Pena Gus Dur

Membaca Sejarah Lama

©istimewa

©istimewa

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

1

Sejarah lama kita sebagai bangsa memang sangat menarik. Rasa tertarik itu timbul dari kenyataan bahwa yang tertulis sering tidak sama dengan yang terjadi. Dengan kata lain, sejarah masa lampau sering dijadikan sebagai alat legitimasi kekuasaan. Ini, umpamanya, terlihat pada kisah asal-usul Dinasti Mataram.

Menurut cerita, Ki Ageng Gringging mempunyai sebutir kelapa muda yang diletakkan pada rak (pogo) di dapur. Ketika ia pergi ke kebun, datanglah Ki Ageng Pamanahan, yang langsung menuju dapur. Di tempat itu, ia melihat kelapa tersebut dan langsung melobanginya dan meminum airnya. Karena minum air kelapa itulah, kemudian, ia menjadi cikal bakal dinasti tersebut.

Padahal, dalam budaya Jawa, meminum air kelapa berarti serong dengan istri orang. Kalau hal ini benar, berarti dinasti tersebut adalah hasil hubungan gelap, antara Ki Ageng Pamanahan dengan istri Ki Ageng Gringging. Dan kalau demikian yang terjadi, berarti pula bahwa perzinaan adalah hal yang umum terjadi dalam pusat-pusat kekuasaan kita. Hal itu tidak mengherankan, karena sampai sekarang pun hal itu masih terjadi.

Salah satu hal yang harus diteliti adalah hubungan antara Raden Wijaya dan mertuanya, Raja Kertanegara dari Singosari. Mengapakah Raden Wijaya kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit di Tarik (Krian)? Dalam hal ini, sejarah mengatakan dia membelot dari mertuanya itu. Tapi, tidak diterangkan mengapa ia berbeda dengan sang mertua.

Dalam setiap sumber sejarah, selalu disebutkan bahwa ia mendirikan negara Majapahit dengan bantuan Angkatan Laut Cina yang mengirimkan perahu-perahunya melalui Sungai Brantas ke Tarik. Padahal kita juga tahu bahwa Angkatan Laut Cina sepenuhnya diisi oleh orang-orang muslim. Karena itu, salahkah kita kalau lalu menyimpulkan bahwa pertentangan Raden Wijaya dan mertuanya karena perbedaan agama?

Kita tahu, bahwa Kertanegara adalah penganut paham Bhairawa (dalam istilah sekarang Birawa –yaitu, campuran antara agama Budha dan Hindu). Campuran itu adalah hasil pertempuran/pertemuan antara Kerajaan Hindu Kalingga di Jawa Tengah dan Kerajaan Syailendra yang beragama Budha. Dinasti Syailendra adalah pembangun Candi Borobudur. Dari perbenturan Hindu dan Budha itu, lahirlah budaya campuran dengan agamanya sendiri, seperti tampak pada Candi Prambanan, dekat Klaten. Ketika mereka dimusuhi kekuasaan yang ada (tidak jelas kaum Syailendra yang beragama Budha atau kaum Kalingga yang beragama Hindu) maka pengikut agama campuran itu berpindah ke Jawa Timur di bawah pimpinan Darmawangsa di Kediri.

Padahal kita tahu, Kerajaan Singosari adalah kelanjutan dari kekuasaan Jenggala dan Daha di Kediri. Jadi, tak heran apabila tradisi yang berkembang di Singosari adalah Hindu dan Budha. Sangatlah menarik untuk melihat bertapa perbedaan agama mendorong munculnya kerajaan-kerajaan baru. Tetapi juga, ambisi-ambisi politik pribadi dapat juga menyebabkan timbulnya kerajaan-kerajaan baru, seperti yang terjadi pada Kerajaan Daha dan Kerajaan Jenggala di Kediri.

Dengan demikian, mau tidak mau kita lalu harus memilih antara dua versi sejarah. Versi perbedaan agamakah, atau versi pertentangan akibat ambisi-ambisi pribadi? Dari sinilah kita lalu terjebak oleh keharusan membaca sejarah lama kita dalam versi yang berbeda-beda. Ini adalah akibat langsung akan kesenangan bangsa kita atas lambang-lambang kesejarahan. Catatan sejarah hampir-hampir tidak dibuat, dengan demikian kita lalu harus meraba-meraba masa lampau kita sendiri. Inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan lalu sekadar menghafalkan tahun-tahun dan nama-nama dalam “pelajaran” sejarah di sekolah-sekolah kita. Kita bukannya mengingat-ingat tahun kejadian, melainkan memahami sejarah sebagai sebuah proses.

