Celoteh Santri Gus Dur

Keberislaman di Arab Saudi

Oleh: Irza A. Syaddad*

Beberapa hari yang lalu (14/4/2015), di Arab Saudi, tepatnya di Madinah, terjadi pelaksanaan eksekusi mati oleh Zainab, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Madura. Zainab menjadi tersangka atas kasus pembunuhan istri majikannya yang bernama Noura al-Morobei pada 1999. Lebih dari 15 tahun, Zainab menunggu hasil hukuman qishos-nya tersebut—dibebaskan atau tetap dihukum—karena menunggu ahli waris korban hingga baligh (dewasa).

Tidak berselang lama, pada hari Kamis (16/4/2015), Kerajaan Arab Saudi kembali mengguncang masyarakat Indonesia, dengan pelaksanaan hukuman mati bagi Karni. Karni adalah TKW asal Brebes yang menjadi terpidana kasus pembunuhan Tala al-Syihri, anak majikannya, pada 26 September 2012. Karena keluarga korban menolak permohonan maaf dari keluarga Karni dan juga pemerintah Indonesia, maka eksekusi Karni tetap dilaksanakan.

Selain peristiwa Zainab dan Karni, ada peristiwa lain yang berkenaan dengan Warga Negara Indonesia (WNI) yang hidup di Arab Saudi. Dalam suatu perjalanan pulang dari Madinah (27/3/2015), saya bertemu dengan sekelompok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di terminal bus Riyadh. Awalnya saya mengira mereka baru datang dari bandara Riyadh, untuk kemudian menuju tempat kerja mereka. Tapi ternyata dugaan saya salah. Kedatangan mereka ke Riyadh adalah untuk mengadu ke Kedutaan Besar (Kedubes) Indonesia, terkait pemukulan yang dilakukan oleh majikan. Walaupun yang menjadi korban “hanya” dua orang, namun solidaritas mereka diacungi jempol. Sekitar 24 orang tersebut kompak untuk mogok dari pekerjaannya. Selain pemukulan, alasan lain yang mendasari mereka pergi ke Kedubes adalah gaji yang tidak sesuai dengan perjanjian dan majikan sering nunggak dalam memberikan gaji.

Dari pemaparan realitas ini, muncul beberapa pertanyaan yang mengusik oleh saya: Mengapa Arab Saudi yang notabene sistem pemerintahnya berlandaskan pada hukum Islam, namun sering terjadi tindak kekerasan terhadap para TKI? Padahal, di dalam sebuah hadis yang saya pahami, dijelaskan dalam Sunan Ibn Majah, “Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya” (Ibn Majah: 2434).

Di sini ada kontradiksi, dalam setiap kesempatan para ulamanya selalu menekankan untuk melakukan sunnah Nabi—sampai-sampai ada istilah ahli bid’ah yang disematkan kepada seseorang yang melakukan ibadah dan perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi—akan tetapi, mengapa mereka mengabaikan hadis yang dekat dengan kehidupan mereka itu? Di sinilah saya timbul pertanyaan.

Islam Arab Saudi

Sebelum memulai pembahasan Islam Arab Saudi, ada baiknya kita kaji dulu term ‘Islam Arab’ dewasa ini. Sejauh yang saya tahu, ‘Islam Arab muncul ketika di Timur Tengah sering terjadi penyerangan dan kekerasan yang mengatasnamakan Islam: Boko Haram, Islamic State of Iraq-Syiria (ISIS) dan al-Houthi, yang baru-baru ini di Yaman. Kemudian, dalam rangka “menandingi genre” Islam tersebut, beberapa tokoh di Indonesia kemudian “memunculkan” istilah ‘Islam Nusantara’, Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Dengan demikian, asumsi awal yang diterima oleh pembaca adalah: ‘Islam Arab’ yaitu Islam yang mengusung kekerasan sebagai solusi dari setiap persoalan, dan ‘Islam Indonesia’ berkebalikan darinya, yaitu berlandaskan pada asas perdamaian (salam).

Akan tetapi, ada persoalan di sini. Terlalu gegabah dan tergesa-gesa jika frasa yang begitu luas ini disematkan pada perkara yang sifatnya partikular. Terlalu men-generalisir. Atau, kalaupun memang terjadi secara luas, hal itu tidak dapat digunakan dasar untuk menetapkan “sebuah kebenaran” bahwa watak Islam di Arab Saudi adalah keras. Demikian halnya ‘Islam Nusantara’ yang belakangan ini marak dipakai oleh berbagai kalangan. Untuk memudahkannya, saya akan membedahnya melalui beberapa contoh sebagaimana yang saya alami disini.

Keluhan mengenai ketidakadilan dan kekerasan yang menimpa para TKI memang sering mengemuka di berbagai media. Walaupun demikian, dalam beberapa kesempatan, saya juga bertemu dengan TKI yang amat dihargai oleh majikannya. Misalnya ketika ziarah di Masjid Nabawi, saya bertemu dengan seorang ibu yang berasal dari Jawa Barat. Beliau telah bekerja di Madinah selama kurang lebih 5-7 tahun. Dengan raut wajah ceria, sembari menyiapkan roti dan teh hangat secara cuma-cuma untuk kami. Beliau pun menceritakan kebaikan-kebaikan majikannya: sering diajak umrah; juga sesekali berhaji bersama keluarga majikannya; dan pada hari-hari tertentu—seperti hari itu—majikannya memberikan aneka makanan, baik berupa roti, kurma dan minuman kepada jemaah yang berkunjung ke Masjid Nabawi. Selain ibu tersebut, saya juga beberapa kali bertemu dengan TKI yang dihargai oleh majikannya.

