Celoteh Santri Gus Dur

Surat Terbuka Tuhan di Hari Valentine

Oleh: Muhammad Autad An Nasher

Tidak banyak yang tahu, jika di balik hingar bingar perayaan valentine (hari kasih sayang), ternyata menyimpan sejumlah tragedi kemanusiaan. Berbagai literatur sepakat menyebutkan, bahwa sejarah valentine, salah satunya, adalah ketika Santo Valentinus melanggar peraturan dari Kaisar Romawi Claudius II yang melarang pernikahan lelaki muda. Oleh Kaisar, anak muda harus menjadi prajurit, tentara, yang mempunyai daya juang tinggi untuk menjaga pemerintahan, bukan malah yank-yankan.

Santo Valentinus akhirnya di jatuhi hukuman mati pada malam sebelum 14 Februari, karena melanggar peraturan sang raja. Menikahkan salah satu pasangan secara diam-diam. Legenda itu awam kita dengar. Walaupun pada akhirnya banyak sejarah yang berbeda-beda dalam mengisahkan ihwal sejarah Hari Valentine. Lebih panjang dan jelas mengenai sejarahnya, pembaca bisa merujuk ke situs wikipedia.

Pertanyaannya, lalu apa isi surat dari Tuhan dalam menyikapi perayaan Valentine atau Valentine’s Day ini? Mungkin akan selesai persoalannya ketika yang dibahas adalah bagaimana hukum valentine, yang mengarah kepada fikih klasik. Tetapi akan menjadi berbeda ketika kita menyikapi dengan bijak dari hari valentine yang setiap tahun pasti ada perdebatan atau kampanye pelarangan merayakannya.

Saya sendiri sepakat jika yang dimaksudkan pelarangan itu yang nantinya akan mengarah kepada berkumpulnya lawan jenis, dalam arti sex bebas, karena itu memang dilarang oleh agama. Maka wajar jika akhir-akhir ini marak di media sosial yang memberitakan tentang peraturan oleh pihak sekolah dalam menyikapi hari valentine.

Surat Terbuka Tuhan

Surat terbuka oleh Tuhan di hari Valentin ini sebenarnya sudah jauh dikirim oleh Tuhan melalui perantara kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dimana Hari Valentine belum dijadikan sebagai hari khusus untuk ‘momentum kasih sayang’ dengan memberi coklat, bunga, dan kartu ucapan.

Ya, kitab suci al-Qur’an adalah surat cinta Tuhan itu. Sudah 14 abad silam. Tapi masih saja selalu dibicarakan, ditafsirkan, dan dikaji hingga berjilid-jilid kitab dan bermilyaran buku. Tidak semua surat-surat di dalam al-Qur’an yang menyebut tentang makna dan arti kasih sayang penulis catatkan di sini.

Di antaranya, ayat pertama dari surat al-Fatihah, yang berbicara tentang bagaimana sifat Tuhan yang rahman dan rahim. Pengasih dan penyayang. Bismillahhirrahmanirrahim. Tuhan yang mencintai dan menyayangi umatnya seluruh alam semesta. Rahmatan lil ‘alamin. Sehingga penulis menjadi aneh manakala dewasa ini banyak peristiwa dengan mengatasnamakan agama kemudian melakukan pembantaian kepada sesama. Dengan dalih agama, ia seakan-akan menjadi Tuhan, yang atas kuasanya berhak meguasai hak-hak orang lain.

Berkaca pada kasus pengusiran kepada warga Ahmadiyah di Bangka Belitung adalah sebuah tragedi manusia. Bupati Bangka yang seharusnya melindungi warganya tetapi malah ‘mengusir’ mereka dari tempat tinggalnya. Serupa juga dengan kelompok Gafatar, yang rumahnya di bakar di Mempawah Kalimantan Barat oleh beberapa oknum dari umat Islam. Kurang lebih 6000 orang diusir dari tempat tinggalnya. Mata pencahariaan mereka hilang. Tanah yang mereka tanami dengan rempah-rempah terpaksa mereka tinggalkan. Sekarang mereka terlantar di tempat-tempat penampungan. Di manakah rasa kemanusiaan kita?

Mungkin kita boleh tidak setuju dengan akidah dan pemahamannya, tetapi hak-hak mereka haruslah dihormati. Hak-hak mereka sebagai manusia haruslah kita hargai. Pengusiran adalah sebuah pelanggaran kemanusiaan dan agama.

Sepertinya umat Islam harus belajar kepada Rasulullah Saw pada peristiwa Fathu Makkah. Bagaimana kasih sayang Rasulullah Saw begitu tumpah pada hari tersebut, al-Qur’an menyebutnya sebagai Fathan Mubina. (lihat, QS. Al-Fath 48: 1). Sebuah kemenangan nyata yang diberikan Tuhan kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Ribuan musuh dibebaskan, diberi amnesti masal, sebagai wujud rasa syukur atas kemenangan yang diraih. Dengan bijak Rasulullah berpidato bahwa ini adalah Hari Kasih Sayang, bukan hari Pembantaian. “Hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah”.

