Celoteh Santri Gus Dur

TOLERANSI HARGA MATI

Oleh : Moh. Abdul Aziz Nawawi*

Saya jadi teringat tahun 1979, di kota Vatikan Roma, diadakan konferensi internasional yang dihadiri oleh seluruh tokoh dan pembesar  agama dunia. Dalam konferensi tersebut terungkap, Indonesia merupakan negara percontohan dalam kehidupan toleransi antar umat beragama. Bahkan Paus Paulus II pun mengatakan, “Indonesia meskipun terdiri dari beragam suku bangsa, bahasa, adat istiadat dan agama, namun hidup dalam kerukunan dan keramahtamahan.”

Namun penulis merasa, kekaguman dunia internasional tersebut kini sudah tinggal kenangan, sebab perbedaan suku, bangsa, adat istiadat, dan agama kini sering menjadi pemicu dan pemacu lahirnya fanatisme buta, persaingan tidak sehat, perselisihan, dan perpecahan, bahkan gontok-gontokan yang mengikis habis nilai-nilai toleransi.

Jika penulis perhatikan bahwa kerusuhan demi kerusuhan akhir-akhir ini muncul diberbagai daerah, laksana cendawan dimusim hujan, seperti Sambas, Sampit, Ambon, Timor-Timor, Poso dan lainnya. Ternyata menurut para pengamat para sosial semua itu bersumber dari masalah SARA terutama agama. Pertanyaanya, apakah ada agama yang mengajarkan umatnya bermusuhan ? tentu tidak ada.

Oleh karena itu, agar perbedaan agama tidak melahirkan permusuhan, kita harus membudayakan toleransi antar umat beragama. Mengingat betapa penting hal tersebut sebagaimana diungkapkan dalam QS al-Kafirun ayat 1-6 yang artinya :

“Katakanlah : “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.”

Menurut pembacaan penulis, sababun nuzul ayat tersebut, sebagaimana ditafsiri oleh Imam as Suyuti dalam “Lubabun Nuqul Fi Asbab al-Nuzul” adalah berkenaaan dengan ajakan kafir Quraisy kepada Rasul untuk bergantian menyembah Tuhan masing-masing. Satu tahun menyembah Allah, satu tahun lagi menyembah berhala. Maka turunlah ayat diatas, dengan menolak keras ajakan tersebut.

Islam, mempunyai konsep yang jelas dan tegas dalam masalah kehidupan beragama. Dalam masalah muamalah kita boleh bertoleransi. Tapi dalam akidah dan ibadah, Islam dengan tegas mengatakan : “Tidak ada tuhan selain Allah” bahkan sampai tetes darah penghabisan tetap “Tidak ada tuhan selain Allah”, namun demikian, Islam tidak pernah menganggu aqidah agama lain.

Dalam amatan penulis, sejarah membuktikan, bahwa agama Akhaton masuk ke Mesir dengan menghancurkan tempat-tempat ibadah “Amon”, agama Kristen masuk ke Mesir dengan membunuh penganut agama Mesir kuno, agama Romawi Paganis masuk ke Mesir dengan membunuh penganut Kristen Koptik, Islam masuk ke Mesir tidak satupun rumah ibadah yang dibakar, tdak seorangpun pendeta yang dibantai. Bahkan Rasul dengan tegas mengatakan, “Siapa saja yang menyakiti kafir dzimi sungguh telah melukaiku.”

Dari sejarah tersebut menunjukan bahwa Islam bukan agama sadis, Islam bukan bengis, bahkan Islam bukan agama teroris, sebagaimana dituduhkan Barat saat ini. Tapi Islam adalah agama Rahmatan lilalamin. Dengan demikian, kalau akhir-akhir ini terjadi teror dan  pengeboman seperti di Legian Kutai Bali, Hotel Mariot dan Kedubes Australia, di Paris, Prancis, yang katanya dilakukan oleh orang-orang yang beragama Islam. Disini saya tegaskan semua itu bukan dari ajaran Islam, sekali lagi bukan ajaran Islam, tapi lebih disebabkan karena faktor kepentingan golongan dan bentuk perlawanan imprialisme politik Barat.

Muncul pertanyaan, apa yang seharusnya kita lakukan agar kerukunan umat beragama tetap terjaga ? sebagai jawabannya, mari kita renungkan firman Allah dalam penggalan surat al-An’am ayat 108 : “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampai batas tanpa pengetahuan.”

Dengan demikian, firman Allah tadi mengajarkan kepada kita umat Islam agar jangan menghina, melecehkan, dan memerangi ajaran agama lain. Biarkanlah kaum Kristiani umat Hindu mengamalkan Veda-Vadenta, Resi Agatya, demikian juga kepada umat Budha biarkan menjalankan ajaran Dharma, Shidarma Gautama. Jika kita umat Islam sudah giat berusaha, bangsa Indonesia sudah memiliki semangat kerja yang tinggi serta para pemuda mampu mengisi masa mudanya dengan berbagai kreasi, insya Allah kita akan maju dan berkembang, mampu bersaing secara ilmu pengetahuan, tekhnologi dan saint, sehingga mendapatkan hidup dan kehidupan yang bahagia.  Sesuai janji Allah dalam surat an-Nahl ayat 97 : Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Demikian jani Allah apabila kita mau berusa bekerja dan berkarya serta dilandasi keimanan, maka Allah akan memberikan kepada kita “khayaatan Thoyibah” kehidupan yang baik dan sukses.

Menurut saya, umat Islam saat ini merupakan umat yang tertinggal, salah satu penyebabnya karena kita memiliki semangat kerja yang rendah. Oleh karena itu jika kita ingin maju mulai saat ini mari kita satukan persepsi, samakan visi dan misi untuk bangkit, bekerja dan berkarya demi nusantara tercinta. Semoga saja.

*Penulis adalah Alumni Kelas Pemikiran Gusdur Angkatan III. Saat ini aktif di PAKPIS (Pusat Kajian Pendidikan Islam) Pesantren Baitul Hikmah Krapyak, Bantul Yogyakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top