Review Buku

Prisma Pemikiran Gus Dur: Sebuah “Pledoi” Enigma?

Oleh: Irza Anwar Syaddad*

Jika dalam konstelasi transportasi terdapat anekdot yang berbunyi, “Hanya supir bajaj dan Tuhan yang mengetahui kapan dan ke mana arah bajaj akan belok”, maka dalam dunia pesantren –sebenarnya dilematis, “menyempitkan” ruang dalam domain pesantren–, memiliki tokohnya sendiri, Gus Dur. “Hanya Gus Dur dan Tuhan yang mengetahui kapan dan apa maksud manuver-manuver Gus Dur selama hidupnya”.

Barangkali hal itu tidak berlebihan. Greg Barton sendiri, yang telah “mengikuti” kehidupan Gus Dur selama beberapa tahun, masih terkagum-kagum dengan pribadi Gus Dur yang unik: bagaimana seorang yang amat membanggakan Islam tradisionalnya, tapi mampu bersikap egaliter bahkan liberal? (hlm. xxiv).

Itu baru Greg Barton. Di lingkungan keluarga Gus Dur sendiri pun, dalam beberapa hal, mereka masih kesulitan untuk memahami pemikiran dan tindak laku Gus Dur yang eksentrik. Putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah, sampai mengatakan, “Memahami Gus Dur gampang-gampang susah. Ibarat teks agama, sifatnya ada yang terang benderang (dan) ada yang samar-samar” (kompas.com, 28/12/2013).

Mungkin, dengan maksud menyibak (sedikit) selubung ketaksaan itulah, rampai artikel Gus Dur dikumpulkan dalam Prisma Pemikiran Gus Dur.

Ensiklopedis dan Avonturir

Dari buku ini, Gus Dur semakin meneguhkan dirinya sebagai seorang cendekiawan yang ensiklopedis. Ia tidak hanya menyoroti isu pesantren dan –tentu saja– Jombang (hlm. 69), sebagai basis dan tempat tumbuh kembang intelektualnya, namun ia juga mampu mengomentari perkembangan dunia yang sedang terjadi dengan apik, yang beberapa di antaranya dianalisis menggunakan ilmu-ilmu sosial, yang (kemungkinan) tidak diperolehnya di bangku pendidikan.

Ini terlihat dari bagaimana Gus Dur membicarakan peran agama sebagai aktor (bahkan andil) dalam pembangunan (hlm. 1) dan reformasi (hlm. 175). Gus Dur mengkritik sikap Barat yang bersikap apriori terhadap agama. Agama, bagi mereka adalah eskapisme dari realitas. Mengutip Pavan Varma, Meera Nanda, dalam The God Market juga mengamini pendapat sinis ini, bahwa dalam merespon gempuran modernisasi, agama hanya sebagai tempat mengasingkan diri dari perasaan keterasingan dan kesepian sebagai imbas dari urbanisasi (Meera Nanda, 2011, 104).

Gus Dur membantahnya dengan realita bahwa agama mampu mendorong dan berpartisipasi untuk terlaksananya rencana pembangunan yang telah dicanangkan oleh negara. Misalnya beberapa gerakan Katolik di Filipina dan Amerika Latin. Yang lebih mengagumkan adalah bagaimana para mullah (pemimpin agama) di Iran yang mengadopsi semangat Marxisme untuk menggulingkan rezim tiran Syah Reza Pahlevi (hlm. 21). Selain Iran, di Peru juga terdapat gerakan yang serupa, dengan mengatasnamakan teologi Kristen sebagai spirit pembebasan (hlm. 181).

Masih berhubungan dengan agama dan pembangunan, kemampuan Gus Dur dalam merespon peristiwa di berbagai belahan bumi dengan berbagai pendekatan, membuatnya tak hanya dianugerahi titel cendekiawan ensiklopedis, namun juga avonturir sejati. Tulisan-tulisan yang ada di buku ini membuktikan kekayaan pengalaman yang diperolehnya selama perjalanan intelektualnya di Timur Tengah dan negara-negara Eropa (hlm. 33).

