Review Buku

Mengkaji Islam Kosmopolit ala Gus Dur

Oleh : Abdul Mujib*

Buku Islam Kosmopolitan ini merupakan salah satu masterpiece dari Gus Dur. Melalui buku ini Gus Dur membuktikan bahwa beliau tidak hanya seorang yang agamis sebagaimana pada waktu kecilnya beliau dihabiskan di pesantren, melainkan juga beliau adalah seorang negarawan, yang ide-idenya lebih berkonsentrasi pada nilai humanis (kemanusiaan). Tidak mengherankan apabila beliau menyelesaikan permasalahan Negara dengan dasar-dasar agama, ataupun sebaliknya. Karena menurut Gus Dur, ilmu itu saling terkait dan tidak harus dipisahkan.

Pesantren merupakan cikal bakal kuatnya Islam di Indonesia. Dilihat dari sejarahnya, kemunculan pesantren tidak lepas dari tradisi Islam di Timur Tengah pada masa awal Islam. Islam pada masa sahabat dan setelahnya terus mengembangkan budaya lokal Arab yang telah tercampur oleh budaya Helenisme yang disebarkan Alexander the Great. Sehingga ilmu-ilmu Islam tidak hanya didasarkan atas Al-Qur’an dan Hadits saja, melainkan juga atas pondasi tasawuf dan fiqih untuk memperkuat dan mengembangkan keagungan Al-Qur’an dan Hadits, yang telah menjadi roh Islam. Dari banyaknya cabang ilmu yang berkembang, dan masih adanya nilai yang harus dipertahankan membuktikan bahwa Islam tidak leterlek dari Arab, akan tetapi bersifat universal dan sebagai nur bagi semua orang di setiap zaman tanpa meninggalkan pondasi awal yaitu al-qur’an dan hadits (p. 123).

Dalam bab berikutnya, Gus Dur memberikan banyak ruang antara agama dan kebudayaan untuk saling lebih mengenal. Bagaimanapun, hal yang paling mendasar dari agama adalah Agama hadir sebagai pemecah masalah bukan sebagai pembuat masalah. (p. 304). Gus Dur memberikan deskripsi dari berbagai persoalan mulai dari fatwa MUI yang melarang mengucapkan selamat natal, wanita sebagai pemimpin bangsa sampai pada kasus poligami. Karena agama juga merupakan salah satu produk kebudayaan, maka keduanya harus saling melengkapi, bukannya menimbulkan pertentangan. Memang tidak jarang juga sebuah kebudayaan menjadi doktrin sebuah agama, seperti perayaan hari Karbala di Iran.

Berbicara tentang HAM dan keadilan dalam Islam, Gus Dur mengisyaratkan untuk tidak selalu merujuk secara langsung kepada al-Qur’an atau hadis, sebagaimana sering dipergunakan kelompok Islam modernis, akan tetapi mensyaratkan pada 5 hukum syar’i atau dalam teori ushûl al-fiqh yang disebut dharûriyat al-khamsah (lima hal dasar yang dilindungi agama), yaitu: 1) hifz al-nafs, keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum; 2) hifz al-dîn, keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan berpindah agama; 3) hifz al-nasl, keselamatan keluarga dan keturunan; 4) hifz al-mâl, keselamatan harta benda dan milik pribadi, dari gangguan dan penggusuran di luar prosedur hukum, dan 5) hifz al-milk, keselamatan hak milik dan profesi. (p. 4-5, lihat juga p. xxi).

