Review Buku

Menjaga Toleransi Seutuhnya

Oleh: Zaenal Arifin* 

Manusia adalah makhluk individu sekaligus sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial tentunya manusia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam menjalani kehidupan sosial dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang berbeda dengannya, salah satunya adalah perbedaan agama.

Dalam menjalani kehidupan sosialnya tidak bisa dipungkiri akan ada gesekan-gesekan yang akan dapat terjadi antar kelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan ras maupun agama. Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghormati dan saling menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan pertikaian dapat dihindari. Masyarakat juga dituntut untuk saling menjaga hak dan kewajiban di antara mereka antara yang satu dengan yang lainnya.

Maka dari toleransi adalah hal yang biasa kita dengar namun sulit untuk di terapkan dalam kehidupan sehari-hari,karena hal ini toleransi menyangkut  hidup orang banyak baik di level lokal maupun nasional. Mengapa demikian? Karena toleransi perlu dan harus di terapkan dalam masyarakat agar tercipta hidup yang rukun dan agamis.

Toleransi tidak hanya menyangkut agama saja namun bagaimana kita memahami tentang kehidupan ini dengan berasaskan hukum yang sah dan berlaku di masyarakat hal ini juga menunjukkan bahwasanya toleransi harus tumbuh di tengah masyarakat banyak agar tercipta kehidupan yang rukun dengan sedemikian banyak masyarakat yang kompleks.

Namun peranan agama dalam memperkuat perdamaian sangat dominan hal ini membuktikan banyak kekerasan ahir-ahir ini mengatasnamakan agama ini perlu kita ketahui bahwasannya semua agama tidak mengajarkan tentang kekerasan, semisal agama yang sudah tumbuh pesat di negara ini antara Islam dan Budha, kedua agama ini membuktikan bagaimana mampu menggambarkan tentang sikap cinta damai terhadap saudara, baik tentang keyakinan beragama atau dengan yang lain, karena persoalan keyakinan tidak bisa berubah dengan jarak yang sangat singkat dan butuh waktu yang panjang.

Dengan demikian, dialog antar agama sangat diperlukan agar tidak tercipta hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Hal ini membuktikan bahwa sangat penting hadirnya dialog antar agama agar tercipta rasa toleransi antar masyarakat. Kedua agama antara islam dan Budha juga memiliki ajaran yang berbeda, namun dibalik perbedaan itu, jelas kedua agama tersebut memiliki visi yang sama; yaitu perdamaian. Semisal yang terjadi dialog tokoh besar di dalam buku Dialog Peradaban untuk Toleransi di dalam buku ini, antara Gus Dur dan Ikeda, keduanya mengatakan bahwasanya kehidupan itu harus sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, yaitu tentang perdamaian antar pemeluk agama. Kedua tokoh besar tersebut mengatakan bahwasanya perdamaian harus kita tegakkan dan tidak ada kekerasan bagi agama kecuali orang yang tidak paham atas ajaran agamanya.

Hubungan persahabatan antar agama akan tercipta kerukunan dan perdamaian secara menyeluruh melalui persahabatan antar agama. Hal ini akan membuktikan pentingnya saling menghargai dan menyayangi antar sesama dan kemudian akan tercipta toleransi dalam kehidupan masyarakat yang plural dan berbhineka tunggal ika. Mengapa penting menjaga toleransi? karena toleransi terlahir atau timbul dari diri kita sendiri tanpa adanya paksaan dari orang lain, sehingga kita mampu memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing diantara kita sebagai umat manusia. Otomatis, peranan agama dalam kehidupan sosial masyarakat sangat penting untuk misi perdamaian ke depan untuk membangun peradaban yang jelas di masa yang akan datang.

Persahabatan antar agama sudah dijalin antara Gus Dur, dari umat Islam, dan bapak Ikeda, dari kalangan non muslim. Keduanya mengatakan bahwa agama itu terletak pada aktivitas pengabdian terhadap masyarakat secara luas. Selain misi agama harus dilaksanakan juga misi kemanusiaan serta misi sosial terhadap masyarakat.

Para pemimpin agama tentu bertanggung jawab atas kebahagian umatnya, namun demikian diluar peranan itu sebagai tuntutan zaman globalisasi saat ini para pemeluk agama dituntut juga untuk berperan sebagai cendikiawan masyarakat dan para pemimpin agama memberikan respon dan solusi  atas permasalahan yang ada di antara kelompok masyarakat. Seperti yang di gagas oleh bapak guru bangsa, Gus Dur, yang telah membuktikan sebagai cendekiawan juga sebagai pimpinan besar umat beragama.

Oleh karena itu, semua agama sepakat bahwasanya perdamaian arus tercipta di setiap komunitas yang ada di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwasanya ruh agama itu sangat perlu untuk ditanamkan pada diri setiap manusia agar tercipta rasa toleransi yang hakiki dan bermakna untuk kehidupan ini.

Menurut bapak Ikeda, nafas pendidikan merupakan basis toleransi yang tetinggi dalam kehidupan. Orang yang tinggi dalam pendidikan akan menjadi orang yang paling unggul. Mengingat bahwa bukti kegemilangan umat manusia itu terletak pada pendidikannya. Oleh sebab itu, pendidik adalah bukti terunggul. Dengan demikian, buku ini ingin menjelaskan betapa sikap toleran dan dialog antara umat beragama menunjukkan tingkat peradaban seseorang. Dan keduanya, pendidikan dan toleransi, berpijak pada penghormatan dan simpati terhadap jiwa orang lain. Disitulah peradaban seseorang ditentukan.

*Penulis adalah pegiat Komunitas Santri Gusdur, asal Bondowoso.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top