Celoteh Santri Gus Dur

Tentang Sujud, Tuhan, dan Rasa

Oleh: Sarjoko

Sujud. Saya rasa kata ini yang menginspirasi bangunan tempat orang Islam beribadah dinamakan masjid. Huruf ‘mim’ pada kata ‘sajada’ lalu di baca ‘masjidun’ merupakan isim makan, kata keterangan tempat.
Sujud merupakan simbol kepasrahan sebenar-benarnya pasrah. Seorang ustadz pernah menerangkan bagaimana posisi sujud dalam shalat memiliki makna filosofi yang luar biasa.Namun hal tersebut jarang disadari, atau tidak pernah berusaha dicari maknanya. Posisi sujud yang benar—kata ustadz—adalah posisi pantat berada di atas semua anggota tubuh yang lain. Sementara kepala berada di posisi paling bawah.
Pantat selama ini identik dengan sesuatu yang rendah. Yang berhubungan dengan pantat—selain suntik bu bidan—adalah kentut dan veses. Kentut dan veses merupakan kotoran fisik paling hina yang keluar dari manusia. Di salah satu gerakan shalat, pantat mendapat porsi untuk menjadi paling tinggi di antara anggota tubuh lainnya. Sementara kepala adalah kebalikan dari pantat. Di kepala terdapat dua lobang mata, dua lobang hidung, satu lobang mulut, dan dua lobang telinga. Total ada tujuh macam lobang yang seluruhnya merupakan ‘kunci’ dari kehidupan. Di dalam kepala terdapat akal yang menurut banyak orang adalah hal yang membedakan antara manusia dengan hewan. Di dalam shalat, hal paling berharga bagi manusia tersebut harus berada pada posisi paling di bawah.
Dari pantat dan kepala, saya memaknai bahwa kehidupan ini bukanlah suatu hal yang statis. Hidup ini dinamis. Ada kalanya, sesuatu yang buruk berada pada posisi puncak. Sementara kebaikan kadang kala harus tersungkur. Makna lainnya adalah bahwa seorang manusia dilarang untuk menyombongkan diri, juga dilarang untuk berputus asa. Tuhan bisa saja memberikan si X suatu kenikmatan. Namun Tuhan juga memberinya sesuatu yang dalam hitungan manusia merupakan suatu kehinaan. Sebaliknya Tuhan bisa saja memberi cobaan berupa kehinaan. Namun Tuhan mungkin memberinya posisi puncak. Pada akhirnya manusia harus mengakui kebesaran-Nya. Tidak ada yang lebih berkuasa selain-Nya.
Berbicara mengenai sujud, saya baru saja mendapatkan pengalaman menarik. Kemarin (19/04/2015) saya dan kawan-kawan GUSDURian baru saja melakukan kunjungan ke Sapta Darma (aksen Jawa: Sapto Darmo). Sapta Darma merupakan salah satu kepercayaan lokal (pengkhayat) yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia. Diperkirakan warga Sapta Darma berjumlah 10 juta jiwa.
Saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai apa itu Sapta Darma, di mana kemunculannya dan bagian-bagian sejarah lain. Yang ingin saya tuliskan di sini adalah perihal ritual ibadah Sapta Darma yang gerakannya seperti ritual agama semit khususnya Islam. Sujud. Ya, sujud. Di Sapta Darma, ritula ibadah ya sujud itu. Sujud dilakukan sekali dalam sehari. Namun sujud yang dilkukan bukan sembarang sujud. Warga Sapta Darma harus melakukan sujud tersebut dengan penghayatan sejati. Dalam bahasa Arab disebut khusyu’.
Walau terkesan mudah karena hanya dilakukan sekali, ibadah Sapta Darma itu ternyata tidak mudah dilakukan. Sapta Darma memang tidak memberi batasan waktu berapa lama durasi sujud. Namun warga melakukannya dengan penuh perasaan. Karena itu satu-satunya waktu untuk menghadap Allah Hyang maha Rakhim (Allah merupakan sebutan Tuhan di Sapta Darma), warga menjalankannya dengan penghayatan penuh. Saya menyaksikan sendiri bagaimana dua warga Sapta Darma melakukan ritual tersebut.
