Celoteh Santri Gus Dur

Demam Batu Akik

© istimewa

© istimewa

Oleh: Abdurrahman An Nasher*

Fenomena batu akik akhir-akhir ini begitu menyita perhatian banyak orang. Saya sendiri dipaksa untuk mengamati fenomena tersebut. Karena koran maupun media elektronik yang saya baca, selalu menampilkan berita terkait batu akik. Baik itu kisah pendulang batu, bagaimana cara memperolehnya, maupun dalam analisa monkey business, yang katanya, fenomena ini tidak akan bertahan lama, sepertihalnya pada kasus ikan Louhan, tanaman Gelombang Cinta, dan lain-lain yang pernah ngetren di Indonesia.

Yang jelas, akhir-akhir ini, ada orang yang tiba-tiba kaya karena fenomena tersebut. Ada juga yang tergila-gila, bahkan siap membandrol puluhan juta rupiah demi batu yang diincarnya dan diyakininya dapat memberikan keberutungan. Dalam hati saya, apakah ini yang dinamakan dengan zaman batu? Ke mana-mana yang diburu adalah batu.

Kalau disadari, sebenarnya fenomena ini merupakan peringatan untuk semua manusia, terlebih bagi umat Islam. Khususnya dalam hal kesadaran “pola pikir”. Mengingat sekarang ini adalah eranya android, digital, serba maju. Tetapi kenapa masih ada yang fisiknya modern tetapi cara berpikirnya kembali ke zaman batu? Tidak hanya itu saja, akhir-akhir ini banyak orang yang bersifat seperti batu; keras, mudah emosi, dan gampang menyulutkan api perpecahan.

Inilah yang menjadi masalah di dalam kehidupan beragama kita saat ini. Orang sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi masih saja gemar melakukan kekerasan, suka tawuran dan rusuh atas nama agama. Padahal, secara fitrahnya, manusia adalah beda. Keberagaman adalah sunnatullah. Yang beda jangan disamakan dan yang sama jangan dibeda-bedakan. Sama halnya dengan batu akik. Semuanya memiliki jenis tersendiri, ada yang namanya merah delima, kecubung, giog, pirus, dll.

Walaupun jenisnya berbeda, hakikatnya adalah sama; batu. Dari dulu, orang Islam nusantara tidak kenal dengan dikotomi Sunni-Syi’ah, semuanya rukun hidup berdampingan. Tetapi, kenapa akhir-akhir ini orang begitu mudah melabeli kata “mereka bukan Islam”, “sesat”, dan lain sebagainya. Dalam hemat saya, mungkin orang seperti itu belum paham apa itu “Islam”.

Saya pribadi, sebagai orang awam, sungguh tersentak dengan kejadian memilukan ini yang dapat menyebabkan perpecahan dan ingin menang sendiri. Di mana-mana orang mudah mengklaim dirinya sebagai pelaku kebenaran. Banyak pula orang yang suka menebar teror. Sudah tahu kendaraan agama yang dipilihnya itu benar tetapi masih saja merusak kendaraan yang dipakai oleh orang lain. kalau kita memang percaya kalau kendaraan itu benar, tidak usah mengusik maupun menyenggol kendaraan orang lain. Jika demikian, yang terjadi adalah kecelakaan dan akan menimbulkan luka dalam sejarah kehidupan kita. Hidup ini sepertinya terlalu buruk jika selalu membenci orang lain. Menuduh mereka sesat dan memaksa keyakinan kepadanya.
Bukankah kehidupan saat ini sudah modern, majemuk, plural dan beragam. Kita tidak bisa hidup sendirian. Mau pergi ke masjid misalnya, kita butuh sandal dan pakaian, lalu, apakah kita bisa menjahit dan membuat sandal sendiri?

Batu Hajar Aswad
Kalau saya amati, fenomena batu akik ternyata tak jauh berbeda dengan batu “hajar aswad”, batu hitam yang konon datangnya dari surga. Batu tersebut memang selalu diperebutkan oleh para jamaah haji maupun Umrah di seluruh dunia. Mereka banyak yang berhasrat ingin menciumnya.
Yang menarik di sini adalah pernyataan dari Khalifah Umar bin Al-Khattab ketika beliau mencium batu Hajar Aswad: “Aku tahu, sesungguhnya engkau hanyalah batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah Saw., menciummu, sudah tentu aku tidak akan melakukannya (mencium Hajar Aswad).”

Namun, realitas apa yang terjadi ketika jamaah haji saling rebut ingin mencium hajar aswad? Mereka saling bersenggolan, sikut-menyikut, tak jarang banyak korban yang pingsan karena terinjak-injak. Lebih parahnya adalah banyak jasa (tukang) yang siap mengantarkan jamaah agar bisa menciumnya. Tergantung, “wani piro?”.

Sesuatu hal yang awalnya sunnah (dengan niat ittiba’ rasul), tetapi menjadi haram ketika yang dilakukan dengan cara yang tidak baik. Maka dari itu, dulu sewaktu saya ngaji kitab Fathul Qarib di pesantren, guru saya pernah mengemukakan mengenai mencium hajar aswad, kalau yang terjadi—apabila mencium batu tersebut dapat mendatangkan madharat (bahaya), maka hukumnya adalah makruh (lebih baik dihindari).

Ada pernyataan menarik dari teman saya. Ia seorang penjual batu akik dadakan, yang barang dagangannya hanya sebatas perhiasan semata tanpa mengkultuskannya, dia kemudian mengatakan kepada saya; “Aqidah dan Iman umat Islam tidak akan luntur karena batu hajar aswad dan batu akik, tetapi bibit pertikaian dan perpecahanlah yang akan menghancurkan umat dan agamanya”. Wallahu a’lam.

*Jama’ah Mushola Ad-Dakhil Timoho Yogyakarta.

Tulisan ini dimuat di buletin Jum’at santri edisi 2.

3 Comments

3 Comments

  1. Tarik Rejeki Kekayaan

    April 25, 2015 at 11:54 pm

    It’s fantastic that you are getting thoughts from this paragraph as well as from our discussion made here.

  2. Kecubung Aura

    December 31, 2015 at 4:02 am

    Sayang trend batu ini mulai menurun ya gan. Thanks for sharing

    • admin

      January 3, 2016 at 12:32 pm

      inggih, gan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top