2

Kita hampir selalu melihat perkembangan LSM/NGO (Lembaga Swadaya Masyarakat/Non-Govermental Organisation) sebagai fenomena yang baru. Padahal kalau kita simak dengan teliti, sejarah masa lampau kita akan memperlihatkan asal-usul LSM pada sejarah masa lampau kita sendiri. Dalam hal ini, kita dapat memulainya dengan kisah pertarungan antara sultan Hadiwidjaya (Raden Mas Karebet atau Jaka Tingkir) di Pajang melawan menantunya, Sutawidjaya. Sutawidjaya kemudian terkenal dengan sebutan Panembahan Senoppati Ing Alaga Sayyidin Panatagama, pendiri Dinasti Mataram yang kita kenal sekarang. Pertempuran antara keduanya, di Pajang, akhirnya dimenangkan oleh Sutawidjaya. Dengan demikian, Sultan Hadiwidjaya harus mencari “modal baru” dalam pertarungan itu. Dan, untuk itu, ia kembali ke rumah ibunya, Astatenggi-Sumenep (Madura).

Sebagai penganut tarekat Qodiriyyah, ia kemudian memperoleh 40 macam kanuragan (kesaktian) baru. Dalam perjalanan kembali ke Pajang, ia menaiki perahu yang melaju di atas sungai Solo. Hal ini, sebagaimana dilanggengkan dalam tembang jawa “Sigra milir, sanggethek sinangga bajul, kawandasa cacahipun”. Tembang ini adalah manifestasi budaya jawa, yang dikenal hampir oleh setiap anak jawa yang mengenal budaya daerahnya.

*****

Kisah Jaka Tingkir di atas, “diakhiri” oleh kisah —ketika ia mampir di Pulau Pringgobayan. Kini, pulau itu bertaut dengan daratan yang menjadi jembatan yang menghubungkan antara Pucukredjo dan Paciran di Kabupaten Lamongan. Di tempat itulah, Jaka Tingkir singgah untuk mengisi air dan keperluan-keperluan lain, dalam perjalanan kembali dari Pulau Madura ke Pajang dekat Demak. Dalam persinggahan itu, ia tertidur dan visiun (rukyah, impian atau wangsit) yang dialaminya terjadi. Gurunya menyatakan hendaknya ia tak meneruskan perjalanan ke Pajang, melainkan tetap tinggal di pulau tersebut. Untuk apa ia kembali ke Pajang, jika hanya untuk menuntut balas terhadap Sutawidjaya?

Padahal, kanuragan yang dimilikinya tidak untuk merebut tahta kerajaan dari menantunya. Kalau hal itu yang dilakukan, ia hanya akan menjadi korban nafsu kekuasaan belaka. Dengan sendirinya, ia harus menahan diri dan mengembangkan sesuatu yang baru, yang harus dilakukannya tidak dari pusat kekuasaan di Pajang, melainkan dari tempat ia berada, yaitu di Pringgabaya.

*****

Dengan demikian, lahirlah sebuah tradisi baru, yaitu adanya LSM di luar pusat kekuasaan di Pajang. Ini adalah apa yang dirumuskan oleh Dr. Taufiq Abdullah dengan istilah hubungan multi-keratonik. Dalam hubungan seperti ini, selama”keraton kecil” menyatakan ketundukan nominal kepada “keraton besar” sudah dianggap cukup. Bahwapihak pheriferal mengembangkan diri dalam pola yang tidak dikehendaki oleh pusat kekuasaan , adalah sesuatu yang baru dalam sejarah bangsa kita. Hubungan pheriferi-pusat yang tidak simetris ini justru dipergunakan untuk pengembangan Islam tanpa merugikan agama Hindu dan Budha yang sedang berkuasa saat itu. Sedikit demi sedikit, agama baru yang datang terkemudian mengambil alih kehidupan agama-agama terdahulu, tanpa menimbulkan perbenturan yang berarti. Dengan cara ini, sesuatu yang baru telah menggantikan hal lama tanpa ada perbenturan politik yang dahsyat.

Ini berarti, LSM yang bergerak di akar rumput (grass roots) harus mengembangkan jati dirinya sendiri, hingga tidak harus mengikuti pola LSM-LSM internasional, kalau dikehendaki tidak ada perbenturan besar melawan sistem kekuasaan yang ada. Ini berarti keharusan bagi mereka untuk tidak bergantung pada dunia luar, melainkan menggunakan cara dan gaya hidup masing-masing yang benar-benar berasal dari rakyat. Di sisi inilah kita berharap banyak dari LSM-LSM kita, bukannya sesuatu yang didektekan dari luar.

 

Singapore, 7 November 2001

Jakarta, 27 Oktober 2001

Tulisan ini diambil sepenuhnya dari buku Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top