Review Buku

Gus Dur yang Membaca Sejarah

© istimewa

© istimewa

Oleh: Agung Hidayat Aziz*

Gus Dur memang cendekiawan yang kosmopolit. Pengertian kosmopolit yang saya maksud disini ialah kemampuan individu untuk berkembang dan memahami lingkungan dunia dimana ia tinggal. Gus dur salah satu dari sekian kaum intelektual yang tumbuh dengan sikap itu. Tulisan-tulisan singkatnya yang mengangkat bermacam tema, membuktikan sosoknya yang humanis serta peka terhadap persoalan yang ada.

Seperti tulisan-tulisannya dalam bukunya yang berjudul “Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur” ini. Sebenarnya buku ini versi baru dari kolom dan artikel soal sejarah dari buku Gus Dur lainnya yang berjudul, “Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser”. Kolom-kolom ini ialah secuil dari banyaknya aktivitas menulis Gus Dur pasca lengser dari kedudukannya sebagai Presiden RI, 2001 yang lalu. Tampaknya kemunduran Gus Dur dari kancah politik praktis itu membuat sebagian orang lebih senang. Lantaran, Gus Dur lebih banyak meluangkan waktunya untuk menulis dan menuangkan gagasannya terkait nasionalisme dan demokrasi.

Lantas, sejarah apakah yang ditawarkan Gus Dur pada pembacanya? Yang pasti ini bukanlah sebuah buku seperti banyak buku sejarah pada umumnya. Bukan pula buku teori atau kajian ilmiah. Apalagi studi lapangan serta dokumentasi sejarah. Bukan, bukan itu.

Dalam ke-25 kolomnya ini, kita akan diajak untuk melihat sejarah (yang ditutur Gus Dur) lewat kacamatanya. Ada rangkaian cerita maupun peristiwa sejarah yang biasa kita temui pada literatur-literatur sejarah umum, diceritakan kembali oleh Gus Dur. Ada juga yang tidak kita jumpai di buku sejarah manapun. Tapi itu tak menjadi soal. Karena buku ini bukan patokan primer studi sejarah. Kolom ini pun tidak memiliki kutipan yang sifatnya ilmiah.

Nama bukunya saja “Membaca Sejarah Nusantara”. Begitu pula dengan nama kolom-kolomnya, “Membaca Sejarah Lama” yang judulnya sama. Hanya berbeda dari penomorannya yang urut dari (1),(2),(3),…sampai (25). Kata “Membaca” dalam tataran psikologis identik dengan “bercermin” atau “refleksi”. Sedangkan dalam ranah yang lebih filosofis mungkin memiliki potensi “menafsirkan”. Jika kolom ini bertujuan merefleksi apa-apa yang tengah terjadi saat ini dengan masa lalu, Gus Dur yang dikenal sebagai manusia kosmopolit sangat cakap melakukannya. Begitu pula jika tujuannya untuk menafsir ulang suatu peristiwa sejarah. Mengapa tidak? Latar belakangnya berasal dari dunia pesantren, ia tumbuh dan berasal dari keturunan biru itu, juga pula mengamati pertumbuhan bangsa Indonesia kala itu pasca revolusi. Apalagi kita tahu kepiawaian Gus Dur berargumen lewat tulisannya yang selalu reflektif dan penuh ide yang menyegarkan.

Mengutip dari kata pengantar buku ini yang ditulis oleh Gus Mus bahwa, “Gus Dur hampir selalu bisa mengaitkan cerita-cerita sejarah lama itu dengan kehidupan masa kini.” Seperti kisah Perang Bubat era Majapahit dengan perkembangan PKB yang dipimpinnya. Ada juga soal pemerintahan Mesir Kuno zaman Pharao yang dikaitkan dengan Pemerintahan Jepang di bawah Perdana Menteri Kaizumi. Hingga kisah Jaka Tingkir yang batal menuntut balas pada Pajang yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan kecil di Pulau Pringgobayan. Kerajaan kecil tadi berada di luar pusat kekuasaan Pajang dan Gus Dur mengibaratkannya sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/NGO yang tunduk secara nominal kepada pemerintah pusat, tetapi tetap memegang otonominya sendiri. Hal terakhir tadi ialah buah gagasan Gus Dur terkait otonomi daerah dan hubungan LSM/NGO dengan pemerintah.

Ciri-ciri kolom-kolom Gus Dur ini semuanya hampir bersifat perenungannya pada kejadian-kejadian kontemporer yang tengah atau telah terjadi. Tampaknya, mengapa kolom ini bernamakan “sejarah” karena pembukaan tulisannya selalu diawali dengan bercerita soal masa lalu. Lewat masa lalulah, Gus Dur berharap pembacanya dapat mengaitkan persoalan masa kini yang ia kemukakan.

Contohnya, ia bercerita soal Kerajaan Banten Lama yang sebelumnya bersifat maritim harus tergusur rakyatnya kepedalaman. Hal ini dikarenakan situasi sejarah, lewat blokade laut oleh kolonial, yang menyebabkan Banten kehilangan kekuatan diplomasi internasionalnya. Perlu diketahui, bahwa pada abad 17 Banten telah memiliki kedutaan besar di Inggris. Namun, ia tidak mampu mempertahankan identitas kelautannya dan terdesak mencontoh Mataram sebagai negara agraris. Saat ini, Gus Dur khawatir akan berbaliknya orientasi masyarakat Banten. Khususnya setelah menjadi provinsi dengan sektor utama dibidang industri. Akan kemanakah karakter Banten? Saat semua sumber daya manusianya terserap menjadi buruh kasar perusahaan-perusahaan besar.

Namun, kolom ini tetap punya nilai kesejarahan yang mesti digali lagi. Karena Gus dur sendiri dalam setiap kolomnya ini selalu mengingatkan dua hal soal penguasaan studi sejarah bangsa kita. Pertama, perlunya perbandingan antar dokumen sejarah. Kita dituntut mampu menafsirkan ulang apa-apa yang menjadi sejarah pada umumnya. Sifatnya ialah verifikasi, karena banyak sejarah yang sifatnya hanyalah pemenangan suatu kelompok dari kelompok tertentu. Kedua, kemauan untuk menggali teks sejarah dari bangsa sendiri. Dalam hal ini teks maupun cerita sejarah dari nusantara. Selama ini kita terlalu bergantung pada literatur dari luar. Sudah saatnya kita mampu membaca sejarah kita sendiri.

 

*)Penulis ialah GusDurian Yogyakarta yang sedang menempuh Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada dan berdomisili di Padang-Yogyakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top