Celoteh Santri Gus Dur

Gus Dur Menggapai Publik

© istimewa

© istimewa

Oleh: Agung Hidayat Aziz*

Di dalam ruang kerja Wahid ada beberapa pembantu Wahid termasuk Chaeruddin. Sempat hening sejenak. Kemudian Agum Gumelar mendekati Wahid yang penglihatannya kurang baik.

“Saya Agum Gumelar, menteri Bapak, ingin menyampaikan pandangan dan saran. Kalau Presiden mengeluarkan dekrit, keadaan tidak akan bertambah baik, tapi semakin memburuk, dan ini juga menyangkut nama baik serta reputasi Presiden. Saran saya, janganlah dekrit dikeluarkan demi keselamatan bangsa.”

Tiba-tiba Wahid berdiri sambil berteriak sekeras-kerasnya, “Kalian semua banci!” Teriakan Wahid sedemikian kerasnya sehingga mengundang perhatian orang luar. Beberapa pengawal presiden menyerbu masuk. Agum Gumelar kaget. Wahid terlihat emosional dan napasnya terengah-engah. Menurut penuturannya pada Forum, Gumelar memegang tangan Wahid, “Bapak Presiden, saya membantu presiden dan tidak menginginkan presiden mengambil keputusan yang keliru.”

“Sudah saya putuskan!” teriak Wahid.

“Kalau tidak setuju dengan dekrit, maka silakan pisah. Kalau setuju dengan dekrit, maka ikut saya.” Suasana tak nyaman. Gumelar pun mengajak Widodo keluar[1]

Cuplikan adegan tersebut dikutip dari laporan panjang Majalah Pantau September 2001 yang dinarasikan oleh Andreas Harsono dan kru majalah lainnya. Sedikit gambaran, reportase tersebut bercerita tentang kisruh pra pemakzulan Gus Dur dari sudut pandang hiruk pikuk di media massa dengan latar pencopotan dan pengangkatan kapolri baru (tak lupa pula soal dekrit). Televisi, khususnya, dinilai tidak berimbang dalam menyampaikan berita. Vis a vis antara eksekutif dengan legislatif menampilkan narasumber yang “terlihat” pro terhadap parlemen.

Komunikasi Publik dan Komunikasi Politik Gus Dur

Walau konsep kedua komunikasi ini punya level berbeda, namun saya akan coba membuat irisan yang bisa membersamai diskusi kali ini. Harapannya agar diskusi tidak terlalu sempit. Mengingat tokoh seperti Gus Dur ialah pribadi yang kosmopolit, dimana segala tindak tanduknya dapat ditafsirkan dengan ragam konsep komunikasi.

Komunikasi Publik sering disebut sebagai komunikasi massa, meski komunikasi massa lebih spesifik, yakni komunikasi melalui media massa. Lantaran pemuatan informasi yang memang ditujukan kepada publik seringkali menggunakan media massa. Karena intinya adalah penyampaian pesan kepada orang banyak (publik). Pada level ini saya ingin mendiskusikan keterlibatan politik praktis Gus Dur yang dilihat publik luas saat dan pasca menjabat sebagai presiden dari sudut pandang komunikasinya. Kasus 2001 yang saya paparkan diawal hanya sekelumit kisah karakter komunikasinya yang banyak dinilai orang tak terduga, unik, nyleneh serta spontan.

Pada Pemilu 2004[2], misalnya, tidak ada yang mengira Gus Dur akan membangun komunikasi politik secara intensif dengan Partai Golkar dan Wiranto. Padahal, sewaktu menjadi Presiden, Gus Dur dengan berani memberhentikan Wiranto dari jajaran kabinetnya. Perbedaan dengan Golkar dan Wiranto tidak lantas membuat Gus Dur bersikap kaku.

Ia tidak alergi untuk bertemu, mendengar dan membangun kerjasama dengan orang atau kekuatan politik yang pernah bersebrangan dengannya. Pada saat dirinya tidak lolos menjadi calon Presiden pada pemilihan Presiden secara langsung akibat persyaratan yang dibuat KPU, Gus Dur memilih untuk Golput. Secara bersamaan dia juga merestui pasangan Wiranto-Solahuddin untuk didukung kaum Nahdliyin. Dengan tegas, dia menyatakan tidak akan bekerjasama dengan Megawati karena dianggap telah melakukan kesalahan konstitusional.

