Celoteh Santri Gus Dur

Kita Beda dan Setara (Festival Film Toleransi 2015)

Oleh: Agung Hidayat Aziz

IMG-20151117-WA0004

Dalam rangka memperingati hari toleransi dunia, GusDurian Jogjakarta dan komunitas-komunitas yang peduli terhadap isu keberagaman dan perdamaian di Yogyakarta seperti Indonesia Jangan Diam (IJD), Campus Ministry, dan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengadakan festival film toleransi. Acara dilaksanakan di berbagai tempat mulai dari tanggal 16-18 Oktober 2015.

Film yang ditayangkan merupakan film-film pilihan seperti Cahaya Dari Timur (Beta Maluku), Ale Rasa Beta Rasa, Ada Apa Dengan Kitorang Pu Sekolah, Jalan Tika, dan Kisah Nglurah.

Salah satu film yang ditayangkan dalam festival ini ialah “Cahaya Dari Timur (Beta Maluku)” yang disutradarai oleh Agung Dwimas Sasongko. Film tersebut menjadi film perdana yang diputar dalam rangkaian festival film toleransi di Yogyakarta mulai di Student Center UNY, sekretariat Gusdurian (16/11) dan di Republik Guyub Pringwulung (18/11).

GusDurian di Republik Guyub bersama Indonesia Jangan Diam dan Komunitas-Komunitas yang cinta perdamaian.

GusDurian di Republik Guyub bersama Indonesia Jangan Diam dan Komunitas-Komunitas yang cinta perdamaian.

Film ini menceritakan tentang situasi Maluku pada awal tahun 2000, dimana Sani Tawainela, seorang mantan pemain seleksi PSSI yang gagal menjadi pemain profesional menyambung hidup sebagai tukang ojek. Film menceritakan Sani yang menyaksikan tertembaknya seorang anak dalam sebuah kontak senjata di Ambon. Saat konflik Ambon meletus, anak-anak kecil di sana terbiasa pergi ke tengah konflik untuk melihat perang. Oleh karena itu, sani berinisitaif untuk mengadakan latihan sepak bola guna mengalihkan perhatian anak-anak atas konflik yang terjadi. Sani mengajak Rifki, mantan pemain yang satu generasi dengannya, untuk mengadakan latihan di lapangan desa setiap sore. Di kemudian waktu, Rifki mendorong terbentuknya sekolah sepak bola Tulehu Putra.

Sani bertahan melatih anak-anak selama bertahun-tahun di tengah situasi yang kacau dan dengan segala keterbatasan ekonomi. Namun di tengah perjalanan, Sani dan Rifki mengalami pecah kongsi akibat Rifki mengakui bahwa sekolah sepak bola itu adalah miliknya sendiri. Pada akhirnya Sani keluar dari tim Tulehu Putra dan bergabung dengan tim sepak bola SMA Passo yang notabene sekolah Katolik. Bagi Sani yang muslim, peristiwa ini terasa luar biasa karena saat itu tengah terjadi konflik Ambon yang mengatasnamakan agama. Karirnya di SMA Passo yang bisa menyatukan antara pemain muslim dan Katolik membuatnya didaulat menjadi pelatih tim U-15 Maluku untuk berlaga di kejuaraan nasional di Jakarta.

Campus Ministry, Universitas Sanata Dharma.

Campus Ministry, Universitas Sanata Dharma.

Motivasi Sani sebenarnya sederhana, tidak ingin membiarkan anak-anak menyaksikan konflik yang membahayakan jiwanya. Dalam mengatasi konflik ini, Sani melihat ada celah mengalihkan kebiasaan anak-anak menonton kerusuhan berdarah orangtua mereka dengan aktivitas bermain bola. Sepak Bola, walau di satu sisi menyimpan potensi permusuhan lewat dunia persepakbolaan masa kini yang digambarkan dengan fanatisme pendukung suatu klub, ternyata ialah medium yang bisa digunakan untuk menyatukan masyarakat dan penyaluran semangat sportifitas di tengah lingkungan.

Sepak bola ternyata bisa dijadikan medium yang netral, di mana yang menjadi catatan ialah perlunya membangun niat awal yang baik dalam mengatasi konflik. Niat itu harus dilandasi ketulusan menciptakan toleransi dan perdamaian serta memiliki motivasi kuat untuk mencapainya. Jika tercemari sedikit saja faktor-faktor lain seperti ekonomi atau politik, maka rekonsiliasi yang diharapkan tidak akan pernah terjadi. Sani ialah teladan dari sebuah usaha menciptakan lingkungan sendiri lebih baik yang digerakkan oleh perorangan atau komunitas di lingkungan itu sendiri.

Pondok Pesantren Nurul Ummahat

Pondok Pesantren Nurul Ummahat

Sementara film berjudul Jalan Tika menjadi daya tarik tersendiri saat ditonton di Pondok Pesantren Nurul Ummahat (17/11) dan Campus Ministry Univesitas Sanata Dharma (18/11). Narasi soal waria yang bernama Tika, aslinya bernama Hartoyo, didokumentasikan kesehariannya. Film dokumenter ini memperlihatkan Kartika sebagai prbadi yang tidak mau membohongi dirinya sendiri. Sebagai manusia dan warga negara, Tika digambarkan sebagai pribadi yang kuat dan peduli keluarga. Meskipun pandangan di luar terus menerus sinis bahkan memarginalkan dirinya, namun Tika tetap bertahan dengan ‘profesi’nya dengan jalan hidup yang diresapinya sendiri. Ia pun tak sungkan berbagi cerita manis pahitnya menjadi waria, soal pekerjaannya, maupun interaksi dengan keluarga dan kehidupan beragama secara apa adanya.

Film ini menjadi salah satu film yang menjadi perbincangan menarik terkait soal bagaimanakah cara kita menimbulkan jiwa toleransi. Sepanjang diskusi yang berjalan, audiens menyepakati bahwa toleransi yang digaungkan selama ini kaitannya bukan hanya agama saja. Namun juga perlu menciptakan pemahaman soal bersikap toleran dari segi orientasi seks, kaum-kaum marginal seperti anak punk, dan berbagai segi kehidupan yang lain. Toleransi sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis yakni, toleransi domestik dan toleransi publik. Jika toleransi domestik berkutat pada domain keluarga, maka toleransi publik berada pada lingkup kehidupan sosial di masyarakat yang lebih luas. Semangat bertoleransi demi kepentingan publik inilah yang seharusnya menjadi landasan dalam bernegara.

Kaitannya dalam toleransi publik seperti saat pemerintah membuat suatu peraturan baru bagi masyarakat. dengan pertimbangan toleransi publik, semestinya mempertimbangkan apakah peraturan baru itu memenuhi kebutuhan hukum dan kemampuan akan kondisi masyarakat untuk mematuhinya. Pada akhirnya acara menonton film bersama ini ialah suatu usaha untuk menumbuhkan semangat toleransi dalam menyikapi segala bentuk perbedaan.

*) Penulis ialah GusDurian Yogyakarta yang sedang menempuh Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada dan berdomisili di Padang-Yogyakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top