Hal ini bisa diterapkan pada kasus orang lesbi atau homo, yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai orang yang “sakit”, tetapi mereka masih mempunyai hak sebagai warga Negara. Masak ya… orang sakit kita tambahi sakitnya dengan menggunjing? Tidak kan.. tetapi secara kemanusiaan mereka sakit, dan kurang sesuai dengan konsep mawaddah warahmah. Tentang Wanita; bagaimana menyikapi wanita yang terlanjur ter-stereotype dan sekunder dalam keluarga. Dalam hal ini Gus Dur menyarankan agar kita membedakan antara ranah teologis dan sosiologis. Di Arab, wanita tidak boleh keluar, segala kebutuhan suami yang mencukupi, sedangkan di Indonesia, maklum kita melihat suami istri bekerja, bahkan sampai ada suami yang penghasilannya bergantung pada istri. Siapa yang berkewajiban mengurus keluarga? (p. 374).

Dari beberapa contoh “kecil” kasus diatas, menunjukkan bahwa Gus Dur memiliki wawasan luas, tidak hanya ilmu dari pesantren saja, maupun timur tengah, tetapi juga dari barat. Dalam menegakkan keadilan maupun Hak Asasi Manusia memang diperlukan kesalehan sosial, dimana bagaimana rasanya jika kita berada di posisi yang minoritas dan hak-hak kita sebagai warga Negara ditekan oleh golongan mayoritas, dalam hal ini mereka menggunakan dalil / dasar agama.

Konsep kosmopolitanisme Gus Dur dalam praktisnya ingin menghilangkan batasan etnis, kuatnya pluralitas dan heterogenitas politik. Dalam hal ini Gus membagi konsep kosmopolitan menjadi dua perspektif. Pertama, perspektif budaya, yaitu dilihat untuk memperkaya proses dialog antar peradaban. Seperti yang telah dicontohkan Nabi Muhammad ketika mengatur pengorganisasian masyarakat Madinah, sampai pada zaman keemasan Islam yang mengadopsi budaya Yunani. Mereka berupaya untuk membangun dialog dengan peradaban yang lain. Kedua, perspektif keilmuan, yaitu sebagaimana yang dilakukan para ilmuwan muslim terdahulu yang tak henti-hentinya berdialog dalam bidang keilmuan baik mengkritisi hukum dan tradisi yang lama maupun sampai pada perdebatan ilmiah. Oleh karena itu, untuk mewujudkan konsep ini, Gus Dur menganjurkan untuk menyeimbangkan dua karakter peradaban, yaitu antara kecenderungan normatif kaum muslim dan kebebasan berpikir semua warga masyarakat (termasuk non-muslim) (p. xxii). Sehingga sikap toleransi dan menghargai sesama secara humanis menjadi titik tolak dalam setiap ketetapan dan tindakan yang dilakukan.

Secara umum, buku Islam Kosmopolitan ini terbagi menjadi tiga bagian: Bab I berisi tentang ajaran, transformasi dan pendidikan agama. Bab II berisi tentang nasionalisme, gerakan sosial dan anti kekerasan. Sedang bab III berisi tentang pluralisme, kebudayaan dan hak asasi manusia, yang ditulis pada era 1980-an. Oleh karena itu, perlu kita bersama-sama merumuskan suatu cara yang baru atau kontekstualisasi permasalahan, akan tetapi penyelesainya tetap merujuk pada dasar-dasar yang telah dipaparkan Gus Dur dalam buku ini.

Buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca bagi semua lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat awam (pedagang kaki lima) agar mereka tahu hak-hak mereka sebagai warga Negara, maupun juga bagi pejabat tinggi tentang bagaimana kewajiban mereka meng-advokasi warganya, terutama bagi kaum minoritas. Buku ini memang lebih humanis karena tidak memihak golongan tertentu, serta tidak meninggalkan nilai-nilai perdamaian yang terdapat dalam agama (dalam buku ini dicontohkan nilai-nilai Islam).

*Penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur III

1 Comment

1 Comment

  1. Ainur Rofiq

    August 19, 2015 at 3:10 am

    waaaah bagus banget tu bukunya…… artikelnya juga bermanfaat banget. Apalagi buat saya yang lagi skripsi dan judulnya membahas tentang pemikiran Gus Dur…. Makasih Mas admin atas artikelnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top