Celoteh Santri Gus Dur

Mengapa Takut Mengucapkan Selamat Natal?

©istimewa

©istimewa

Oleh: Muhammad Autad An Nasher*

Salam sejahtera dilimpahkan kepadaku

pada hari aku dilahirkan, diwafatkan,

dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.

[QS. Maryam (19):33]

Tidak ada habisnya tenaga dan pikiran orang Indonesia setiap tahun untuk selalu berdebat mengenai ucapan Selamat Natal. Perdebatan saat ini pun terlihat lebih masif bila dibandingkan zaman dahulu ketika belum ada internet dan android. Sewaktu lagi boomingnya fesbuk tentu kita bisa melihat banyak dari para netizen yang ramai membincangkan status hukum mengucapkan Selamat Natal.

Akan tetapi saat ini jauh lebih gaduh dibandingkan dengan era dahulu. Karena sudah ada aplikasi canggih seperti Whatsapp dan BBM yang bisa mengirimkan pesan (broadcast) ke siapapun yang dikehendaki. Terlebih obrolan di grup-grup. Di satu sisi saya bersyukur bahwa bangsa kita berani mengeluarkan opininya, hak berdaulat atas pendapatnya terpenuhi. Tidak seperti era Orde Baru yang lebih banyak bungkam dan sendiko dawuh terhadap kekuatan politik saat itu. Termasuk soal keagamaan. Namun di sisi lain saya justru menganggap kalau perdebatan lewat media sosial sekarang ini jauh lebih berisik dan mengganggu pandangan mata saya ketika membaca notifikasi.

Dan, kegelisahan saya, mengapa orang Indonesia dan teman-teman saya lebih hobi untuk memperdebatkan mengucap Selamat Natal dibanding dengan mengucap ‘selamat’ keagamaan kepada saudara-saudara Non-Muslim yang lain. Misal seperti Waisak, Nyepi, dan Cap Gomeh, atau mungkin yang lain. Dan mengapa juga sebagian umat Islam (oknum tertentu) rela berduyun-duyun memasang spanduk-spanduk yang bertuliskan ‘haram mengucapkan selamat natal’. Begitu ngeri-kah ucapan selamat natal itu? Saya pribadi pun tidak habis pikir.

Ya, saya tahu, kalau hubungan Islam-Kristen pernah ada luka sejarah, itu pun sudah berabad-abad yang lalu akibat dari perang salib. Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah kita ingin terus-terusan melakukan propaganda perpecahan yang sudah ratusan tahun silam dengan mengulang rekaman melalui pelarangan mengucap selamat natal dengan spanduk.

Oke, saya pribadi tidak ada soal dengan perbedaan, baik yang pro maupun yang kontra terkait hukum mengucap selamat natal. Saya menghormati itu. Tetapi sungguh tidak etis manakala bila sebagian umat Islam yang kurang sepakat itu kemudian mencoba melakukan provokasi dengan spanduk besar bertuliskan ‘haram’. Saya kemudian teringat dengan status teman saya, bahwa kedewasaan seorang itu tidak diukur dari usia, tetapi dari sikap dan cara berpikir. Termasuk dalam hal beragama.

Natal dan Firman Tuhan

Natal, adalah hari di mana umat Nasrani merayakan kelahiran Isa al-Masih/Yesus Kristus, yang tiap tahunnya, perayaan ini digelar tepat pada tanggal 25 Desember (walaupun ada sebagian yang berpendapat bahwa Isa al-Masih lahir bukan pada tanggal tersebut). Namun, diakui secara dunia internasional bahwa tanggal itu merupakan perayaan Natal. Berbeda dengan kaum Muslimin, yang kerap berbeda dalam merayakan euforia Idul Fitri dan Idul Adha ihwal penentuan tanggal, seperti lebaran hari qurban tahun ini, misalnya. (Agaknya kita bisa berkaca kepada mereka mengenai perbedaan hari raya mengapa bisa kompak)

Ada banyak hal kalau kita sedang membicarakan soal Natal. Mulai dari bagaimana sejarah dari perayaan Natal itu sendiri, dan apa makna di balik perayaan itu semua. Seperti halnya di dalam tradisi keagamaan kita yang memiliki kesamaan; mengapa ada perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini saya sebenarnya bukan ingin melakukan kritik terhadap kapan tanggal sosok tokoh besar agama itu dilahirkan. Namun, saya pribadi menjadi risih manakala lahir sebuah fatwa ‘haram’ dari kaum agamawan mengenai ucapan “Selamat Natal”.

Tentu sejarah sudah mencatat bahwa fatwa haram tentang Natal menggelinding oleh MUI pada tahun 1981. (Lihat: Himpunan Fatwa Mejelis Ulama Indonesia 1417H/ 1997, halaman 187-193). Yang sampai saat ini, fatwa tersebut masih menjadi polemik di tengah masyarakat. Tak jarang malah dipelintir oleh oknum tertentu dan digunakan sebagai amunisi untuk melakukan propaganda.

