Gus Dur dalam Pena

Gus Dur: Seorang Pejuang Kemanusiaan

istimewa

Google

“Here lies a humanist.
(Di sini berbaring seorang humanis).”

Suatu ketika, Bapak, waktu itu masih segar bugar, memberi pesan kepada kami anak-anaknya, bahwa Beliau menginginkan kata-kata itu yang akan menjadi penanda makamnya kelak.

Menjadi orang yang berjuang untuk kemanusiaan, memang seolah garis yang sudah ditetapkan untuknya. Seluruh hidupnya Beliau mengabdikan dirinya untuk membela mereka yang papa dan terpinggirkan. Sejak pukul lima pagi, rumah kami sudah terbuka untuk semua. Mulai dari warga yang teraniaya datang mengadukan nasibnya, atau mereka yang datang meminta doa, tak kurang pula yang bertandang mengharap lebih dari sapa. Semua dibantu dengan terbuka. Tak jarang membuat iri, kami anak-anaknya. Karena artinya, uang untuk membayar sekolah kami harus menunggu seminggu lagi, karena bagi Bapak membantu masyarakat yang papa adalah urgensi yang tidak bisa ditunda. Mama yang sedang mencicil untuk membeli televisi terpaksa mencari tambahan penghasilan dengan bekerja lebih keras lagi.

Buat Bapak, keluarga ditempatkan di bawah kepentingan agama, kemanusiaan, bangsa serta rakyat Indonesia. Di bawah keluarga barulah Bapak menempatkan kepentingan dirinya sendiri.

Pusat Kajian Islam Asia Tenggara yang Beliau cita-citakan, lengkap dengan perpustakaan besar di dalamnya, tidak pernah bisa terwujud karena Bapak lebih sibuk membantu pembangunan pondok pesantren orang lain. Universitas yang seharusnya berdiri lama, tetap hanya berupa rencana dan mimpi.

Menyambungkan demokrasi dengan keadilan sosial, serta menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat, adalah cita-cita yang ingin diupayakannya. Demokrasi yang tidak berhenti pada tataran prosedural, tetapi yang mampu mengefektifkan peran substansialnya, yaitu menjamin adanya keadilan bagi semua yang berujung pada pencapaian kesejahteraan masyarakat bangsanya.

Semua warga bangsa harus diperlakukan setara oleh negara, karena itu orang Papua dan Tionghoa misalnya, memang mesti dikembalikan hak-hak sipilnya.

Demokrasi juga menjamin eksistensi setiap warganya untuk beribadah dengan cara kepercayaan yang diyakininnya, karena itu gereja dan tempat ibadah lain mesti dilindungi.

Demokrasi mensyaratkan adanya supermasi sipil yang bergigi, karenanya tentara diarahkan untuk lebih mengurus kedaulatan teritorial dan bukan bersaing dengan warga sendiri.

Umat Islam yang menjadi mayoritas kelompok agama di Indonesia difasilitasi dan didorong agar mampu melaksanakan otentisitas ajaran agamanya yang menyeru kepada perdamaian dan menjadi kekuatan yang mengayomi kebhinekaan bangsa. Sementara mereka yang menebar kebencian atas nama agama, dibatasi atau bahkan dihentikan ruang geraknya.

Tasarraful iman ala ar-raiyyah menuutun bil maslahah, kebijakan pemimpin haruslah mengacu pada kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya.” Itulah kaidah fiqih yang menjadi pegangan Bapak. Obsesinya pada kemandirian ekonomi bangsa terekspresikan dalam gagasan tentang proses ekonomi baru dunia, antara Indonesia, India, China, dan Jepang, yang dalam benaknya akan mampu menjadi kekuatan pengimbang hegemoni kekuasaan Amerika dan Eropa. Produktivitas ekonomi harus diarahkan pada wilayah yang menjadi kekhasan lingkup geografis, kultur, dan sosial bangsa, karena itulah digagas berbagai kebijakan tentang kelautan kita.

Demi memperjuangkan kemanusiaan, kami menyaksikan keteguhan hati Bapak, tak bergeming membuat berbagai gebrakan bagi negeri, tak ingin membuat kompromi kalau hanya untuk mempertahankan kekuasaan yang hakiki.

