Celoteh Santri Gus Dur

Sepotong Kisah Laga di Tulisan Pengantar

©santrigusdur

©santrigusdur

Oleh: Aziz Dharma*

Tiga jam di kamar, dengan listrik padam dan daya baterai di gawai sudah kering, membuatmu tak punya banyak pilihan. Apalagi di luar hujan dengan tanpa memberikan kesempatan menyela. Tugas-tugasmu masih menumpuk, tapi kau biarkan mereka. Listrik padam, mau bagaimana lagi?

Kau lenyapkan dirimu lagi dalam kasur lipat yang ditata menyerupai sofa tanpa kaki. Di sana, sebuah buku yang kau beli lebih dari dua tahun yang lalu sudah menunggu. Kau sadari betul kenapa ia di sana: bacaanmu melompat-lompat, tak pernah selesai satu per satu.

Buku itu kau beli dari seorang tukang fotokopi di Gang Komojoyo, Jalan Gejayan, Yogyakarta. Lapaknya berhadap-hadapan dengan pagar kampus tempatmu kuliah. Sebagai mahasiswa, orang yang masih belajar, tak apa menduplikasi buku; dirimu beralasan.

Tadi malam terpaksa kau baca lagi dari halaman awal. Dirimu mengira, ingatan tentang buku itu sudah tertumpuk banyak hal lain. Dan, nyatanya memang begitu. Buku yang diterbitkan tahun 2006, beberapa waktu setelah si penulis buku turun dari jabatannya sebagai presiden, mulai kau buka lembar demi lembar.

Kau awali dengan membaca lagi pengantar yang dibikin oleh seorang warga negara Indonesia yang kuliah di Australia. Dia orang Muhammadiyah. Salah satu yang dipandang orang sebagai cendekiawan. Di pengantar itu, ia ceritakan bahwa pertemuannya dengan si penulis buku: awalnya hanya untuk wawancara tesis, tapi si pewawancara malah diminta tolong menyunting dan menulis pengantar buku dengan lawan bicaranya.

Ia bimbang. Tak dijawab langsung tawaran itu. Ia khawatir kalau dalam penyuntingan prosesnya tak becus dan malah gagal dalam memotret otentisitas gagasan yang termaktub dalam naskah. Bagaimana tidak? “Jangankan saya yang berlatar belakang Muhammadiyah, bahkan di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sendiri pun, pikiran dan sepak terjang penulis tak selamanya bisa dipahami kalangan nahdliyin,” tulisnya.

Adalah seorang kawannya, Haidar Bagir si Direktur Penerbit Mizan, yang kemudian meyakinkan (bahkan mendorong) dirinya untuk menerima tawaran itu. Beberapa kenalan lainnya mengekor memberi semangat, dan akhirnya nama M. Syafi’i Anwar tertempel di sampul depan sebagai penulis kata pengantar sekaligus penyunting buku.

Selain berbasa-basi dengan kisah wawancara tesisnya, si pengantar juga menceritakan sisi lain bagaimana ia disebut-sebut sebagai “penghubung” antara si penulis buku dengan orang-orang Muhammadiyah sewaktu bersitegang dalam suatu masa. Sepanjang membaca kisah-kisah pertemuan yang panjang tadi, kau berulang kali mengernyitkan dahi. Baru pada bagian si pengantar masuk dalam pembahasan tentang latar belakang kehidupan si penulis, kau mulai agak nyaman kembali dalam membaca. Beberapa kali kau bahkan sampai terhenyak.

Si penulis buku disebut-sebut sebagai seorang fundamentalis pada masa mudanya. Si pengantar menulis, “…di masa mudanya, di tahun-tahun 1950-an, ia mengikuti jalan pikiran Ikhwanul Muslimin, sebuah kelompok Islam ‘garis keras’ yang pengaruhnya juga sampai ke Jombang, Jawa Timur.” Tak hanya itu saja, ketertarikan si penulis buku untuk mempelajari nasionalisme dan sosialisme Arab mengantarkannya pergi ke Universitas Al-Azhar, Kairo dan Universitas Baghdad, Irak. Si penulis buku tekun mempelajari pemikiran yang ia temui di sana, tapi sampai taraf tertentu ia tidak bisa mengamininya. Di mana titik itu? Cara-cara kekerasan.

Baru ketika kepulangannya ke Indonesia pada 1970-an, pakansi pemikirannya memulai level kosmopolit. Tentang cara pandang beragama, ia mantap menolak formalisme; konsep negara Islam tidak akan cocok di Indonesia. “Ia melihat realitas bahwa Islam sebagai jalan hidup (syari’at) bisa belajar dan saling mengambil berbagai ideologi non-agama, bahkan juga pandangan dari agama-agama lain.”