Kemudian, dalam perjalanan pulang dari Madinah, saya menemukan peristiwa yang unik. Sebagaimana yang tersiar di luar, bahwa Arab Saudi adalah negara yang tidak ramah pada perempuan. Akan tetapi, pada saat tersebut, saya menemukan hal yang berbeda. Perempuan di sini, baik Su’udiyyah (Pribumi Arab) maupun ajnabiyyah (Non-Arab), terkhusus dalam bepergian dengan kendaraan umum, mereka ditempatkan di bagian depan. Dan walaupun tidak terdapat perempuan yang naik, bangku depan masih tetap dikosongkan. Ada juga cerita lain dari TKI yang bekerja sebagai supir. Berdasar penuturannya, jika dua mobil kecelakaan, dan di salah satu mobil terdapat penumpang perempuan, maka yang menjadi tersangka adalah pengemudi mobil yang lain.

Kendati demikian, kita tidak bisa langsung menarik sebuah kesimpulan, bahwa keberIslaman di Arab Saudi nampak keras, apalagi dengan dibuktikan mazhab fiqh yang diambil oleh mayoritas orang Arab: mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Dalam melakukan pembacaan teks sumber hukum pun, mereka juga lebih condong ke arah literal, bukan kontekstual. Akan tetapi, wajah tersebut tidak dapat begitu saja menafikan wajah lain, yaitu wajah moderat dan inklusif. Lebih jauh lagi, term ‘Islam Timur Tengah’ yang selama ini mendapat stigma negatif pun, tak semuanya bersikap demikian. Kita bisa melihatnya dari undang-undang dan karya yang mereka ciptakan: buku, film, dan karya sastra (Clemens Recker: 2010).

Sebagai penutup, saya akan menyampaikan “ambiguitas” hukum Islam di Arab Saudi. Kita ketahui, sebagian besar pembacaan ulama Arab Saudi adalah literal (berdasarkan teks dan tidak mau melihat realitas atau konteks yang tengah terjadi). Salah satu contoh hasil ijtihad mereka adalah haramnya bercampur-baur (ikhtilath) dengan lawan jenis. Akan tetapi, pada faktanya, peraturan seperti ini tidak berlaku di area Makkah, tepatnya di Masjidil Haram. Di sana, kita akan menemukan lautan manusia yang tak tersekat. Laki-laki maupun perempuan membaur menjadi satu. Baik ketika thawaf, sa’i, hingga salat berjamaah. Pemandangan seperti ini tidak akan kita temui di dalam Masjid Nabawi—bukan pada pelatarannya—yang membuat hijab antara jama’ah laki-laki dan perempuan.

Di dalam sebuah diskusi dengan seorang teman, komentarnya mengenai fenomena tersebut, di balik wajah Arab Saudi yang fundamental, keras, terlihat garang, ternyata tersembunyi wajah lain yang luwes dan ramah. Bukan Islam marah. Mereka juga menghormati manusia, santun dalam berikap, dan pada hemat saya; itulah wajah Islam yang sebenarnya. Sehingga saya menarik sebuah kesimpulan, bahwa Islam itu ajaran yang baik, membawa kedamaian dan keselamatan. Apabila terjadi keburukan, atau banyaknya kekerasan yang terjadi di Arab misalnya, jangan disalahkan agamanya, akan tetapi pribadi atau oknumnya tersebutlah yang bermasalah. Wallahhu a’lam.

* Seorang santri yang kini sedang menuntut ilmu di Riyadh, Arab Saudi. Alumni KPG III.

Tulisan ini juga dimuat di Buletin Santri edisi 11. Silahkan kunjungi koleksinya, di: http://santrigusdur.com/buletin-santri/

 

5 Comments

5 Comments

  1. Syarif

    May 4, 2015 at 12:58 am

    Smw persepsi pak, da yg mempersepsikan keras dan juga da yg spt bapak. Bener kata Bapak, smw tergantung orangnya, Akan tetapi jika diterusin dri ajarin Wahabiah, banyak ketiduran konsisten dan kaku. Sedangkan di Indonesia kontekstual dan luwes, kalaupun da aliran keras Di Indonesia, banyak d pengaruh kelompok2 d tidur tengah..
    Sy scr umum melihat hal itu, tinggal kita lihat scr objective kasus mn yg lebih banyak terjadi, apakah kekerasan atau tolerance di antara Saudi dan Indonesia..
    Wallahu a’lam

  2. saifurroyya

    May 21, 2015 at 6:25 am

    Sebuah penjelasan yang menarik untuk disimak agar pemahaman keagamaan kita bisa semakin luas dan tidak mudah hanya meniru saja tanpa tahu keadaan yang sebenarnya.

  3. Dawim

    June 12, 2015 at 11:57 pm

    yg ditakutkan warga NU itu, Paham Wahabi. Padahal, sebagian orang2 besar di NU ada yang terasuki Syiah… Ampun deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top