Celoteh Santri Gus Dur

Pemimpin yang Gundul-Gundul Pacul

Oleh: Muhammad Muzaini

Indonesia, negeri yang kaya akan harta, rasa dan karya. Tidak bisa diungkapkan lagi bagaimana indonesia dahulu, sekarang dan masa yang akan datang akan semua kekayaannya. Yang jelas, sekarang ini indonesia sedang mengalami sebuah kondisi yang mana saling berebut “mahkota” antar komponennya. Sehingga tidak bisa lagi mengurusi dan menikmati rasa, harta, dan karya yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

Kondisi yang paling riil sekarang ini adalah drama perseteruan antara dua institusi negara yang mengulangi perseteruan sebelumnya dengan sedikit perbedaan karena ada orang ketiga yang tidak bisa mengambil sikap tegas dan pas sesuai kebutuhan realitas.

Sebenarnya, banyak drama perseteruan lain yang tidak ada hentinya yang membuat seluruh rakyat Indonesia membuang waktu, tenaga, bahkan biaya, hanya untuk mengurusi drama-drama yang tidak mendidik itu. Seharunya waktu yang ada bisa digunakan untuk mengurusi dan menikmati kekayaan Indoensia dengan arif dan bijaksana.

Lalu, apa yang menyebabkan drama-drama ini selalu bermunculan? Yang membuat rakyat harus membuang-buang waktunya. Tidakkah para artis dalam drama tersebut malu akan kelakuannya? Yang seperti anak kecil tidak memiliki kedewasaan dan kearifan dalam berfikir dan bertindak.

Mereka seolah tidak pernah diberikan pelajaran, bagaimana seharusnya hidup itu dijalani. Padahal pada waktu kecil, para artis ini setidaknya pernah dinina bobokan dengan lagu “gundul-gundul pacul” oleh orang tuanya, atau setidaknya pernah mendengar lagu ini bagi mereka yang tinggal di lingkungan jawa. Dan pada lingkungan Non-Jawa ada lagu-lagu lain sejenis yang memiliki arti filosofis tinggi yang menunjukkan bagaimana kehidupan ini dijalani. Yang tidak saling menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya.

Ya, gundul-gundul pacul. Sebuah lagu berbahasa jawa dengan lirik yang sederhana tidak lebay. Namun memiliki makna yang dalam akan sebuah kehidupan, tidak seperti lagu-lagu zaman sekarang yang kebanyakan menunjukkan kegalauan generasi muda yang tidak bisa move on gara-gara cinta yang kurang pas pada tempat dan waktunya.

Lagu ini memiliki makna bahwa manusia itu “gundul” tanpa rambut yang harus memegang erat-erat “pacul” biar tidak “gemblelengan”. Yang mana mereka juga memiliki “wakul” yang harus mereka “sunggi”, namun jika masih “gemblelengan”, “wakul” akan “glempang” dan “sego” pun “dadi sak ratan”.

Mungkin masih ada yang bingung apa maksud dari paragraf di atas. Jadi seperti ini, manusia itu lahir dengan kepala plontos (gundul). Ini menyimbolkan bahwa manusia yang sejatinya manusia adalah mereka yang bisa menggunakan isi kepala plontos mereka yang berupa akal untuk mengambil sebuah keputusan bijak tanpa memandang mahkota yang berupa rambut atau apa pun itu. Yang mana mahkota ini menjadi simbol akan sebuah derajat, pangkat dan martabat duniawi yang penuh dengan kefanaan dan keserakahan.

Dengan kepala plontos pun manusia tetap akan memiliki kehormatan, tanpa harus memiliki mahkota. Karena di dalam kepala plontos itu selama masih terdapat akal manusiawi yang sehat, kehormatan akan selalu menyertai. Dan kehormatan semacam inilah yang akan menjadikan siapa pun itu pantas dan pas menjadi seorang pemimpin dimanapun lingkupnya. Karena tidak ada kebohongan, kepura-puraan, apalagi sebuah kemunafikan. Karena Kepala plontos menyimbolkan sebuah kemurnian dan ketulusan tanpa ada embel-embel apa pun, apalagi rambut yang sewaktu-waktu bisa rontok dan beruban.

