Gus Dur dalam Pena

Sebuah Cerita untuk Gus Dur

©istimewa

©istimewa

Oleh: Joko Pinurbo

 

Saya penduduk baru di kampungitu. Setelah

seminggu mendekam saja di rumah, akhirnya

saya berkenalan dengan seorang penduduk lama

yang supel dan ramah. Ternyata saya dan dia

sama-sama penyuka kopi yang sulit bangun pagi.

 

Suatu sore ia mengajak saya ngopi di rumahnya.

Ia menghidangkan kopi tokcer dan kue enak.

Kami berbahagia bersama, berbincang tentang

hubungan antara kopi, rindu, dan insomnia.

 

Saat saya bersiap pulang, tiba-tiba ia bertanya,

“Eh, agamamu apa?” Kepala saya tuing-tuing.

saya berpikir apakah kopi tokcer dan kue enak

yang membahagiakan itu mengandung agama.

Sambil buru-buru undur diri, saya menimpal,

“Tuhan saja tidak pernah bertanya apa agamaku.”

 

(2016)

 

Diambil dari Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi (2017)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top