Pena Gus Dur

Islam dan Formalisme ajarannya

Oleh: Abdurrahman Wahid

gusdur1Dalam sejarah umat manusia, selalu terdapat kesenjang­ an antara teori dan praktek. Terkadang kesenjangan itu sangatlah besar, dan kadang kecil. Apa yang oleh paham komunisme dirumuskan dengan kata “rakyat”, dalam teo­ ri dimaksudkan untuk membela kepentingan orang kecil; tapi dalam praktek justru yang banyak dibela adalah kepentingan kaum aparatchik. Itupun berlaku dalam orientasi paham terse­ but, yang lebih banyak membela kepentingan penguasa daripada kepentingan rakyat kebanyakan. Karena itu, kita harus berhati­ hati dalam merumuskan orientasi paham ke­Islaman, agar tidak mengalami nasib seperti paham komunisme.

Orientasi paham ke­Islaman sebenarnya adalah kepenting­ an orang kecil dalam hampir seluruh persoalannya. Lihat saja kata “maslahah ‘ammah”,1 yang berarti kesejahteraan umum. Inilah seharusnya yang menjadi objek dari segala macam tindak­ an yang diambil pemerintah. Kata kesejahteraan umum dan/atau kemaslahatan umum itu tampak nyata dalam keseluruhan umat Islam. Yang langsung tampak, umpamanya, adalah kata kunci da­lam adagium fiqh: “tindakan/kebijakan seorang pemimpin atas rakyat (yang dipimpin) sepenuhnya bergantung kepada kebutuh­an/kesejahteraan mereka (tasharruf al-imâm ‘ala al-ra’iyyah manûthun bi al-mashlahah).”2 Adapun yang tidak langsung mengenai kebutuhan orang banyak dapat dilihat dalam adagium lain: “menghindarkan keru­ sakan/kerugian diutamakan atas upaya membawakan keuntung­ an/kebaikan (dar’u al-mafâsid muqaddam ‘alâ jalbi al-mashâ- lih).”3 Artinya, menghindari hal­-hal yang merusak umat lebih diutamakan atas upaya membawakan kebaikan bagi mereka. De­ ngan demikian, menghindari kerusakan dianggap lebih berarti daripada mendatangkan kebaikan. Adagium inilah yang diguna­ kan Dr. Amien Rais untuk meyakinkan penulis untuk menerima pencalonan sebagai Presiden Republik Indonesia, tiga tahun lalu. Karena Amien yakin bangsa ini waktu itu belum dapat meneri­ma seorang wanita (Megawati)4 sebagai Presiden negara, hingga dikhawatirkan akan ada perang saudara jika hal itu terjadi.

Nah, pengaturan melalui kesejahteraan/keselamatan/ke­ utuhan sesuatu, secara langsung atau tidak langsung, menjadi pegangan gerakan­gerakan Islam di negeri kita semenjak dahu­ lu. Contoh terbaik dalam hal ini adalah gugurnya Piagam Jakarta (The Jakarta Charter) dari Undang­Undang Dasar (UUD) kita. Para pemimpin berbagai gerakan Islam pada saat itu, tanggal 18

Agustus 1945, setuju membuang Piagam Jakarta tersebut dari UUD ‘45, agar bangsa kita yang heterogen dalam asal­usul mere­ ka itu dapat bergabung ke dalam pangkuan Republik Indonesia. Pendapat yang dipegang oleh Ki Bagus Hadikusumo dan KHA Kahar Mudzakir dari Muhammadiyah, Abi Kusno Cokrosuyoso dari Sarekat Islam, A. Rahman Baswedan dari Partai Arab Indo­ nesia (PAI), A. Subardjo dari Masyumi, H. Agus Salim dan A. Wahid Hasjim dari Nahdlatul Ulama (NU),5 itu jelas menonjol­ kan semangat persatuan Indonesia pada tingkat paling tinggi. Bahwa para ulama fiqh (Hukum Islam) tidak menolak tindakan itu, menunjukkan dengan jelas bahwa keutuhan dan kesejah­ teraan umat dinilai begitu tinggi oleh berbagai gerakan Islam.

Dengan demikian, tertolaklah anggapan bahwa Islam ha­nya bersandar pada formalitas belaka. Secara kultural, masuknya beberapa unsur budaya lokal ke dalam budaya Islam, atau seba­ liknya, merupakan bukti kuat akan hal ini. Tari Seudati yang di­ gambarkan dengan indahnya oleh James Siegel6 dalam The Rope of God, sebagai kesenian daerah Aceh yang bernapaskan praktek­ praktek kaum sufi itu. Demikian pula, diciptakannya tembang Ilir-ilir oleh Sunan Ampel, menunjukkan bagaimana terjadi sa­ ling pengaruh­mempengaruhi yang sangat halus antara budaya daerah kita dan budaya agama yang dibawakan oleh Islam. Demikian pula manifestasi budaya santri dalam tradisi Tabot8 di Sumatera Barat dan Bengkulu. Dengan mudahnya wahana ekspresi keagamaan kaum Syi’ah itu menjadi budaya daerah setempat di hadapan tindakan-­tindakan “budaya Sunni”

Nah, hal ini yang menjadi tantangan kita dewasa ini. Ayat kitab suci al­-Qur’an “Dan dalam diri utusan Tuhan benar­benar telah ada contoh yang sempurna bagi orang yang mengharapkan kerelaan Allah, kebahagiaan akhirat dan senantiasa ingat akan tanda­tanda kebesaran Allah (laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun hasanatun li man kâna yarju Allâha wa al-yauma al âkhira wa dzakara Allâha katsîra)” (QS al-Ahzâb [33]:21). Dalam kasu makro ayat itu dapat juga digunakan sebagai peng­ ingat bagi kita akan pentingnya melestarikan lingkungan alam.