Benih Pribumisasi Islam

Salah satu ide Gus Dur yang masih dan selalu relevan hingga sekarang adalah pribumisasi Islam. Yaitu ide tentang pengadopsian nilai-nilai universal yang dimiliki oleh Islam, untuk kemudian diterapkan di suatu daerah. Gus Dur mengusung ide seperti ini dikarenakan pemahaman umum masyarakat tentang agama adalah “kembali kepada ajaran yang benar”, atau “kembali pada ajaran yang asli”. Hal inilah yang kemudian menyempitnya pemahaman kaum muslim, karena pemahaman literal mereka terhadap dua sumber utama agama, al-Qur`an dan Hadis.

Ada dua contoh reinterpretasi Islam yang dikemukakan Gus Dur dalam buku ini, terutama tulisan yang bertajuk Penafsiran Kembali Ajaran Agama: Dua Kasus dari Jombang (hlm. 69). Kasus pertama adalah tentang munculnya gerakan organisatoris yang dimotori oleh ulama dan kemudian bernama Nahdlatul Ulama (NU). NU muncul sebagai “ideologi tandingan” atas maraknya “pembaruan” –yang sebenarnya malah kembali pada hal lama– yang digemakan oleh Muhammadiyah. Salah satu agenda tandingan NU adalah “pemaknaan ulang” ziarah kubur yang awalnya disejajarkan dengan perilaku syirik oleh Muhammadiyah. Menurut Gus Dur, ziarah kubur bukanlah meminta-minta kepada makam, namun dengan mengambil ‘ibrah dari siklus kehidupan yang diziarahi. Kasus kedua adalah bagaimana pemaknaan tarekat yang awalnya, kegiatan agama, sosial dan ekonominya, hanya terpusat di komunitas mereka, kemudian mampu memberi kemanfaatan bagi masyarakat sekitar.

Akan tetapi, afirmasi Gus Dur atas kasus kedua ini bertentangan dengan pendapatnya yang setema, dalam Massa Islam dalam Kehidupan Bernegara dan Berbangsa. Dalam tulisan tersebut Gus Dur nampak menggeneralisasikan agenda tarekat yang bersifat komunal dan parokial. Dalam tulisan tersebut, Gus Dur melakukan simplifikasi atas wacana tarekat dengan membuat demarkasi antara kekinian dengan (agenda) tarekat (hlm. 212). Karena pada masa sekarang, jelas terlihat kontribusi tarekat, dalam hal ini Naqsyabandiyah, dalam menggulingkan rezim Mustafa Kemal.Selain revolusi di Turki, di Indonesia sendiri terdapat kelompok tarekat yang mampu memberdayakan masyarakat, yaitu tarekat Syaziliyyah.

Miniatur 9 Nilai

Sebenarnya, Gus Dur tidak pernah merumuskan 9 nilai yang menjadi landasan dari gerak dan tulisannya. 9 nilai tersebut adalah hasil kristalisasi dari segala hal yang pernah dilakukan oleh dan bersama Gus Dur. Di antara karya-karya Gus Dur yang merepresentasikan 9 nilai tersebut adalah Prisma Pemikiran ini.

Misalnya adalah nilai keadilan yang tercermin dari Mencari Perspektif Baru dalam Penegakan Hak-hak Asasi Manusia. Gus Dur mengatakan bahwa untuk mencapai keadilan sosial, seluruh komponen masyarakat harus menjamin persamaan kesempatan yang lebih adil bagi semua warga masyarakat, yang dalam tulisan ini adalah bidang pertanahan (hlm. 100).

Nilai lainnya adalah kearifan lokal yang termanifestasikan dalam Pesantren, Pendidikan Elitis atau Populis, yang mengkritik sikap pesantren yang berlagak bak menara gading. Padahal pada awalnya, kekuatan lingkaran sosial pesantren adalah dengan warga sekitar, bukan dengan pemerintah (hlm. 113).

Pada akhirnya, karya Gus Dur ini adalah suatu usaha untuk membaca zaman, yang bisa saja salah. Namun, kesalahan tersebut tidak dapat dilihat dari satu cara pandang saja, karena itu akan menyempitkan pemahaman kita. Butuh usaha untuk memahami ambivalensi Gus Dur dalam menyikapi realita. Untuk itulah, adanya Prisma Pemikiran ini, diharapkan mampu menguraikan penggalan pernyataan Gus Dur yang nampak saling bertentangan. Semoga…

*Alumni Kelas Pemikiran Gus Dur III

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top