Celoteh Santri Gus Dur

Ngaji Kemanusiaan

©istimewa

©istimewa

Oleh: Sarjoko

Tentu bukan sebuah kebetulan jika kemanusiaan (humanity) diletakkan sebagai salah satu poin nilai utama perjuangan Gus Dur oleh para sahabat dan muridnya. Bukan sebuah kebetulan pula jika sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” menjadi sila kedua Pancasila. Baik poin kemanusiaan ataupun sila kemanusiaan, keduanya diletakkan setelah asas ketuhanan. Dalam nilai utama perjuangan Gus Dur, nilai pertama adalah ketauhidan (spirituality). Sementara sila pertama adalah “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Dalam ajaran agama Islam, dikenal tiga jenis hubungan yang harus dijalin oleh manusia. Ketiganya adalah: hablun minallah (hubungan dengan Tuhan), hablun minannas (hubungan dengan manusia), dan hablun minal alam (hubungan dengan alam). Lagi-lagi, hubungan dengan manusia diletakkan di nomor dua, setelah hubungan dengan Tuhan yang sifatnya vertikal.

Pertanyaannya adalah, mengapa? Untuk menjawabnya, ada dua quote menarik yang pernah disampaikan oleh Gus Dur:

“Tuhan tak perlu dibela. Ia sudah maha segala-galanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”

“Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Sebaliknya merendahkan dan menistakan manusia, berarti merendahkan dan menistakan penciptanya pula.”

Jika ada seseorang yang mengaku ingin membela atau memuliakan Tuhan, bisa dilihat usahanya dalam membela atau memuliakan manusia. Jika ada orang yang mengaku beriman pada Tuhan yang esa, maka dilihat pula bagaimana ia memperjuangkan keadilan bagi umat manusia.

Di dunia ini telah banyak tokoh yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan. Mahatma Gandhi misalnya, ia melakukan perjuangan tanpa kekerasan dalam memerdekakan India dari penjajah. Di Indonesia, kita mengenal banyak tokoh seperti Romo Mangun yang melakukan pendampingan bagi warga Kedung Ombo yang terzalimi oleh pembangunan di masa orde baru. Gus Dur sendiri memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dengan membela kaum minoritas.

Perjuangan tersebut haruslah menjadi teladan bagi siapa pun yang merasa beriman dan berjuang di jalan Tuhan. Dan hendaknya perjuangan atas nama manusia tidak tersekat oleh faktor kedekatan semata. Akan menjadi luar biasa apabila perjuangan kemanusiaan yang dilakukan berada di tempat di mana kita tidak memiliki ikatan sama sekali, baik ikatan darah, ataupun daerah. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Christina Noble, seorang warga Irlandia yang mengabdikan dirinya untuk kemanusiaan di Vietnam.

Kisah perjuangan Noble digambarkan secara apik dalam film besutan Stephen Bardley yang berjudul Noble, dan dibintangi oleh Deirdre O’Kane. Noble yang mengalami masa lalu pahit: hidup keras sebagai anak jalanan, dipisah dari orang tuanya, menjadi korban pemerkosaan, tergerak untuk melepaskan penderitaan yang sama bagi anak-anak di Vietnam. Ia kemudian mencari bantuan kepada para bos minyak di sana untuk mendirikan sebuah pusat kegiatan dan kesehatan bagi anak-anak jalanan Vietnam, khususnya kota Ho Chi Minh. Pada Jumat 25 Maret 2016 yang lalu, Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta mengadakan nonton bareng (nobar) sekaligus diskusi film tersebut dalam rangka ngaji kemanusiaan.

Film ini berlatar tahun 1989, empat belas tahun pasca perang Vietnam. Sisa-sisa perang masih begitu terasa. Kecurigaan dan ketatnya pengawasan pada orang asing masih berlaku di negara tersebut. Tetapi Noble terus berupaya melakukan kerja kemanusiaannya. Ia tidak tega melihat anak-anak Vietnam hidup dalam kehidupan jalanan yang keras. Di kemudian hari ia mendirikan Christina Noble Children’s Foundation. Pada saat dirilis pada tahun 2014, yayasan tersebut telah mengerjakan ratusan proyek dan membantu sekitar 700.000 anak di Vietnam dan Mongolia.

Sebuah kerja sosial yang luar biasa. Bahkan ketika ditanya mengapa Vietnam, Noble mengaku tidak tahu. Ia hanya mengenal Vietnam melalui layar kaca televisi, melalui berita perang yang menyengsarakan jutaan warga Vietnam.

Perjuangan Noble menginspirasi bahwa kedekatan secara geografis bukanlah faktor utama seseorang untuk melakukan gerakan kemanusiaan. Bahkan ia yang tak memiliki kedekatan khusus dengan negara Vietnam malah melakukan hal besar yang tidak terpikirkan oleh penduduk negara tersebut.

Apakah Noble adalah bentuk pencitraan Barat untuk menutup-nutupi kekejaman Barat? Pertanyaan ini muncul dalam diskusi setelah pemutaran film selesai. Jangan-jangan Noble hanyalah anomali yang sengaja diciptakan untuk mencitrakan kebaikan Barat. Seperti halnya film produksi Hollywood berjudul Ramboo. Akan tetapi kecurigaan itu sepertinya terlalu jauh. Apalagi jika melihat latar belakang Noble yang seorang Irlandia. Irlandia sama sekali tidak terlibat dengan perang dahsyat di Vietnam. Kecurigaan tersebut semakin terbantah ketika misi kemanusiaan tersebut tidak hanya dilakukan di Vietnam, tetapi juga di Mongolia.

Terlepas dari kemungkinan faktor politisasi tersebut, film Noble memberikan contoh konkret bagaimana seorang manusia berjuang untuk manusia. Sekali lagi untuk manusia, semua manusia. Bukan untuk sesama warga negara tertentu. Jika seluruh manusia memiliki jalan pikir yang sama dengan Noble, maka penindasan dan pemiskinan serta kelaparan tidak akan terjadi.

Namun dunia tampaknya belum siap untuk melihat keharmonisan dan perdamaian. Masih banyak manusia-manusia egois yang tidak peduli pada kesusahan orang lain. Menjadi tugas bagi para pejuang kemanusiaan untuk membuat penduduk bumi ini siap dengan indahnya damai dan harmoni.

 

Tulisan ini diambil sepenuhnya dari: http://jejakpelamun.blogspot.co.id/2016/03/ngaji-kemanusiaan.html

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top