Celoteh Santri Gus Dur

Radikalisme, Mushala dan Tradisi Sholawatan

Oleh: Nur Khoiriyah*

Saya ingin menulis sebuah tulisan reflektif tentang hari ini. Karena hari ini saya tengah bahagia. Kebahagiaan saya yang pertama ialah terpasangnya spanduk penolakan terhadap kelompok radikalisme di pojok depan rumah, dalam hal ini adalah ISIS. Kedua, banyak remaja yang bershalawat ria di Mushala, yang pemandangan ini tidak seperti biasanya. Terlepas dari unsur subjektifitas dalam tulisan ini, saya ingin menceritakan keadaan yang ada di desa kelahiran saya tersebut, Margoyoso, Pati-Jawa Tengah.

Tentang spanduk penolakan ISIS, saya mulai menelisik dengan menanyakan kepada bapak, ihwal siapa yang memasang spanduk di depan rumah itu. Beliau menjawab, spanduk itu merupakan instruksi dari kecamatan kepada semua pemerintah desa Margoyoso.

Pantas saja, pada sore sebelumnya—disaat saya mengantar ibu periksa kesehatan di desa tetangga, terpampang juga spanduk serupa. Saya tidak tahu, apakah dengan adanya spanduk-spanduk itu masyarakat bisa memahami maksudnya. Namun terlepas dari substansi spanduk tersebut, setidaknya pemerintah menaruh perhatian terhadap permasalahan global, terutama soal radikalisme yang menggunakan kekerasan bermotif agama.

Diskusi dengan bapak pun kembali berlanjut, yakni dengan membahas beberapa motif dibalik gerakan radikalisme yang transnasional itu. Salah satu motif yang saya pahami adalah; adanya pihak yang berkepentingan menjadikan agama sebagai pengalihan isu. Agama hanya dijadikan sebagai kedok dan alat politik untuk merebut kekuasaan. Karena dalam kasus ISIS (negara Islam Irak-Syiria), ada indikasi terhadap permainan dan kepentingan penguasaan kilang minyak di dua negara itu. Mengingat, kedua negeri tersebut mempunyai sumber minyak yang melimpah ruah.

Apalagi saat ini ada juga konflik di Yaman. Menurut sepengetahuan saya ihwal itu bukan motif agama atau ideologi, tetapi faktor politik dan kekuasaan. Karena kalau diamati sederhana saja, mengapa Arab Saudi begitu getol menyerang Yaman, tetapi pada kasus kemanusiaan di Palestina, Arab Saudi diam. Dari uraian dan cara berfikir sederhana itu, bapak menyepakatinya.

Namun sekali lagi saya menegaskan ke bapak, bahwa apa yang saya sampaikan adalah beberapa wacana yang saya baca dan saya perhatikan dari berbagai forum yang pernah saya ikuti. Di antara para analisis resolusi konflik dan studi kajian Timur Tengah mengatakan seperti itu.

Energi Posistif Sholawat

Kebahagiaan saya yang kedua, disaat adzan Isya’ berkumandang di mushala sebelah rumah, beberapa remaja sudah berkumpul di dalam mushala. Selang beberapa waktu, pujian atau shalawat pun mereka dendangkan. Saya sangat akrab dengan lagu itu, lagu wajib yang harus didendangkan oleh salah satu majelis shalawat yang saya ikuti di Jogja.

Inilah kisah Sang Rasul yang penuh suka duka, yang penuh suka duka”, demikianlah sedikit cuplikan yang paling mudah saya ingat. Dengan melihat remaja yang kini menggandrungi sholawatan dan secara rutin berlatih rebana, membuat saya sedikit bernafas lega tentang desa saya. Karena saya berpikir bahwa remaja memiliki kegiatan yang positif.

Hal ini mengingatkan saya terhadap fenomena beberapa tahun terakhir, ada kemerosotan moral serius di desa saya, mulai dari remaja yang hamil di luar nikah hingga melahirkan pun belum juga menikah, karena pihak keluarga tidak merestui. Kedua, remaja tertangkap pencurian motor (curanmor). Ketiga, adanya kasus dugaan pencabulan terhadap anak kelas 4 SD. Terkait tiga permasalah tersebut sebenarnya saya tidak ingin menyebarluaskannya, akan tetapi, saya hanya ingin memberikan alasan atas kesedihan saya. Begitu memprihatinkannya moralitas bangsa saat ini. Itu baru di desa tempat tinggal saya, mungkin di tempat-tempat lain juga tidak jauh berbeda.

Sekali lagi saya ingin tegaskan, ini loh realitas sosial yang sedang kita hadapi, bahwa generasi muda sedang mengalami “darurat moral”. Mungkin salah satu rekomendasi yang saya ajukan kepada mereka adalah agar mereka memiliki aktfitas yang positif, seperti bershalawat misalnya. Mungkin terkesan konservatif, wagu, atau berbagai macam lainnya. Namun beberapa hal terbukti, dengan pergaulan yang sehat, atau menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif akan berdampak positif pula.

Seperti yang saya amati, dalam kebiasaan bershalawat terdapat beberapa bait-syair yang mengandung nilai kebersamaan, do’a, dan keteladanan Nabi Muhammad Saw yang penuh kasih sayang dan akhlak mulia

Saya jadi teringat salah satu perkataan mas Imam Shofwan, salah satu ujung tombak Yayasan Pantau, bahwa dari surau-surau kecil, dan dari para penguriuri surau justru bisa menjadi benteng terhadap laku radikalisme. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana jika remaja generasi penerusnya tidak lagi gandrung dengan sholawat, tidak lagi tertarik untuk sekedar nongkrong di mushala? Lalu akan jadi apa, 10 tahun ke depan nasib mushala tersebut.

Hal ini yang disampaikan oleh salah satu pemuda yang saat remajanya dulu memang mengabdikan sebagian waktunya untuk berkumandang dan bershalawat di masjid. Dalam diskusi dengannya, saya menyimpulkan dua hal penting sebagai modal untuk meneruskan perjuangan ini, yakni “kemauan dan kemampuan”. Kemauan menjadi hal utama, karena bagaimana seorang bisa atau mampu sedang dia tidak memiliki keinginan untuk tahu. Bahasa sederhananya, “setiap ada kemauan pasti ada jalan”.

Dari kemauan tersebut, beberapa kekurangan terkait segi bacaan dan variasi lagu, bisa diasah melalui proses belajar bersama. Dengan sering mengikuti, mendengar, dan membacanya sholawatan, akan semakin lancar, apalagi jika dibarengi dengan kemampuan untuk memahami arti dan kandungan isinya. Ketenteraman hati dan ketenangan pikiran hanyalah setetes imbal dari lautan pahala.

Demikianlah dalam hemat saya jika kita ingin membangun bangsa, diantaranya bisa dimulai dari hal yang sederhana. Salah satunya melalui sholawatan. Karena di dalamnya kita bisa meneladani pribadi Nabi yang rahmatan lil’alamin, yang memiliki uswah hasanah yang patut ditiru oleh seluruh umatnya. Bila hal ini teraplikasikan dengan baik, maka akan tercipta kehidupan yang harmoni. Wallahhu a’lam.

*Penulis adalah jama’ah Majlis Sholawat Gusdurian Yogyakarta

Tulisan ini dimuat di Buletin Santri Edisi 10. Silahkan koleksi Buletin Santri sebagai bacaan keluarga Anda, di: http://santrigusdur.com/buletin-santri/

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top