Pena Gus Dur

“In Memoriam” Benazir Bhutto

images

© istimewa

Oleh: Abdurrahman Wahid

Berita ini sangat mengejutkan: mantan Perdana Menteri Pakistan dan Ketua Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party/PPP) telah meninggal dunia. Ia terkena tembakan di dada dan ia meninggal dunia pada saat dilarikan ke rumah sakit. Ia meninggal dunia dalam usia yang relatif masih muda: di bawah 60 tahun.

Penembaknya adalah seorang fanatik dan ia meledakkan bom bunuh diri segera setelah melakukan pembunuhan. Ia mati bersama lebih dari 20 orang lainnya di tempat di mana ia melakukan kejahatan menembak Bhutto itu. Tetapi, orang mengira bahwa ia berasal dari golongan ekstrem yang dijadikan alat pembunuh intel militer. Semua hal ini masih perlu diselidiki.

Kita tidak bisa meramal dengan pasti bagaimana kelanjutan keadaan di Pakistan. Kita memang tahu bagaimana reaksi rakyat Pakistan terhadap pembunuhan politik itu sendiri, yaitu amuk massa di berbagai kota. Namun, bagaimana dengan nasib pemilu 8 Januari mendatang?

Satu hal yang patut dicatat bahwa Benazir Bhutto ketika terbunuh adalah orang terkuat untuk memimpin negeri itu setelah pemilu bulan Januari ini. Ia telah belajar banyak dari terbuangnya dirinya di Inggris, di antaranya adalah bahwa ia menjadi cinta demokrasi dan memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, kesungguhannya begitu besar dalam hal ini hingga ia merumuskan tujuan partainya dalam mengikuti pemilu sebagai bagian dari upaya menegakkan demokrasi. Untuk itu, ia me- ngorbankan segala-galanya bagi tujuan tersebut, termasuk nyawanya sendiri.

Keluarga Bhutto adalah keluarga pejuang yang mengorbankan dirinya sendiri bagi kepentingan negara dan bangsa. Ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, meninggal di tiang gantungan oleh diktator militer Muhammad Zia ul-Haq, kedua kakaknya mati ditembak ketika melanjutkan perjuangan sang ayah.

Benazir menjalani hal yang sama. Karena itu, patut dikatakan bahwa ia mewarisi tradisi mulia, bahkan mengorbankan segala- galanya bagi kepentingan menegakkan demokrasi. Di sinilah terletak keberaniannya. Mengapa sekarang justru para pemimpin kita tidak memiliki keberanian seperti itu?

Dikutip sepenuhnya dari http://www.unisosdem.org/ekopol_detail.php?aid=9188&coid=3&caid=31 yang terbit pada Surat Kabar Kompas 3 Januari 2008 dan dapat diunduh versi digitalnya http://kompas.com/kompas-cetak/0801/03/opini/4117093.htm

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top