Namun, lagi-lagi Gus Dur melakukan hal yang tak terduga, setelah Pemilihan Umum presiden putaran pertama yang berlangsung 5 Juli lalu menempatkan Soesilo Bambang Yudhoyono dan Megawati sebagai kandidat yang akan maju ke putaran ke dua, seolah tanpa beban Gus Dur kembali bertemu dan berdialog dengan Megawati. Begitu juga sikapnya terhadap tokoh-tokoh lain, semacam Amien Rais. Meskipun sering bersebrangan, Gus Dur secara pribadi tetap bisa berhubungan baik.

Ia seringkali membuka diskursus di media massa tentang banyak hal, termasuk yang bagi sebagian orang dianggap sebagai isu sensistif. Misalnya saja, secara terbuka Gus Dur sangat agresif meminta agar KPU dibubarkan. Dia mengkritik bahwa KPU di bawah Nazaruddin Syamsudin banyak melakukan tindak penyelewengan terhadap rambu undang-undang yang disepakati. Di berbagai forum dialog, Gus Dur secara lugas seringkali berkomunikasi secara terbuka.

Sumberdaya politik Gus Dur (political resource) sangat tinggi, sehingga dia sanggup menjadi katalisator berbagai pilihan politik NU. Dalam konteks itulah Gus Dur faham betul, pemanfaatan komunikasi politik dengan berbagai kekuatan yang ada. Ide besar yang selalu diusung Gus Dur selama ini adalah proses demokratisasi di Indonesia yang sedang mengalami peralihan. Sehingga, kalau kita perhatikan betul, Gus Dur sebisa mungkin selalu membuat berbagai dikursus di publik untuk menjelaskan aktivitas atau sikap yang berhubungan dengan tumbuhnya kekuasaan yang demokratis dan mempengaruhi publik untuk mengubah atau mempertahankan suatu bentuk susunan masyarakat yang demokratis pula. Bertemunya Gus Dur dengan beragam orang dan kekuatan politik, mengundang tafsir bahwa gaya politik Gus Dur adalah politik akomodasi. Padahal, sesungguhnya komunikasi politik Gus Dur menekankan pada pengkoordinasian tata nilai politik dan elemen bangsa yang diinginkan. sehingga mencapai tingkat kesepahaman yang tinggi antar elemen bangsa. Memang tidak bisa dinafikan bahwa Gus Dur juga seringkali melakukan mobilisasi sosial guna memperoleh dukungan, kepatuhan dan integrasi politik.

Perbedaan Pendekatan

Soekarno misalnya, banyak memakai pendekatan behavioristik. Pendekatan yang menekankan refleksitas kognisi ini amat menempa pesan sehingga perilaku penerima pesan menjadi reflektor yang setia. Seluruh prilaku manusia, kecuali insting, dalam pendekatan ini diasumsikan sebagai hasil belajar. Pola-pola indoktrinasi ala Soekarno seperti seringnya pengulangan kata-kata “Revolusi Belum Usai”, “Kontrarevolusi”, “ganyang Malaysia” dan lainnya di berbagai forum dan kesempatan, terkadang menyisihkan rasionalitas dan otonomi individu penerima pesan terlepas dari baik-buruknya dampak indoktrinasi itu bagi masyarakat.

Di era Soeharto, pendekatan komunikasi yang digunakan bersifat transmisional dimana jalinan komunikasinya bersifat searah. Soeharto yang saat itu sangat adikuasa membentuk dan mengarahkan komunikasi. Sementara rakyat selalu dalam posisi sebagai receiver (penerima pesan) tanpa bisa leluasa memberikan feedback. Kecuali sesuai dengan arahan dari Soeharto sendiri. Kebijakan publik yang dikeluarkannya, selalu dikomunikasikan dengan cara-cara dominatif dan eksploitatif.

