya ganjil. Orang itu pun balik bertanya, ”Apa kita harus terus memercayai media buatan Barat?”. Tersekat beberapa saat, kawan saya memilih untuk tidak melanjutkan bahasan media lagi.

Orang yang menjadi terwawancara itu balik bertanya demikian pastilah berdasarkan ketidakpuasan diri. Mungkin sama dengan ketidakpuasan saudara kita terhadap media di Ambon, pada kerusuhan di awal reformasi. Saat itu, muncul dua surat kabar yang masing-masing memihak kelompok tertentu. Hasilnya? Jangan ditanya, semua dapat membayangkan betapa panasnya suhu Kota Ambon dan sekitarnya. Kedua surat kabar saling “berbalas pantun” dalam mengabarkan.

Jika hari ini ada pemberitaan seorang Muslim dibunuh kelompok Kristen di surat kabar A, lalu surat kabar B akan memberitakan seorang Kristen dibantai Muslim. Antara pihak Kristen, yang kebanyakan warga asli, dan pihak Muslim, yang kebanyakan warga pendatang seperti Bugis, Makassar, Buton, Jawa dan Sunda, mudah tersulut pemberitaan. Terkadang framing berita dibuat dengan begitu ekstrimnya oleh masing-masing surat kabar. Bertambah miris mendengar kabar bahwa kedua surat kabar itu dimiliki oleh satu perusahaan yang sama. Perusahaan media berskala nasional dan hobi mengakuisisi sahamnya di daerah-daerah.

Sembari merenungi kedua kasus itu, walau tak terlalu terkesan berhubungan, ada benang merah yang menjadi kegelisahan. Mampukah membuat konsep media yang toleran? Tidak hanya sekadar wacana yang ditawarkan, tetapi mampu merangkul keberagaman masyarakat dan mengabarkan secara baik. Lagi-lagi ide ini terbentur oleh paradigma bahwa media pasti dimiliki. Oleh karenanya, media memiliki kepentingan tersendiri. Entah itu demi menikmati keuntungan ekonomi, aspek propaganda, hingga memengaruhi khalayak dengan sebuah ideologi. Untuk dua hal yang terakhir, kasus yang saya ceritakan bikin masygul.

Adanya sikap netral dalam media hanyalah keinginan yang utopis belaka. Sampai kiamat pun, media takkan pernah mampu mengaburkan subjektivitasnya. Objektivitas hanya dihasilkan lewat proses klarifikasi berita dan pengabaran dari sudut pandang kedua belah pihak yang tengah bertikai, bahasa kerennya cover both side.

Celakanya, media yang terus menerus bertingkah seperti itu mengabaikan toleransi keberagaman. “Mereka kan ada yang punya tujuan propaganda,” ujar seorang kawan saat kami bertukar pikiran. Mampukah media ramah dalam pemberitaan? Ah! Lebih-lebih yang bertujuan propaganda. Semakin nelangsa rasanya saat mengetahui pemberitaan yang dihasilkan dapat memicu pertikaian. Media yang diutarakan terwawancara tadi ialah media yang punya ciri “berkobar-kobar” dalam pemberitaan.

Negara ini sudah lelah dengan berbagai pertikaian internal. Bermacam kekerasan ditampilkan setiap hari di media, tanpa tahu bahwa media punya andil juga dalam kekerasan itu. Lihat saja, penelitian-penelitian para pengaji Ilmu Komunikasi yang memaparkan permainan framing antara media satu dengan media lainnya. Media sendiri gampang sinis dalam menanggapi isu SARA tertentu.

Misalnya kekerasan terhadap Al-Qiyadah al-Islamiyah di Padang; pengerusakan dan penyerangan masjid dan Jemaah Ahmadiyah Indonesia di Manis Lor Kab. Kuningan, Jawa Barat; rencana pembumihangusan komunitas Suku Dayak Losarang, Indramayu, Jawa Barat; dan dan Sy’iah di Bangil Jawa Timur dan lainnya. Untuk kasus-kasus tersebut media punya perspektif yang menyenangkan hati mayoritas. Taruhlah media propaganda ekstrim kanan diabaikan, tetap saja media yang kita bilang berskala nasional memberitakan tidak sesuai pertimbangan sensitifitas dan toleransi keberagaman.

Beku dengan situasi intoleransi, negara ini mendapat kabar bahwa pimpinannya baru saja memeroleh penghargaan dari World Statesman Award dari organisasi Appeal of Conscience Foundation (ACF). Penghargaan disematkan atas kinerja pimpinan dunia yang menggalang toleransi beragama dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Media yang belum belajar toleransi ramai-ramai mengecap penghargaan ini tidak pantas. Entah SBY dinilai tidak tahu diri atau bagaimana, sebagai perwakilan Indonesia seharusnya penghargaan itu diperuntukkan bagi pejuang sesungguhnya. Masyarakat Indonesia mayoritasnya ialah pecinta kedamaian dan suka mempererat silaturahmi di antara sesama. Masyarakat kitalah yang pantas menerimanya, bukan sosok presiden yang jelas-jelas kapabilitas membangun toleransi selama jabatannya dipertanyakan. Sosok penuh ragu! Situasi ditambah lucu saat media menakar-nakar apa penghargaan ini pantas? Yah, mau dikatakan apa lagi. Berkacalah pada diri sendiri, apa kita pantas menakar-nakar persoalan yang belum mampu kita pecahkan dalam diri sendiri?

 

*Agung Hidayat Aziz. Penulis adalah Santri Gus Dur (Gusdurian Jogja), alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur II

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top