Pena Gus Dur

Romo, Kiai, dan Serdadu

©istimewa

Oleh : KH. Abdurrahman Wahid

Haji Johanes Cornelis Princen (HJC Princen)  panggilan akrabnya sehari-hari Poncke, sudah lama menggunakan kursi roda dan mengurangi kegiatannya hingga titik minimal. Namun, kita terbiasa dengan kehadiran Poncke dalam kehidupan kita. Perjuangan Hak Asasi Manusia (HAM) di negeri ini, terasa tidak lengkap tanpa kiprahnya. Bahwa bangsa kita tidak mampu memberikan penghargaan lebih dari yang didapatnya, adalah hal yang sangat memalukan.

Meskipun demikian, kebesarannya tidak berkurang hanya karena ketidakmampuan kita itu. Poncke sendiri tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi. Di negara tempat asalnya, Belanda, ia dianggap oleh sementara orang sebagai pengkhianat, karena meninggalkan tentara kerajaan. Ia dikirim ke Indonesia sebagai bagian dari upaya untuk menghancurkan gerakan nasionalis yang menuntut kemerdekaan negeri kita. Tetapi justru malah sebaliknya, ia mengikuti para pejuang kemerdekaan kita dan berani berpihak pada yang benar.

Karena itulah, oleh orang-orang yang tidak paham pemikirannya di Negeri Kincir Angin itu, ia dinamai sang pengkhianat. Sedangkan, bagi kita ia adalah seorang pejuang, yang tidak pernah mengharapkan imbalan dan tanda jasa apapun.

Di negeri ini pun, lebih dari seperempat abad, ia dianggap sebagai perusuh. Setidak-tidaknya, ia dianggap oleh para penguasa (terutama golongan militer) sebagai orang yang mengganggu wewenang mereka. Padahal, ia adalah seorang pejuang HAM yang berani menderita dan dicaci maki siapa pun untuk keyakinannya membela nasib kaum lemah. Ia tidak punya apa-apa, kalau pemilikan harta benda dianggap sebagai ukuran kebahagiaan. Tetapi, ia mempunyai segala-galanya kalau perjuangan menegakkan demokrasi dan HAM dianggap sebagai capaian hidup. Kegigihan perjuangannya patut menjadi inspirasi baik bagi kawan seiring maupun generasi muda yang menggantikannya.

***

Romo Mangunwijaya, juga mencapai kedudukan pejuang yang gigih. Walau ia sendiri tadinya adalah seorang militer, justru ia meninggal sebagai orang yang menentang militerisme. Romo yang berpendidikan arsitektur di Jerman Barat ini, menganggap TNI sudah kehilangan jati dirinya karena menggadaikan diri kepada kekuasaan yang lalim. Pendapat ini dipegangnya secara teguh hingga saat kematiannya sekitar tiga tahun lalu. Padahal, ia kemukakan hal itu di tengah-tengah memuncaknya kekuasaan politik para jenderal, hingga gereja Katolik-Roma kewalahan melindungi dirinya.

Romo Mangun kaya bukan dengan benda dan materi, melainkan dengan capaian. Sebagai novelis, ia menyajikan watak-watak manusia dengan sangat indahnya dalam karyanya Burung Manyar. Novel itu memberi gambaran tentang liku-liku kehidupan manusia Indonesia di tengah-tengah berbagai perubahan yang berlangsung sangat cepat. Sebagai sejarawan, ia dikenal memiliki pengetahuan mendalam tentang masa lampau Indonesia, seperti para Wiraguna dan raja-raja Mataram. Pengetahuan sejarahnya itu yang dikombinasikan dengan telaah tajam tentang watak-watak manusia. Hal itu membuat pastur pejuang ini menjadi tokoh regional yang dihargai orang. Terbukti dari hadiah Magsaysay yang diterimanya beberapa waktu lalu.

Di bidang pendidikan ia menunjukkan prestasi sangat menonjol. Dia kembangkan gagasan ”pendidikan dasar” yang semula diajukan oleh Uskup Agung Recife di Brasil. Gagasan itu dia kombinasikan dengan gagasan deschooling society (masyarakat tanpa sekolah) dari Ivan Illich dan disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Jadilah kombinasi gagasan itu sebagai tantangan pendidikan dan moral bagi keseluruhan sistem pendidikan nasional di negeri ini. Pendidikan nasional kita, yang dikuasai paham serba benda (materialistik), kehilangan sendi-sendi moral dan etikanya di bawah sistem kekuasaan politik yang ada. Kekuasaan itu tidak memperhatikan nasib warga negara sebagai manusia orang per orang.

***

Kiai Mahfudz dilahirkan di kalangan pesantren di Sumolangu, Kebumen, Jawa Tengah. Sebagaimana lazimnya saat itu, ia dididik di dalam lingkungan pesantren dengan cara pengajian sorogan dan bandongan. Akhirnya ia menjadi seorang kiai dengan tipe kepemimpinannya sendiri dan dihormati rakyat Banyumas Selatan. Jadilah ia seorang kiai besar yang dihormati oleh kiai-kiai lain di kawasan tersebut. Perintah-perintahnya dilaksanakan oleh para ulama lain.

Dalam perjuangan bersenjata melawan kekuasaan Belanda, pada Agresi II, ia memimpin perjuangan fisik secara gigih. Perintahnya diikuti oleh rakyat Banyumas selatan dari Purworejo hingga Cilacap. Anak didiknya ada yang kemudian menjadi pimpinan teras Angkatan Darat di belakang hari, misalnya Jenderal Sarbini. Namun, kabinet Hatta yang saat itu mendapat dukungan Jenderal Besar (saat itu masih Kolonel) A.H. Nasution, memutuskan bahwa yang dapat menjadi perwira dan komandan batalion hanyalah mereka yang berijazah belaka.

Di antara yang berijazah saat itu terdapat Pak Harto yang ketika itu berijazah vervolg school (sekolah lanjutan) dua tahun. Dengan kriteria itu, ia tidak dapat menjadi komandan batalion di Purworejo. Tempat yang dianggapnya pantas bagi dirinya itu kemudian diisi oleh perwira A Yani.

Tentu saja, ia menjadi sakit hati, dan pemberontakan bersenjata yang dilakukannya terpaksa dibayarnya dengan nyawa. Ketika dia berada pada sebuah jurang di Gunung Srandil (Cilacap), ia dilempari granat dari atas.

Ketiga tokoh di atas, memiliki persamaan dasar yang sangat menarik: keyakinan akan kebenaran. Karena itulah, mereka dicintai rakyat yang melihat kehidupan ketiga orang tersebut tidaklah materialistik. Dengan demikian, kesan kemanusiaan yang mereka bawakan terasa murni dan tidak berbau kepentingan pribadi. Princen berani meninggalkan tanah air dan meninggalkan tentara kerajaan (KL) serta memihak Indonesia.

Romo Mangun berani meninggalkan kehidupan militer dan disumpah-serapahi mereka yang ditinggal di dalamnya. Romo Mangun memiliki kredibilitas seorang pejuang gigih yang sama dengan Kiai Mahfudz-Somulangu yang berjuang mati-matian melawan kekuasaan Belanda. Mereka harus dihargai karena kita adalah bangsa besar yang sangat sanggup menilai jasa-jasa para pahlawan. Bukan bangsa kelas teri yang menghargai koruptor, seperti H. Taher, yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

 

Jakarta, 16 Februari 2002

Kumpulan Kolom dan Artikel KH. Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser (LKiS, 2002)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top