Celoteh Santri Gus Dur

Mbah Ali dan Gus Dur: Sang Ulama’ Beda Generasi Satu Pemikiran

©istimewa

©istimewa

Oleh: Inayatul Mas’adah

Dalam rangka memperingati haul KH. Ali Maksum dan KH. Abdurrahman Wahid, Ponpes Ali Maksum Komplek Hindun Annisa bersama Komplek Gedung Putih menggelar acara shalawat dan tahlil bersama untuk mengenang kedua tokoh besar tersebut. Acara ini diselenggarakan pada malam Jumat, tepatnya pada tanggal 04 Januari 2018. Selain itu, acara yang bertempat di gedung pengajian Ponpes Ali Maksum ini juga diisi dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Nilzam Yahya. Tema yang diusung dalam mauidhoh tersebut yakni “Melacak Hubungan Mbah Ali dan Gus Dur dalam NU dan Keindonesiaan”.

Sebagaimana diketahui, KH. Ali Maksum dan KH. Abdurrahman Wahid adalah dua tokoh ulama besar dalam NU. Hal ini tak lain karena keluasan ilmu dan keagungan akhlak keduanya. Dalam muidhohnya, KH. Nilzam menyebut bahwa Mbah Ali adalah sosok ulama’  yang memiliki keistimewaan dikarenakan cara bersikap beliau dalam memandang berbagai persoalan yang bisa dibilang sangat demokratis. Hal tersebut juga dimiliki oleh Gus Dur. Meskipun beliau berdua merupakan ulama yang hidup dalam lingkungan tradisionalis pesantren, namun hal itu tidak mengungkung cara berpikir beliau berdua.

KH. Nilzam sempat menceritakan bahwa di era tahun 1990-an sempat terjadi ketegangan ketika Gus Dur yang pada masa itu menduduki Ketua Tanfidziyah NU justru bergabung menjadi juri FFI (Festival Film Indonesia). Hal ini memicu pro-kontra di kalangan warga NU, lebih-lebih di kalangan para ulama sepuh. Salah satu yang memprotes keras tindakan Gus Dur ini adalah KH. As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad menilai, bahwa langkah Gus Dur ini nyeleneh. Menurut beliau, bagaimana bisa seorang ketua Tanfidziyah NU malah bergabung menjadi juri “ketoprak”, di mana dalam pandangan beliau hal tersebut mengandung banyak kemudharatan. Disebabkan hal ini, kemudian Kiai As’ad pun mufaraqah dari kepemimpinan Gus Dur sebagai ketua Tanfidziyah.

Di sisi lain, sikap berbeda justru ditampakkan oleh KH. Ali Maksum. Pada waktu itu, Mbah Ali menjabat sebagai Ra’is Am Syuriyah PBNU. Mbah Ali yang pada masa itu bisa dibilang sebagai tokoh utama dalam NU, justru mendukung Gus Dur menjadi juri FFI. Hal ini menunjukkan bagaimana seorang Mbah Ali yang notabene adalah kiai sepuh, namun beliau memiliki pemikiran yang luas dan sangat demokratis. Selain itu, ada pelajaran penting lain yang bisa diambil, yaitu mengenai sikap Kiai As’ad. Meskipun beliau memutuskan untuk mufaraqah dari kepemimpinan Gus Dur, namun beliau tetap menegaskan bahwa dirinya tetaplah NU. Beliau memang tidak setuju dengan langkah yang diambil oleh Gus Dur, namun beliau tetap menghormatinya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita para santri bahwa para ulama guru-guru kita sangatlah menjunjung tinggi sikap saling hormat dan bertata krama meskipun terjadi silang pendapat di antara mereka.

Pada kesempatan itu pula, KH. Nilzam menceritakan kisah bagaimana ketawadhu’an Mbah Ali. Kisah ini terjadi pada saat diselenggarakannya muktamar NU pada tahun 1981 yang bertempat di Kaliurang, Yogyakarta. Pada muktamar tersebut, para ulama dan warga NU telah bersepakat untuk memilih KH. Ali Maksum menjadi Rais Am PBNU. Akan tetapi, KH. Ali Maksum tidak bersedia menerima jabatan tersebut. Sikap beliau ini karena beliau sadar betul atas besarnya amanah yang akan ditanggung oleh beliau. Bahkan untuk menghindari agar beliau tidak terpilih, beliau sampai memilih tidak menghadiri perhelatan akbar tersebut. Namun, karena pada waktu itu beliaulah satu-satunya yang dianggap mampu dan pantas menerima jabatan tersebut, akhirnya oleh para kiai lain beliau dijemput dan dimohon agar beliau bersedia menerima jabatan tersebut. Akhirnya, dengan berat hati Mbah Ali pun bersedia menerima jabatan tersebut. Bukan ucapan syukur yang beliau ungkapkan, melainkan beliau justru sangat bersedih dan menangisi pengangkatannya itu.

Tak kalah mulianya dari Mbah Ali, Gus Dur juga merupakan sosok kiai panutan yang selalu memberikan suri tauladan bagi para santri dan orang di sekelilingnya. KH. Nilzam merangkum ada sembilan pemikiran Gus Dur yang senantiasa dipegang oleh beliau. Kesembilan pemikiran Gus Dur itu antara lain: ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, kesatria, kesederhanaan, mengakui nilai kearifan lokal, dan ahli silaturrahim.

Menurut KH. Nilzam, Gus Dur merupakan sosok yang sangat dicintai oleh umat. Tak hanya dari kalangan mayoritas, seperti  warga NU, namun juga dari kalangan minoritas. Hal ini karena Gus Dur adalah seorang yang teguh memegang prinsip keadilan dan kemanusiaan. Dalam menegakkan kedua prinsip tersebut, beliau tidak pandang bulu, tanpa melihat latar belakang agama, suku, ataupun golongan.Seperti halnya ketika beliau memperjuangkan hak penganut Konghucu karena beliau memandang bahwa mereka sama seperti manusia lainnya yang patut menerima hak yang sama.Selain itu, Gus Dur juga terkenal sebagai sosok yang sederhana. Tidak hanya sekali atau dua kali kita mendengar bahwa Gus Dur tidak memiliki uang dan meminjam kepada putrinya, bahkan untuk ukuran yang terbilang sedikit.

Hal-hal tersebutlah yang menjadi alasan mengapa kedua sosok kiai tersebut pantas untuk kita jadikan suri tauladan baik dalam akhlak maupun keilmuannya. Sudah seharusnya kita sebagai santri mengikuti jejak para guru kita, menjaga apa yang telah beliau wariskan, dan meneruskan perjuangan mereka. Sehingga, apa yang telah beliau ajarkan dan perjuangkan tidak akan hilang sia-sia. Selain itu, ini juga menjadi wasilah bagi kita untuk mendapatkan keberkahan dari beliau-beliau. Semoga apa yang telah diperjuangkan oleh guru-guru kita ini menjadi amal jariyah yang selalu mengalir pahalanya. Wallahu a’lam

 

Penulis adalah santriwati Gedung Putih Krapyak, sedang menempuh S-1 di UIN Sunan Kalijaga Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top