Dua warga melakukan sujud dengan kaki bersimpuh. Mereka mengenakan sarung dan beralaskan kain putih yang digelar menyerupai gambar wajik. Bagi warga perempuan posisi kaki memang bersimpuh. Berbeda dengan pria di mana posisi kakinya bersila. Tangan mereka bersedekap, tangan kanan memegang lengan kiri, begitu juga sebaliknya. Beberapa kali warga itu sujud, duduk, lalu sujud lagi. Karena penasaran, saya bertanya kepada salah seorang rekan di sana. Sebut saja Mawar.
“Gerakannya memang kayak gitu?” Ia mengiyakan. “Lha, berapa kali harus sujud, duduk, lalu sujud lagi, kemudian duduk lagi?”
“Kalau itu otomatis sendiri, mas. Ketika seseorang melakukan sujud sesuai dengan ajaran yang kami anut, maka rasanya seperti ada yang menggerakkan,” jelasnya. Mawar mengaku awalnya ia penganut agama Islam. Namun karena suatu sebab, dara asal kota di Jawa Tengah itu kini melakukan sujud. Dalam bahasa sederhananya, ia beralih keyakinan.
“Beda, mas, antara sujud saat saya lakukan sewaktu shalat dengan sujud yang seperti ini. Orang shalat terkadang kurang khusyu’, tetapi kalau ini kita bisa merasakan sebuah ketentraman”. Deg. Jantungku seakan berhenti bergerak. Sebuah sindiran luar biasa kutangkap lewat indra pendengarku. Saya mendadak ingat bagaimana shalatku, sujudku, saat ini tidak dilakukan dengan penghayatan penuh, bahkan terkesan untuk menggugurkan kewajiban semata. Lalu di mana posisi Tuhan pada saat saya ibadah? Astaghfirullah. Bukankah shalat merupakan ritual seorang saya sowan kepada-Nya? Saya juga teringat bagaimana ketika bulan puasa datang, saya cenderung mencari mushala atau masjid yang shalat tarawihnya ‘PATAS’, alias cepat. Padahal shalat tarawih, walau hukumnya sunah, merupakan ritual menghadap-Nya. Kenapa saya justru terburu-buru? Jika memang dilakukan dengan penuh rasa cinta, mengapa ingin segera undur diri?
Rasa. Rasa tentram membuat Mawar memiliki kepercayaan yang baru. Bahwa dengan melakukan sujud itu, ia lebih bisa menjadi pribadi yang—menurutnya—lebih baik. Ia yakin, di setiap aliran darahnya, di setiap pujian agung yang dipanjatkannya untuk Allah yang maha Rakhim, Tuhan selalu hadir memberinya kekuatan. “Saya dulu sakit berat, mas. Setiap beberapa menit, saya amnesia. Lalu saya dibawa ke sini dan diajari sujud. Saya lakukan itu. Luar biasa, kini saya sudah sembuh,” akunya. Ia buru-buru menjelaskan bahwa ketika orang melakukan sujud seperti apa yang dilakukan oleh warga Sapta Darma, bukan berarti lantas membuat seseorang mengikuti keyakinan Sapta Darma. Sujud itu bisa dilakukan siapa saja dan tidak mengikat. Anggap saja seperti terapi.
Saya jadi sadar bahwa tujuan manusia hidup adalah untuk ketentraman. Walau sujud saya belum bisa khusyu’, tetapi ada rasa tentram ketika saya sudah shalat. Jika belum shalat, ada kegelisahan luar biasa yang saya rasakan. Mungkin hal ini dirasakan oleh orang muslim lainnya.
Orang Islam merasa tentram ketika ia sudah melakukan kewajiban-kewajiban yang diberikan Tuhan secara ikhlas, pasrah, tawakkal. Orang Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan sebagainya juga tak jauh berbeda. Tentu saja dengan caranya masing-masing. Ritual yang digunakan untuk mengekspresikan kecintaan, kepatuhannya pada pencipta pun beragam yang pada intinya sama, berbakti pada-Nya. Dan sujud merupakan satu di antara sekian cara untuk mengekspresikan rasa itu. Wallahua’lam.

Griya GUSDURian Timoho
Yogyakarta, 20 April 2015
16:24 WIB

Sumber: https://blog.djarumbeasiswaplus.org/2014sarjoko/2015/04/20/tentang-sujud-tuhan-dan-rasa/

 

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top