foto santri

Laskar Santri Anti Korupsi: dari Pesantren untuk Indonesia

Yogyakarta, Santrigusdur.com- Halaqah nasional alim ulama’ nusantara dengan tema “Membangun Gerakan Pesantren Anti Korupsi” yang terselenggara selama tiga hari, 27-29 Juli 2015, di Hotel Santika Yogyakarta, berakhir kemarin (Rabu/29).

Adanya acara tersebut merupakan sebagai wujud keprihatinan terhadap masalah yang terjadi pada bangsa Indonesia yang kini sudah memasuki stadium 4. Jaringan Gusdurian, sebagai komunitas yang konsisten melakukan perlawanan terhadap praktik korupsi dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai organisasi kemasyarakatan yang terus berjuang melawan korupsi, bersama ingin menyuarakan gerakan anti korupsi ke ranah yang lebih luas, yakni ke bilik-bilik pesantren. Mengingat, Nahdlatul Ulama’ dan Gus Dur, tidak bisa terlepas dari dunia pesantren.

Lalu, apa pesan dari Alissa Wahid, selaku koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian mengenai acara tersebut, terutama untuk di sampaikan kepada seluruh penggerak Gusdurian di seluruh Indonesia.

Menurut Mbak Alissa, pesan apa yang bisa disampaikan kepada seluruh teman-teman Gusdurian atas terselenggaranya acara halaqah ini?

Halaqah ini adalah langkah awal, atau sebetulnya langkah di tengah-tengah, karena concern kita soal korupsi sudah lama. Kita tahu dari 4 ranah perjuangan Gus Dur sebagai mujadid (pembaharu). Sebagai Pemimpin umat di dalam dunia keagamaan. Dilengkapi dengan peran beliau sebagai pejuang di ranah kultural dan kebijakan negara. Dan semua muaranya adalah pada ranah kemanusiaan. Dan korupsi menyentuh semuanya.

Karena itu, para Gusdurian di berbagai daerah dan sektor juga perlu melihat isu ini sebagai isu yang cukup sentral di dalam membangun kemaslahatan umat. Kita sejak lama melakukan gerakan sosial anti korupsi. Namun, langkah dari halaqah ini lebih spesifik menyasar para kalangan pesantren dan nahdliyin. Karena itu, kita mengharapkan Gusdurian di berbagai tempat ikut terlibat aktif.

Dalam jangka dekat ini, rencana apa yang akan direalisasikan setelah terselenggaranya halaqah oleh para alim ulama’ se-nusantara?

Ya, setelah ini ada tindak lanjutnya, sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Ahmad Ishomuddin, bahwa hasilnya nanti akan disampaikan pada Muktamar NU besok pada 1-5 Agustus di Jombang. Dan, lanjutannya lagi adalah kita akan membuat laskar santri anti korupsi, dan itu akan kita percepat. Sebab, seharusnya hal ini kita fokuskan pada tahun depan, setelah muktamar. Tetapi, dengan adanya PILKADA dan melihat kondisi gerakan anti korupsi yang terjadi berbagai kriminalisasi, maka saat ini kita berpikir untuk mempercepat laskar santri anti korupsi. Nanti dimana laskar santri anti korupsi fokusnya adalah pendidikan-pendidikan di pesantren terkait dengan nilai nilai dan seluk beluk korupsi.

Pendidikan anti korupsi seperti apa yang ingin diberikan kepada para santri?

Ya, itu nanti sudah dibuatkan kurikulumnya oleh tim, dan di antara dari hasil halaqah ini adalah bagaimana nantinya para santri faham tentang tiga puluh jenis korupsi. Karena hal itu penting. Santri perlu menjauhkan diri dari korupsi. Santri juga perlu tahu seluk beluk korupsi, karena banyak koruptor itu makin canggih modusnya. Atau soal seberapa kerugian masyarakat akibat dana yang dikorupsi. Misalkan seperti kemarin ketika kita melihat angka 2 juta triliun yang telah dikorupsi, belum lagi, kerugian di sektor Sumber Daya Alam yang nggak tanggung-tanggung, 150 Triliun setahun. Belum lagi, kerugian di pelabuhan-pelabuhan tikus sekian T pertahun. Nah, yang kaya gitu2 lho… yang sungguh memprihatinkan dan santri harus tahu dampak darinya.

Oleh sebab itu, hal-hal yang demikian itu santri perlu mengerti bahwa itu ada amanat rakyat yang digunakan. Jadi sebagai masyarakat yang meyakini bahwa agama menjadi tuntunan dalam bersikap berperilaku bahkan membangun sistem masyarakat. Mestinya santri-santri dan kalangan nahdliyin itu menjadi barisan terdepan memerangi itu. (ubed/autad).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top