Akal manusiawi yang bersemayam di dalam kepala akan menjadi sebuah kontroler bagi manusia dalam bertindak. Karena akal ini dalam menanggapi sebuah kondisi tidak hanya mengedepankan rasionalitas dan idealitas, tetapi juga menjunjung tinggi sebuah realitas kemanusiaan. Sehingga, manusia tersebut menjadi manusia yang plus, tidak “gembelengan”, tidak angkuh dan tahu anggah ungguh.

Tanda plus (+) merupakan sebuah simbol dari manusia yang bisa mengsinkronkan antara sebuah idealitas yang berupa garis vertikal dan realitas yang berupa garis horisontal. Yang mana kedua garis tersebut akan bersinggungan dengan posisi yang saling menyeimbangkan satu dengan yang lain, hingga panjang dari kedua garis tersebut bertemu pada titik yang mengakibatkan panjang antara bagian atas dan bawah sama, begitu pula bagian kanan dan kirinya.

***

Dalam menggunakan akal manusiawinya, manusia dibarengi dan didukung oleh 4 indera. Yaitu mata yang digunakan untuk melihat setiap permasalahan dengan objektif. Telinga yang digunakan untuk mendengarkan setiap nasehat dan curahan hati dari lingkungan sekitar. Hidung yang digunakan untuk mencium keharuman dari sebuah kebaikan, bukan sekedar bau-bauan yang dibuat-buat. Dan mulut yang digunakan sebagai media yang mengeluarkan hasil dari olahan akal berbahan dasar informasi dari mata, telinga dan hidung.

Keempat indera tersebut haruslah dikendalikan jangan sampai lepas, yang mana bisa menjadi “pacul” (papat kang ucul) dan akan mengakibatkan kerusakan. Pacul atau cangkul yang berbentuk lempengan besi segi empat menjadi sebuah simbol terhadap keempat indera tersebut. Pacul akan bermafaat ketika gangangnya dipegang dengan erat oleh petani untuk mengolah sawah, dan akan menimbulkan bahaya manakala dipegang oleh penjahat.

Bagian kedua dari makna filosifis lagu gundul-gundul pacul menunjukkan bahwa setiap manusia itu memiliki “wakul” berisi “sego“ yang menjadi simbol dari tanggug jawab yang diembankan kepadanya. Karena pada dasarnya manusia adalah khalifah, pengganti Tuhan dalam memakmurkan bumi seisinya bukan malah merusaknya. Itulah tanggung jawab yang paling mendasar dari manusia.

Tanggung jawab tersebut hanya bisa diemban dengan sebaik-baiknya dan menghasilkan sebuah capaian yang memuaskan ketika tidak ada unsur “gembleleng”, congkak, dan sombong yang bisa merongrong keberadaan dari tanggung jawab itu sendiri. Yang mana seharusnya tanggung jawab tersebut gugur dengan adanya hasil yang memuaskan, bukan gara-gara adanya rongrongan dari berbagai pihak yang tidak seharunya ikut campur. Sehingga mengakibatkan tanggung jawab yang ada terabaikan entah kemana arus membawanya pergi. Yang ada, pada akhirnya rakyatlah yang menjadi korban.

Seperti itulah ketika wakul berisi sego (nasi) dibawa oleh manusia yang gembleleng. Yang ada, sego akan tumpah ke ratan (jalanan) dan terinjak oleh lalu lalang orang yang lewat. Dan pada akhirnya sego yang seharusnya menjadi sumber energi baru bagi pemakannya, malah tumpah antah berantah, hilang dengan malang karena diinjak oleh lalu lalang orang.

Dalam hal ini seharusnya setiap manusia, apalagi para pemimpin dan pemegang kepentingan dalam setiap drama perseteruan institusi bisa merenungi dan mengamalkan makna yang terkadung dalam lagu gundul-gundul pacul ini. Sehingga mereka tidak hilang arah dan tahu apa yang seharusnya silakukan. Dan pada akhirnya akan muncul pemimpin-pemimpin “gundul” yang tidak memetingkan dirinya sendiri. Yang ada hanyalah berfikir dan bertindak bagaimana memakmurkan rakyat sebagai sebuah tanggung jawab yang harus diperjuanagkan hingga memperoleh hasil yang optimal. Bukan malah diabaikan apalagi terlupakan.

*Penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur III

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top