Celoteh Santri Gus Dur

Mengucapkan Selamat Natal Setara dengan Syahadat?

Oleh: C K Kaliwangsa

Setiap menjelang perayaan hari natal dan tahun baru, masyarakat disuguhi banyak lelucon yang diucapkan oleh sebagian kalangan. Terkadang, lelucon itu benar-benar membuat siapa pun merasa bingung, aneh, dan ‘lucu’. Lucu dalam arti ‘kok ada yang bisa berpikir seabstrak itu’.

Salah satu lelucon yang sering dilontarkan oleh beberapa kalangan (dan dengan lugunya dishare oleh sebagian masyarakat) adalah mengenai analogi mengucapkan selamat natal sama dengan mengimani konsep trinitas. Karena, menurut mereka, natal adalah perayaan memperingati kelahiran Yesus Kristus yang membawa ajaran trinitas. Jika mengucapkan selamat natal, otomatis mempercayai adanya konsep trinitas, dan hal ini bisa merusak akidah seseorang.

Dari sini pertanyaan saya muncul. Apa hubungannya mengucapkan selamat natal dengan trinitas? Apa pula hubungannya dengan perusakan akidah?

Padanan kata natal adalah maulid. Natal diambil dari bahasa latin natalis yang artinya kelahiran. Istilah natalis biasa digunakan untuk memperingati kelahiran atau ulang tahun, seperti yang biasa dilakukan di kampus saya; dies natalis. Dalam konteks 25 Desember, kata ini bermaksud kelahiran Yesus Kristus (Isa Al-Masih), seorang juru selamat yang disebut-sebut sebagai tokoh pembawa agama Kristen. Dalam Islam, Isa Al-Masih alaihi as-salam merupakan salah seorang Rasul Allah yang wajib diimani.

Sementara kata maulid menunjukkan makna yang sama. Hanya saja pengertian peringatan maulid selalu identik dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan kalender hijriah. Sama dengan Isa AS, Nabi Muhammad SAW juga salah seorang Nabi yang wajib diimani dalam Islam. Untuk menjadi muslim, seseorang harus berikrar syahadat kepadanya, bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Kedua tokoh besar ini membawa misi untuk memperbaiki kondisi masyarakat bumi yang rusak moralnya. Untuk alasan moral ini, Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan dalam sebuah hadis yang kurang lebih artinya ‘sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia’. Diutusnya Isa Al-Masih/Yesus Kristus dan Muhammad SAW sama-sama untuk memerangi tindakan jahil yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya.

Yesus diutus di saat masyarakat mulai melupakan ajaran para nabi, bahkan banyak tokoh-tokoh waktu itu mengubah ayat-ayat Tuhan untuk kepentingannya sendiri. Sementara Nabi Muhammad SAW diutus di tengah kondisi masyarakat Arab jahiliah yang menyembah patung berhala serta memiliki prilaku yang buruk, misalnya mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru lahir. Kedua kisah Nabi di atas memiliki beberapa kesamaan terkait konteks diturunkannya ajaran yang mereka bawa untuk memperbaiki moral.

Terkait Natal, beberapa tokoh agama di Indonesia pernah memberikan tawaran menarik. Said Agil Siradj misalnya, memperbolehkan umat muslim mengucapkan selamat natal karena Isa As merupakan salah satu nabinya umat Islam. Mengenai perbedaan persepsi dengan umat kristiani yang menyebut kelahiran anak Tuhan, hal tersebut menurutnya tidak perlu menjadi alasan tidak bolehnya mengucapkan selamat. Namanya beda agama sangat wajar beda persepsi. Jika seluruh agama satu persepsi dalam hal akidah, maka tidak akan terjadi keragaman di dunia. Yang paling penting adalah masing-masing pemeluk agama menjalankan fungsi agamanya secara benar, yaitu mewujudkan kehidupan yang harmonis, damai dan adil. Tokoh lain yang berpendapat serupa adalah Din Syamsuddin. Bagi ketua MUI Pusat ini, asal tidak melibatkan keyakinan, ucapan selamat natal boleh-boleh saja.

Mengucapkan selamat Natal bagi muslim, atau selamat memperingati maulid Nabi Muhammad SAW bagi non-muslim, sama sekali tidak berkaitan dengan ikrar mempercayai kepercayaan masing-masing agama. Orang Kristen tidak akan otomatis masuk agama Islam dengan mengucapkan selamat maulid, sebaliknya umat Islam pun tidak akan masuk kristen jika mengucapkan selamat natal. Karena pada dasarnya soal agama adalah soal keyakinan, soal keyakinan adalah soal hati, soal hati adalah soal hidayah. Soal hidayah adalah urusan Tuhan. Ucapan selamat pada hari-hari besar tertentu kepada pemeluk agama lain harusnya dimaknai sebagai sikap memupuk toleransi, bukan perusakan akidah.

Sebuah tulisan singkat masuk ke hp saya, isinya tentang peringatan larangan mengucapkan natal. Di tulisan tersebut menganalogikan mengucapkan natal sama dengan mengacapkan dua kalimat syahadat.

Jika ada yg memaksa utk mengucap selamat natal, maka paksa dia mengucap syahadat. Krn esensi ucapan trsebut sm dgn ucapan syahadat.

Sejenak saya takjub pada sang penulis, karena menganggap semua orang terlalu bodoh menyamakan ucapan selamat atas lahirnya seseorang dengan syahadat. Sebuah logika yang sangat bertentangan dengan akal sehat manusia. Jika pun ada orang yang tidak berkenan mengucapkan selamat karena pandangan pribadi, saya tidak mempermasalahkan dan menghargai pilihannya. Tetapi memprovokasi orang lain dengan alasan dan logika yang keliru bahkan cenderung menyesatkan, maka hal ini perlu diluruskan.

Pada akhirnya sebagai seorang muslim saya mengucapkan kepada seluruh umat Islam untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Sebagai seorang muslim pula saya mengucapkan selamat merayakan Natal bagi umat kristiani. Semoga dua peringatan besar ini menuntun kita untuk menjadi pribadi yang toleran dan menjadi manusia yang penuh kasih sayang. Dan, semoga bagi Muslim tidak perlu pindah agama karena mengucapkan ‘Selamat Natal’. Begitu juga dengan umat Kristiani, tidak perlu juga tiba-tiba pindah agama karena mengucapkan ‘Selamat Maulid Nabi Muhammad’. Karena geger-geger-an ihwal ucapan selamat sejatinya bukan persoalan ‘hukum’ mengucapkannya, tetapi ini persoalan kedewasaan dalam beragama. Bukan begitu?

*Penulis adalah Pegiat di Komunitas Santri Gusdur Jogja

1 Comment

1 Comment

  1. Bagus Sajiwo

    December 25, 2015 at 1:25 pm

    Setuju banget
    (y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top