Pertanyaannya, jika kita memang mengaku sebagai umat Muhammad, apakah perilaku dan akhlak Rasulullah yang sudah di rekam melalui al-Qur’an dan Hadis tersebut, sudah kah kita menirunya? Bila melihat dua kasus pengusiran oleh kelompok Gafatar dan Ahmadiyah, saya rasa jauh dari itu.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengingatkan kepada kita semua, “memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarrti merendahkan dan menistakan Tuhannya”.

Adanya kelompok dan macam-macam aliran dewasa ini, adalah wujud manifestasi dari cinta Tuhan kepada makhluknya supaya kita bisa melihat keberagaman. Perbedaan tidak lantas menjadi ruang terbuka untuk saling bermusuhan. Menjadi absurd manakala kita melihat awan atau pepohonan rindang bertuliskan lafald “Allah” kemudian kita mengucapkan “Subhanallah”, sebagai wujud ketakjuban. Sementara keberagaman dan perbedaan yang terdiri dari Sabang sampai Merauke kita anggap sebagai musibah. Bukahkah itu juga merupakan bagian dari kuasa dan Kemahaagungan Tuhan?

Hari Valentine: Kritik atas Ideologi Jomblo

Kita sepatutnya berkaca pada kasus Santo Valentinus. Bagaimana dia bersedia jadi martir untuk memperjuangkan hak anak muda, yang minta dinikahkan, daripada melakukan zina, yang diharamkan oleh agama. Dia siap menghadapi penguasa yang kejam, demi mewujudkan tali pernikahan. Dalam term agama, apa sudah dilakukan oleh Santo Valentinus tersebut, menurut hemat penulis, adalah suatu bentuk jihad. Di mana ia berani melakukan kritik dan penentangan kepada penguasa yang lalim.

Dalam bahasa al-Qur’an, apa yang dilakukan oleh Santo Valentinus ini masuk kategori cinta rahmah. Di mana ia memiliki jiwa lembut, kasih sayang, dan rela berkorban untuk kepentingan orang lain, demi mengalahkan dirinya sendiri yang akhirnya jadi martir, dihukum mati.

Dalam kajian linguistik, sifat dari kata rahmah adalah seakar dengan rahman dan rahim. Kedua kata tersebut merupakan selalu disandarkan pada sifat Tuhan. (Luwis Ma’luf, al-Munjid, hlm. 253). Sementara menurut Quraish Shihab, kata rahman dan rahim adalah sifat Allah yang paling banyak disebutkan di dalam al-Qur’an, yaitu sebanyak 114 kali. (Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, hlm. 25). Oleh karenanya, mengapa di dalam setiap pernikahan disebut dengan mawaddah dan rahmah.

Dua kata tersebut, pada hakikatnya sama-sama memiliki makna kasih sayang, namun mawaddah hanya sebatas kecintaan terhadap dirinya sendiri (ana), tetapi rahmah adalah kasih sayang dengan mengorbankan orang lain (al-akhor). Ada hubungan kedekatan dengan orang lain. Tidak heran jika istilah-istilah seperti dzawi al-Arham (hubungan kekerabatan atau orang yang punya kasih sayang), silaturrahim (menyambung tali kasih sayang), dan tempat ibu kita mengandung dinamakan dengan rahim (sebagai wujud kasih sayang seorang ibu).

Maka dari itu, apa yang dilakukan oleh Santo Valentinus adalah sebuah wujud kasih sayang yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain. Itulah yang dinamakan cinta rahmah. Dan, apa yang sudah dilakukan oleh Santo Valentinus ini sebagai kritik terhadap para jomblo, yang sudah mampu secara materi dan sehat jasmani yang enggan melakukan pernikahan.

Justru Santo Valentinus melakukan sebuah tindakan sebagaimana yang diajarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Yaitu menikah, bukan membujang. Nabi Muhammad pernah melakukan kritik sahabatnya, yang bernama ‘Ukaf bin Wada’ah al-Hilali.

“Rasulullah bertanya, “Apakah engkau mempunyai istri?” ‘Ukaf menyahut, ‘Tidak’. Kalau perempuan?”sambung Rasul kembali, ‘Ukaf menjawab, “Juga tidak. “lantas Nabi Muhammad melanjutkan pertanyaannya, “Apakah engkau sehat jasmani dan mampu secara materi?’ “Ya, segala puji bagi Allah, “sergah ‘Ukaf. Nabi kemudian bertutur, “Jika demikian halnya, engkau termasuk rekan-rekannya setan. Jika engkau ingin meniru tradisi pendeta Nasrani, maka silahkan! Namun jika engkau merasa sebagai bagian dari kami, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya nikah itu merupakan sunnah kami.”

Sehingga dalam hemat penulis, peringatan Hari Valentin memang bukan budaya dari umat Islam, karena ketika kita melihat sejarahnya itu bukan bagian dari sejarah Islam. Tetapi, apa yang tersirat di dalam peristiwa yang dialami oleh Santo Valentinus di atas, ada bagian-bagian elan vital atau spirit dari ajaran agama Islam, diantaranya kasih sayang, saling menghargai, mencintai, memanusiakan manusia, dan menikah, adalah bagian dari ajaran agama Islam yang harus kita lestarikan. Wallahhu a’lam.

Jogja, 14-02-2016

Muhammad Autad An Nasher. Penulis lepas, yang bersinggah di akun twitter @autad. Ia juga aktif di Komunitas Gusdurian Jogja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top