Petir tiba-tiba menjerit di luar. Karena kaget, tak disadari buku yang kau baca terlempar begitu saja. Merepotkan, harus mencari sampai mana tadi membacanya. Ketika membuka kembali buku itu, baru kau sadari bagian Pengantar Redaksi sedari tadi luput kau baca. Kau lantas menunda lanjutan halaman Kata Pengantar.

Pengantar Redaksi dibuka dengan slogan yang nilai pesannya juga tertulis di satu kaos yang terlipat rapi di rak bajumu: Tuhan tidak perlu dibela. Pesan yang kemudian menjadi judul sebuah buku yang terbit beberapa tahun sebelum tulisan Pengantar Redaksi dibikin. Maju mundur bercerita, salah satu paragrafnya memberikan aksen tentang buku yang coba redaksi antarkan. “‘Pembelaan’, itulah kata kunci dalam esai-esai kumpulan tulisan si penulis buku kali ini. Maka, bisa dikatakan, esai-esai ini berangkat dari perspektif korban, dalam hampir semua kasus yang dibahas.”

Si penulis buku, dikatakan oleh redaksi, tidak pandang bulu, tidak membedakan agama, etnis, warna kulit, posisi sosial, agama apapun untuk melakukannya. Tuduhan-tuduhan pemimpin ketoprak, klenik, neo-PKI, dibaptis masuk Kristen, kafir, murtad, agen Zionis Yahudi, dan sebagainya menjadi makanan sehari-hari. Bukan lain karena tindakan pembelaannya.

Kemudian, kau disodori berbagai nama oleh ulasan redaksi: Inul Daratista yang terus bergoyang, Ulil Abshar Abdalla yang divonis halal darahnya oleh para ulama, dan Abu Bakar Ba’asyir yang waktu itu baru menjadi tertuduh teroris. Mereka adalah orang-orang “nyentrik” yang sempat dibela oleh si penulis buku. Kau mulai mengingat masa-masa sekolah dasarmu, masa di mana kau mendengar nama-nama itu jadi bahan obrolan di televisi.

Beberapa contoh lain yang disebut redaksi adalah rakyat kecil yang menjadi korban pemerintah sendiri dan terpaksa mengikuti Gerakan Aceh Merdeka di ujung barat laut Indonesia dan Organisasi Papua Merdeka di ujung timur Indonesia. Masyarakat Ambon yang menjadi korban rekayasa kekerasan juga disinggung bersamaan dengan kasus-kasus konflik agama (lebih-lebih minoritas) yang menyertainya.

Imajinasimu kemudian dibawa ke luar negeri. Ingatan tentang kota-kota yang luluh lantak dibombardir negara lain masuk ke dalam angan-anganmu. Irak, Palestina, dan “serta rakyat tertindas di negara-negara berkembang atas dominasi kapitalis dunia dalam globalisasi” menjadi bagian yang perlu selalu dibela menurut si penulis buku. Redaksi hanya membuat sari-sarinya.

Sebenarnya kau ingin melanjutkan membaca kelanjutannya, namun tiba-tiba terik lampu kamar mengagetkan matamu yang sedari tadi menatap buku di sudut kamar yang setengah gelap. Keduanya tak langsung bisa menerimanya. Sedikit demi sedikit, kau biarkan kedua matamu membuka diri. Listrik PLN sudah sampai di kamar lagi, tapi hujan masih awet di luar. Buru-buru kau isi ulang daya di gawaimu.

Begitu mulai terisi, kau lihat satu per satu pesan yang masuk. Hanya pesan dari seorang dosen yang buru-buru kau baca dan balas. Kebanyakan yang lain tidak penting. Jempolmu baru berhenti mengusap layar setelah membaca sebuah kabar dari Jakarta:

 

Assalamualaikum. Hari ini, 21 Maret 2017, warga Kendeng berduka, jam 2.55 dini hari, Ibu Patmi (48th) meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Beliau dikenal sebagai pejuang yang gigih menolak semen sejak awal. Mohon doa bagi arwah beliau dan keluarga yang ditinggalkan.

Jenazah akan dimakamkan di Desa Larangan, Tambakromo, Kabupaten Pati.

Semoga kepergian beliau menjadi penyemangat yang akan memperluas solidaritas kita menyelamatkan Pegunungan Kendeng. Wassalam.

 

Seketika kau ingat dengan buku yang tadi kau tinggalkan begitu saja di kasur yang dilipat menyerupai sofa tanpa kaki itu. Nama pengarangnya tak begitu terlihat. Kalian berdua berjarak cukup jauh. Hanya judul buku yang jelas-jelas bisa terbaca dari tempatmu terikat dengan gawai dan kabel listrik. Di sana tertulis: Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Lantas kau tiba-tiba menduga, jika si penulis buku masih hidup saat ini, jelas dia akan memihak aksi para petani Kendeng menolak pabrik semen.

Duh Gusti, semoga engkau memberi tempat terbaik bagi Bu Patmi. Alfatihah.

 

*Aziz Dharma. Penulis adalah jurnalis kampus; alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan ke-3 (KPG III)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top