Review Buku

Membaca Gus Dur Secara Otentik

Oleh: Isna Latifa*

Tabayyun Gusdur adalah buku yang sangat layak untuk dibaca dan dikaji. Tabbayun dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penjelasan. Dengan judul demikian kita mafhum mengapa buku ini diberi judul Tabayyun, sebab ulasan didalamnya berisi tentang penjelasan atau klarifikasi Gus Dur terkait banyak hal. Mulai dari pribumisasi islam, hak minoritas sampai reformasi kultural. Mulai yang penting sampai yang remeh-temeh dibahas dalam buku ini. Buku ini adalah hasil klipingan dari berbagai media masa yang pernah mewawancari Gus Dur.

Membaca buku ini harus diimbangi dengan pengetahuan yang luas. buku setebal 250 halaman ini disusun dengan model pertanyaan dan jawaban, sangat kasuistik. Kadang pembahasannya secara case by case. Jadi, perlu pembacaan secara kontekstual terkait apa yang ditanyakan oleh para jurnalis dengan hal-hal yang sedang dibicarakan. Secara tekstualis, buku ini belum sepenuhnya bisa dipahami secara utuh jika kita tidak tahu konteks sosial yang terjadi. Kata pengantar yang kadang ada disetiap sub judul juga belum bisa mengarahkan apa yang akan dibahas oleh Gus Dur dan para jurutinta itu. Meski demikian buku ini sudah bisa menjawab pola-tingkah maupun statemen Gus Dur yang kadang dianggap Kontroversial.

Berhubung buku ini sangat kasuistik, seputar masalah-masalah tahun 1998 kebelakang. Penulis sengaja mengambil hal-hal pokok yang sangat penting untuk dibahas kembali. Selain masih relevan dengan topik-topik tertentu, dan, memang ada beberapa topik sangat urgen untuk dibahas menyangkut persoalan bangsa hari ini. berikut poin-poin penting yang penulis ambil:

Pertama, Soal statemen Gus Dur yang dianggap Kontroversial. Dalam beberapa hal kita selalu menemukan ucapan maupun tindakan Gus Dur yang tidak lumrah dikalangan NU maupun bangsa sendiri. Tindakan yang demikian memang sengaja ia lakukan agar bangsa ini mau berpikir. Gagasan-gagasan yang ia lontarkan hanya sebagai pancingan untuk mengajak bangsa ini berpikir soal ini, soal itu dan bagaimana baiknya. (Lihat, hal 11) sedangkan menurut Roy Murtadlo tindakan yang demikian sengaja Gus Dur lakukan untuk memetakan orang-orang disekitarnya. Dengan reaksi tertentu dan berbeda-beda Gus Dur akan tahu bagaimana menghadapi orang dengan berbagai reaksi. Ini soal strategi dalam berkomunikasi, dan Gur Dur cerdas soal teknik itu.

Kedua, Gus Dur dan forum demokrasi. Pada Desember tahun 1990, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dibentuk dan mendapat dukungan oleh Soeharto. Organisasi yang diketuai oleh BJ Habibi bermaksud untuk meminta Gus Dur bergabung. Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Gus Dur. Ia beranggapan bahwa ICMI mendukug Sektarianisme dan akan membuat Soeharto semakin kuat. ICMI menganggap satu-satunya wadah untuk berjuang demi kepentingan umat islam. Disitulah Gus Dur merasa tidak setuju, dia mengganggap selama ini umat yang dibawanya dianggap dimana? (lihat, hal 14)

Tidak hanya tidak setuju, Gus Dur melawan ICMI itu dengan membuat Forum Demokrasi (FD). Sebagai organisasi tandingan sekaligus ruang untuk menumbuh kembangkan demokrasi yang selama ini dihimpit rezim Soeharto. Bersama 45 orang intelektual dari berbagai organisasi social dan agama Gus Dur membangun ruang demokrasi, mereka lancarkan kritik-kritik pedas terhadap pemerintah.

Ketiga, masalah mekanisme pengkaderan atau mempersiapkan calon presiden dam kaitannya dengan proses politik. Indonesia tidak memiliki mekanisme yang jelas terkait pengkaderan di partai maupun mempersiapkan calon presiden. Niscaya hal ini terjadi sebab rezim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun tidak pernah atau beranggapan pentingnya pengkaderan. Soeharto terlena dengan jabatan yang selalu diembannya sebagai presiden ia lupa akan masa dia akan turun, dan ia lupa mempersiapkan penggatinya. Akhirnya, yang ada hanya kekagetan politik yang ia tinggalkan. Sampai hari ini partai tidak pernah memiliki kader yang benar-benar lahir dari bayi, partai hanya bisa mengadopsi partisipan yang sudah besar dengan sendirinya. Dampaknya, partai akan didekte dengan kepentingan-kepentingan kelompok dan intrik-intrik politikpun akan bermain.