Dalam al-Qur’an, QS. Maryam: 33 berbunyi, “Wassalamu ‘alayya yawma wulidtu wayauma amuutu wayauma ub’atsu hayya”. Ayat tersebut begitu terang menjelaskan bahwa al-Qur’an mengabadikan kelahiran Isa A.s. Artinya, kelahiran Isa atau Yesus yang saat ini dikenal dengan Natal telah diakui oleh kitab suci al-Qur’an. al-Qur’an juga menceritakan kalau kelahiran Isa a.s adalah mukjizat. Kekuasaan Allah Swt. (QS. Al-Anbiya: 91). Yang lahir dari rahim Sayyidah Maryam, yang hamil tanpa melakukan hubungan (setubuh) layaknya suami istri. Masih suci.

Dengan demikian, jika umat Islam memercayai kitab suci al-Qur’an sebagai kalamullah yang telah mengabadikan hari kelahiran Isa as, apakah masih enggan kita mengucapkan Selamat Natal kepada yang tengah merayakan?

Oleh sebab itu, mengucapkan Selamat Natal dalam teologi keimanan kita, dalam hemat saya, berarti menganggap Isa/Yesus itu sebagai manusia (QS. Ali Imran: 59), karena dilahirkan. Justru, cara berpikir mengakui bahwa Isa al-Masih (di)lahir(kan), yang mana mempunyai awal dan akhir, berarti menganggap Isa itu sebagai manusia (karena lahir). Bukan Tuhan. Mengakui kelahiran Isa, berarti mengakui keberadaanya sebagai nabi, hamba dan utusan Allah (QS. Maryam: 30 dan QS. Al-Ma’idah: 75). Bukankah hal itu merupakan ajaran yang paling dasar dalam keyakinan umat beragama?

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sendiri pun pernah menyatakan dalam sambutannya kepada umat Kristen/Nasrani, pada 27 Desember 1999. “Mestinya..yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah juru selamat seluruh umat manusia, bukan juru selamat umat Kristen saja. (Dr. Jan S Aritonang. 2004: 530)

Misi Isa dan Muhammad

Misi Nabi Isa lahir ke bumi adalah membela yang lemah, membebaskan yang tertindas, dan mengulurkan semua yang membutuhkan. Seperti halnya misi Nabi Muhammad Saw.,rahmatan lil’alamin. (QS. Al-Anbiya’: 107).

Bahkan, Nabi Isa al-Masih yang telah di rafa’ oleh Allah Swt ke langit (QS. An-Nisa’: 158), yang kemudian akan diturunkan kembali lagi ke bumi pada menjelang hari kiamat nanti; mempunyai tujuan yang sama sebagaimana sewaktu Ia sebelum di rafa’ (diangkat ke langit) oleh Allah Swt. Yakni, membawa kedamaian dan rahmat untuk semesta alam.

Diakui, selama ini, hubungan di antara kedua agama, Islam dan Kristen, kerap diisi berbagai peristiwa yang seolah menggambarkan suasana konfliktual. Peristiwa sekecil apapun jika terkait dengan kedua agama itu, lalu digambarkan menjadi masalah yang dapat membangkitkan memori perang salib yang tragis. (Zuhairi Misrawi, 2010: 20). Karenanya, jangan sampai kita mewarisi ‘dosa sejarah’ yang telah ditimbulkan pada masa silam. Cukup peristiwa itu dijadikan sebagai masa lalu, yang sudah biarlah sudah.

Tugas kaum agamawan adalah bagaimana merajut kembali tali kasih yang sempat putus tersebut, dengan cara menebarkan benih-benih kedamaian kepada semua umat manusia. Itulah sebenarnya misi Nabi Isa A.s dan Nabi Muhammad Saw. Mari kita mohonkan shalawat dan salam untuk mereka berdua. Apalagi perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw berselang satu hari dari perayaan Natal. Justru ini adalah momentum kita bersama untuk menebar kasih sayang dan perdamaian bersama.

Kalau kita memang benar-benar iman kepada al-Qur’an dan juga beriman kepada Nabi-nabi sebelum Rasulullah Saw. Lantas, mengapa kita masih enggan mengucapkan “Selamat Natal” kepada saudara kita yang Nasrani, yang mempunyai akar kenabian (genealogi) yang sama; bertemu pada Nabi Ibrahim A.s. Allah Swt sendiri pun berfirman; “Wassalamu ‘alayya yawma wulidtu wayauma amuutu wayawma ub’atsu hayya”. Sebuah pesan perdamaian dan kemanusiaan universal, mengapa harus diharamkan? Wallahhua’lam.

 

 

Muhammad Autad An Nasher. Penulis adalah pegiat di Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari: http://www.gusdurian.net/id/article/headline/Mengapa-Takut-Mengucapkan-Selamat-Natal/

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top