Hal­hal seperti ini seharusnya menjadi tekanan bagi gerak­ an­gerakan Islam dalam membangun bangsa. Bukan malah me­ mentingkan formalisasi ajaran­ajaran agama tersebut dalam kehidupan bernegara, yang tidak menjadi kebutuhan utama masyarakat. Jika penampilan dari agama Islam terwujud tanpa formalisasi dalam kehidupan bernegara, maka agama tersebut menjadi sumber inspirasi bagi gerakan­-gerakan Islam dalam ke­ hidupan bernegara, seperti di negara ini.

Dasar perjuangan seperti inilah yang sebenarnya meng­ ilhami juga lahirnya partai­partai CDU (Christian Democratic Union, Uni Demokratik Kristen)9, di Jerman dan sejumlah nega­ ra lain. Inti dari pandangan seperti itu, terletak pada kesadaran bahwa agama harus lebih berfungsi nyata dalam kehidupan, dari­ pada membuat dirinya menjadi wahana formalisasi agama yang bersangkutan dalam kehidupan bernegara. Esensi inilah yang telah dijalankan dengan sangat baik oleh berbagai gerakan Islam di negara ini semenjak beberapa puluh tahun yang lalu.

1 Teori tentang maslahah telah dirangkum dan dibahas secara kompre­ hensif oleh Izzuddin Ibn Abdissalam dalam karyanya Qawa’idul Ahkam Fie Masalih Al-An

2 Kaidah ini sangat populer dalam “turas qadim/literatur klasik” pesantren mulai dari Al-Asybah wa an-Naza’ir karya Jalaluddin As-Suyuti dan juga judul kitab yang sama karya Ibnu Nujaim al­Hanafi sampai dengan lite­ ratur karya Ulama kelahiran Padang Indonesia yang sangat masyhur di Saudi Arabia, Syeikh Yasin al­Fadany Al­Makky yang berjudul “Al-Fawa’id al-Janiy- yah ala Syarh Al-Mawahib Al-Saniyyah Ala al-Fara’id al-Bahiyyah

3 Adagium ini merupakan salah satu dari lima adagium pokok dalam diskursus kaidah fiqih yaitu al-umur bimaqashidiha, al-yaqin la yuzalu bi as- syak, al-dlarar yuzalu, al-masyaqqat tajlibu at-taisir dan dar’u al-mafâsid muqaddam ‘alâ jalbi al-mashâlih

4 Megawati Soekarno Putri, begitu nama lengkapnya, adalah putri per­ tama presiden Republik Indoensia Soekarno yang kemudian menjadi presiden ke­5 RI.

5 Mereka semua adalah anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang mewakili berbagai kelompok masyarakat dan berbagai kelom­ pok Islam yang bertugas merumuskan UUD 1945 seperti yang kita kenal seka­ rang. Kini UUD 1945 itu telah diamandemen beberapa pasalnya setelah tum­ bangnya Orde Baru, kecuali Preambule atau Pembukaan tidak diperkenankan untuk diubah.

6   James Siegel adalah Profesor Antropologi dan Kajian Asia di Uni­ versitas Cornell Amerika Serikat. ‘The Rope of God’ bukunya yang mengulas tentang sejarah Aceh diterbitkan pertama kali tahun 1969. Pada tahun 2000, buku tersebut diperbaharui dengan memasukkan dua bab sejarah kontemporer Aceh.

7 Salah seorang wali dari Wali Songo yaitu Sunan Ampel (versi lain me­ nyebut Sunan Kalijaga) menciptakan tembang ini sebagai sarana syi’ar Islam. Tembang berbahasa Jawa ini juga diyakini sarat dengan nilai tasawuf.

8 Tradisi Tabot diadaptasi dari upacara Assyura, hari berkabung bagi kaum muslim Syi’ah atas gugurnya Husain bin ‘Alî bin Abi Thalib, cucu Rasu­ lullah Saw dari puteri Beliau Fâthimah al-Zahra. Husain gugur dalam perang tak seimbang antara 40 pengikut beliau dengan ribuan pasukan tentara ‘Ubai­ dillah bin Zaid di Padang Karbala Iraq, pada 10 Muharam 61 H (681 M).

9 Dalam anggaran dasarnya partai ini mengklaim sebagai partai yang diinspirasi oleh nilai­nilai etika sosial gereja kekristenan dan nilai­nilai tradisi liberal pencerahan Eropa. Dilahirkan pada tahun 1945 CDU berangkat dari partai lokal sebelum partai yang bersifat nasional terbentuk.
Dikutip sepenuhnya dari Wahid, Abdurrahman. 2007. Islamku, Islam Anda, Islam Kita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top