Keempat, soal Islam dengan wajah yang lain. Ketika Arswendo menyebarkan angket dan menomorkan Nabi Muhammad SAW dalam posisi tertentu, umat islam marah. Tetapi umat islam itu dipertanyakan Gus Dur. Umat yang mana ? orang-orang yang menyerang dan memarah-marai Arswendo itu hanya sedikit, jika dibandingkan dengan umat islam yang tenang, mereka tak seberapa. Apa gus dur dengan tindakan Arswendo?tentunya tidak, Gus Dur sendiri nggak setuju, malah menggoblok-goblokkan Arswendo, tetapi apakah harus marah sama Arswendo? Tidak. Kita tidak boleh marah dan ngamuk. Kalo semua orang begitu tentunya mereka akan menampakkan wajah Islam yang marah. Gus dur hanya ingin menampilkan wajah islam yang lain, islam yang rahmatalill’alamin. Ia mencoba melawan mainstrim demi kepentingan bangsa.

Kelima, Gus Dur selalu menjawab “biar sejarah yang membuktikan” misalnya soal kasus pembelaanya terhadap Arswendo, soal ia diturunkan dari jabatan presiden, dan lain-lain. Kenapa begitu? Itulah yang menjadi pertanyaan besar penulis. Apakah pernyataan Gus Dur itu secara disengaja agar bangsa kita ini mau belajar tentang fenomena-fenomena yang pernah dialami oleh bangsa yang besar ini. Sehingga bangsa ini dengan sendirinya selalu belajar dari kesalahan-kesalahan agar tidak terjebak pada lubang yang sama, dan atau mempunyai maksud yang lain. Hanya Tuhan dan Gus Dur yang tahu.

Keenam, Gus Dur Mengkritik Dwi Fungsi Abri. Dwi fungsi adalah doktrin yang diterapkan oleh Pemerintahan orde baru yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua tugas, yaitu pertama menjaga keamanan dan ketertiban negara dan kedua memegang kekuasaan dan mengatur negara. Dwifungsi sekaligus digunakan untuk membenarkan militer dalam meningkatkan pengaruhnya di pemerintahan Indonesia, termasuk kursi di parlemen hanya untuk militer, dan berada di posisi teratas dalam pelayanan publik nasional secara permanen.

Ketujuh, Humor Ekspresi Kewarasan. (hal: 123) dengan humor kita menabrak segala batas yang ada. Orang yang bisa memahami humor itu orang yang paling waras. Dengan humor kita bisa menembus bangunan kotak-kotak yang secara tidak sadar terbentuk dalam hidup kita. Dengan humor pula suasana akan lebih cair dan hangat.

Kedelapan, Negara dan Alquran (hal 130). Menurut al-Farobi apa itu negara? Negara adalah “negara tuhan” jadi negara agama. Kemudia al-Farabi menulis buku tentang negara, judulnya negara utama. Ternyata seluruh bangunannya dibangun atas asa-asas pemerintahan Plato. Al-Qur’an sebagai sumber dan kerangkanya dari plato. Persis, menurut Gus Dur materisemua boleh dari Alquran tetapi kerangkanya boleh pakek apapun. Jadi negara boleh dalam bentuk apapun tetapi sumber bernegara mengambil materi-materi dalam alqur’an. Semisal keadilan, kesetaraan dan sebagainya.

Kesembilan, peradaban Islam. Menurut Gus Dur peradaban islam adalah peradaban yang mampu mengayomi semua orang dan boleh digunakan oleh semua orang.

Kesepuluh, Sufisme Gus Dur. Menurut Gus Dur, sufisme merupakan sebuah jembatan yang menghubungkan manusia dengan tuhannya. Tidak semua legal formalistik. Orang sufi itu inheren dalam pemikiran, bahwa penyelamatan itu letaknya di tangan Tuhan. Kita harus mampu memiliki rasa cinta kepada Tuhan untuk memahami kapasitas Tuhan Sang Penyelamat. Hal ini berarti bahwa papun yang anda perbuat, apakah anda pengikut seratus persen legal formalistik, atau anda pengikut syariah paling top, atau anda orang suci yang selalu menjaga kewajiban dan menjauhi larangan, belum tetntu diterima oleh Tuhan. Sebab penerimaan sepenuhnya ada di tangan Tuhan bukan di tangan anda. Elemen terpenting sufisme adalah cinta kasih, disini ditekankan oleh gus dur kesalehanseorang sufi. Kesalehan yang bukan karena legal formalistik.

*Penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur III

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top