Review Buku

REVIEW BUKU “TUHAN TIDAK PERLU DIBELA”

tuhan tidak perlu dibela gus durSaya membagi buku ini secara pribadi dalam beberapa aspek, pertama fenomena masyarakat beragama, kedua relasi agama dengan kebudayaan, ketiga kontektualisasi agama dengan negara.

Kalau melihat secara keseluruhan buku ini, banyak sekali aspek yang dibahas oleh Gusdur, mulai dari agama, sosial, budaya, politik (dalam maupun luar negeri), sosok, bahkan sepakbola pun sempat disinggung. Ini menunjukkan keberagaman dan keluasan berpikir seorang Abdurrahman Wahid.

Konteks pertama, fenomena masyarakat beragama disinggung dalam beberapa isu yang selalu rame pada saatnya, seperti pengucapan selamat natal, musik dalam agama, hingga fenomena arabisasi.

Konteks kedua, Gusdur mengangkat relasi agama dengan budaya, yang sering kali menjadi pertentangan ketika agama itu sendiri menjadi acuan kebudayaan dan seringnya salah kaprah dengan menganggap budaya arab sebagai budaya islam. Salah satu pernyataan Gusdur yang menarik dalam buku lain adalah ,”” Agama tidak akan kehilangan kebesarannya dengan menjadi etika sosial …””

Konteks ketiga, Gusdur menyinggung kontekstualisasi nilai dan ajaran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Konteks ini juga dilihat dalam prakteknya di beberapa negara seperti Palestina, Israel, Iran, Irak, dll.

Secara keseluruhan dengan sangat beragamnya isi buku ini sebetulnya saya menafsirkan, ada suatu hal yang ingin disampaikan Gusdur secara tersirat, yaitu bahwasanya Tuhan itu tidak melulu masalah ibadah, namun semua hal/aspek yang ada di alam semesta ini adalah bahasanya Tuhan. Kehidupan manusia-manusia di bumi tidak sekedar apa yang ada di sekitar kita, ini menjadi sangat beragam, dan membutuhkan kejernihan pikiran dalam menyikapi keberagaman ini.

Penulis: Abdurrahman Hamas Nahdly, peserta kelas pemikiran Gus Dur 3
Gambar: dari Google
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top