“Tak ada kekuasaan yang begitu berharga, sehingga harus dipertahankan dengan menumpahkan darah,” begitu kata Bapak yang memang pengikut Gandhi sejati.

Bapak bukanlah orang yang terpasung oleh kekuasaan. Ketika segala jabatan formalnya dilucuti, tidak kemudian perjuangan Bapak lantas terhenti. Beliau tetap berkeliling negeri walaupun kondisi fisiknya makin melemah dan berbagai penyakit menggerogoti.

“Rasa sakit itu harus harus ditaklukkan,” pesan Beliau kala itu. Tak pernah ada keluhan, yang ada hanya semangat untuk berbakti.

Mengingat Bapak, selalu mengingatkan saya akan samudera, yang menerima semua yang datang kepadanya dengan penuh keikhlasan. Sungai yang mengalir membawa berbagai benda, baik bermanfaat maupun kotoran dan bangkai, diterima oleh samudera. Diolah lalu dikembalikan lagi kepada alam berupa segenap biota laut yang berguna bagi umat manusia. Samudera membiarkan dirinya dilayari segala benda tanpa pernah berkeluh kesah, menyediakan dirinya untuk terpanggang matahari agar bisa menyediakan uap air bagi turunnya hujan yang membasahi bumi.

Seperti itulah Bapak, yang menerima semua pujian dan cercaan, penghormatan, dan pengkhianatan dengan tertawa dan lapang dada.

Sejak kecil Bapak memang terpapar oleh berbagai ragam pemikiran dan wawasan, sehingga ranah aktivitas Beliau mengalir ke berbagai macam wilayah. Negarawan, budayawan, agamawan, aktivis HAM bahkan komentator sepak bola adalah sedikit dari, berbagai ‘judul’ yang disandangnya. Semua itu teramu menjadi sebuah bangunan visi tentang negeri yang kokoh bersandar pada gagasan mendasar tentang kemanusiaan, inklusivisme, nonsektarianisme, toleransi, dan pluralisme.

Bapak adalah samudera yang menerima segala keragaman dan kebhinekaan untuk disyukuri sebagai rahmat bagi bangsa ini.

Seperti samudera, kami menyadari bahwa Bapak bukan semata milik kami sekeluarga. Di samping milik sang Pencipta, Bapak adalah milik seluruh bangsa Indonesia, bahkan dunia. Kepergian Beliau bukan hanya duka bagi kami, tetapi duka bagi bangsa dan dunia.

Segal ucapan belasungkawa dan doa dari segenap lapisan masyarakat yang terus mengalir sampai hari ini menjadi obat penawar kedukaan kami. Demikian pula berbagai penghargaan yang diberikan serta tulisan yang dibuat untuk mengenang Bapak adalah sebuah hal yang sangat berharga dan tak lepas kami syukuri.

Dalam kaitan inilah, kami dan seluruh keluarga K.H. Abdurrahman Wahid menyambut baik diterbitkannya buku ini.

Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak Jakob Oetama dan Pak St. Sularto yang telah mendukung penuh penerbitan buku ini. Demikian juga kawan-kawan di WI yang sudah bekerja keras untuk mewujudkan buku ini. Kami berharap buku ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk merawat dan mengembangkan nilai-nilai perjuangan Gus Dur. Mewujudkan Indonesia yang damai, adil, dan sejahtera.

Winston Churchil salah satu tokoh favorit Gus Dur, pernah mengucapkan: History will be kind to me for I itend to write it. Sejarah akan berlaku baik kepadaku, karena akulah yang akan menuliskannya. Sepanjang hidupnya Gus Dur telah menuliskan sejarahnya sendiri, dan tulisan di makam Beliau hanyalah untuk mengabadikan apa yang selama ini telah kita saksikan, bahwa Gus Dur adalah orang yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemanusiaan. Di makam itu berbaring seorang humanis. Selamat jalan Bapak, kami anakmu yang selalu mencintaimu.

 

Mewakili keluarga Abdurrahman Wahid
Yenny Zannuba Wahid,
dalam sambutan pada buku “Damai Bersama Gus Dur”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top