Sementara itu secara umum ada dua kecenderungan gaya komunikasi yang dilakukan Gus Dur. Pertama, kebiasaan Gus Dur memproduksi pesan politik secara equivocal. Meminjam istilah teori Janet Beaving Bavelas, equivocal communicaton berarti pesan-pesan dengan sengaja dibuat tidak jelas, tidak langsung dan tidak berterus terang (Stephen W Littlejohn, 1999). Penerima pesan harus menduga artinya daripada menangkapnya secara langsung. Dalam politik sebagai Art of possibility, equivocal terkadang perlu.

Hal ini memang menjadi kebiasaan lama Gus Dur, sehingga langkah-langkahnya tidak mudah diprediksikan oleh lawan politiknya. Namun gaya seperti ini juga seringkali menjadi masalah, ketika hal itu menyangkut kebijakan mengenai hajat hidup orang banyak. Seperti saat Gus Dur menjadi presiden, banyak kebijakannya yang equivocal sehingga tidak tersosialisasikan dengan baik. Substansi kiprah Gus Dur dilihat dari pengalaman-pengalaman masa lalu sangat pro rakyat dan demokrasi, hanya saja sebagian rakyat seringkali tidak bisa menangkap metakomunikasi dari pesan yang disampaikan. Sehingga bagi yang tak mengenal sosok Gus Dur secara baik, akan muncul asumsi bahwa Gus Dur adalah simbol ketidakkonsistenan (Hamid Awaludin, Harian Umum Kompas 13 Juli 2004).

Kedua, gaya komunikasi Gus Dur seringkali agresif. Hal ini menarik dikaji dari konsep agresif dalam buku Argumentativeness and Verbal Agressivness (Ifante, 1996). Terutama, berkaitan dengan dua sifat agresi yang dominan pada diri Gus Dur. Kedua sifat itu ialah kesukaan berdebat dan keagresifan verbal. Kesukaan berdebat merupakan tendensi mengajak bercakap-cakap tentang topik-topik kontroversial. Lihat saja polemik Gus Dur mengenai TAP MPR No.VII/2000 pasal 7 ayat (3) dan pasal 3 ayat (3) tentang pengangkatan dan pemberhentian kapolri yang diceritakan diawal tulisan ini. Polemik tentang TAP MPR No. 25, alasan pemecatan beberapa menteri, pernyataan mengenai permintaan penangguhan pemeriksaan beberapa konglemerat, gonjang-ganjing dekrit, golput di Pemilu Presiden 2004 dan masih banyak contoh lainnya.

Sementara keagresifan verbal, seringkali identik dengan gaya komunikasi Gus Dur sebelum, selama maupun sesudah dia jadi presiden. Agresi verbal Gus Dur biasanya berupa ledekan emosional yang bisa menghasilkan kemarahan bagi pihak yang dituju. Biasanya Gus Dur melakukan ini dengan pertimbangan tertentu, misalnya saat Gus Dur harus melindungi kelompok minoritas yang terancam, mengalihkan konflik di tingkat akar rumput ke konflik elit, atau saat dibutuhkan terapi kejut bagi orang dan kekuatan politik besar tertentu.

Catatan Kaki:

[1] Lihat lebih lanjut http://www.andreasharsono.net/2001/09/kecepatan-ketepatan-perdebatan.html

[2] Analisis ini merupakan penarasian kembali dari analisis Gun Gun Heryanto, Doktor Komunikasi Politik UIN Jakarta, yang dapat disimak lewat blog pribadinya http://gunheryanto.blogspot.com/2008/03/membaca-gaya-komunikasi-politik-gus-dur.html

Referensi:

Redi Panuju, Sistem Komunikasi Indonesia, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1997)

Dan Nimmo, Komunikasi Politik : Komunikator, Pesan dan Media, Tjun Sumarna (terj.) (Bandung : Rosdakarya)

Stephen W Littlejohn, Theories of Human Relations, Sixth Editions, (Albuquerque, New Mwxico : 1999)

Hamid Awaludin (Kompas, Selasa 13 Juli 20040)

Dominick A. Ifante and Andrew S. Rancer, Argumentativeness and Verbal Agressivness: A Review of Recent Theory and Research, In Communication Yearbook 19, ed. Brant R. Burleson (Thousand Oaks, CA : Sage, 1996)

*) Disampaikan pada diskusi di Sekretariat Nasional Jaringan GusDurian, 21 Juni 2015.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top