Review Buku

Ensiklopedi itu Bernama Gus Dur

Oleh: Rifqiya Hidayatul Mufidah

Membicarakan buku ini memang tidak ada habisnya. Buku yang berisi kumpulan teks-teks wawancara yang dipaparkan dalam bentuk teks feature ini mempunyai daya tarik sendiri bagi pembaca. Selain akan menemui banyak wawasan dan ide-ide Gus Dur dalam mengupas suatu kasus, di sana juga akan ditemui gerak-gerik dan gesture tubuh Gus Dur saat diwawancarai. Ihwal inilah yang menarik di dalam buku ini menurut hemat penulis.

Semisal, dalam suatu wawancara disebutkan, ketika Gus Dur di wawancarai oleh wartawan; tidak jarang tiba-tiba tertidur beberapa menit, lalu terbangun dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan. Atau, di dalam wawancara tersebut beliau sambil menata majalah, menata ruang kerjanya, dan juga bersenda gurau dengan putri-putrinya. Hal ini yang kemudian menarik memori kita untuk kembali bernostalgia dan kangen akan sosok Gus Dur yang unik itu.

Adapun isi dari buku ini ada banyak ulasan yang bisa didapatkan oleh pembaca. Diantaranya tema-tema seperti Demokrasi, Pribumisasi Islam, Sepak bola dan Guyonan ala Gus Dur yang selalu memiliki sensasi tersendiri. Jika dapat mengambil istilah masa kini, Gus Dur dapat dikatakan sorang yang multitasking—atau bahkan lebih dari itu—dimana hampir seluruh kasus-kasus yang terjadi saat itu, para juru warta pasti mencari dan menantikan tabayun-tabayunnya. Dan disitulah terlihat kecerdasan Gus Dur dalam menyikapi berbagai problematika. Seakan Gus Dur laiknya ensiklopedi yang berjalan. Selalu ada saja yang dikomentarinya menyangkut problem kehidupan masyarakat.

Membahas tentang problematika, buku ini mengulas berbagai permasalahan yang terjadi kala itu (pada era 98-an), seperti ICMI, Fordem dan gerakan-gerakan Gus Dur lainnya. Hingga ide-ide Gus Dur dimana publik belum banyak mengeksposnya. Sebab itu, penulis akan mengurai beberapa pergulatan ide-ide Gus Dur khususnya di NU serta ide beliau tentang pemberdayaan masyarakat sipil yang belum banyak diulas. Hal ini dirasa perlu dimunculkan saat ini, guna memperluas wawasan dalam melanjutkan perjuangan Gus Dur.

Adalah yang pertama tentang NU, dimana Gus Dur adalah pejuang di garda terdepan untuk menjaga NU pada Khittah-nya, 1926. NU adalah ormas yang berpaham Ahlusunnah wal Jamaah. Dan tentunya, ada beberapa konsekuensi yang menjadikan NU harus sesuai dengan tujuan atau khittahnya tersebut. Terutama di dalam bidang pendidikan, dakwah, serta NU tidak berpolitik praktis. Namun bukan berarti NU tidak menghormati hak-hak berpolitik. Bagi Gus Dur, warga NU dipersilahkan untuk menggunakan hak-hak politiknya, akan tetapi dengan cara yang baik, berakhlakul karimah.

Pandangan Gus Dur ini sempat menjadi trending topik. Terutama oleh kawan-kawan Gus Dur, yang sengaja diorbitkan sebagai pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Kemudian, para pembaharu ini yang selalu merespon terhadap pandangan-pandangannya tentang politik. Lalu muncullah ritme-ritme politik Islam. Semisal, Muhammadiyah, PPP, ICMI dan MUI.

Berkaitan dengan hal itu pula kemudian berlanjut dalam cara pandang beliau mengenai politik sebagai moral, bukan sebagai institusi an sich. Islam dalam konteks apapun termasuk politik, harusnya memunculkan sikap yang berpacu pada keadilan, kesetaraan dan kemaslahatan umat. Bukan sebagai suatu benda yang cover atau bajunya bersegelkan Islam, namun tujuannya hanya untuk kepentingan pribadi. Hal ini mungkin perlu dibaca kembali dalam konteks sekarang. Karena seringkali politik hanya covernya saja yang kelihatan islami, tetapi tingkah lakunya tak jauh beda dengan para preman. Suka menelikung saudaranya dan melakukan kebijakan yang tak pro rakyat. Korupsi.

Selanjutnya, hal yang jarang dibicarakan oleh banyak orang adalah tabayun Gus Dur soal ekonomi. Selama ini kita mungkin jarang mendengar gagasan Gus Dur tentang ekonomi rayat. Namun di dalam buku ini pembahasan itu dijelaskan. Di tengah hiruk pikuk pembahasan hukum riba saat itu, beliau malah mengajukan usulan untuk mendirikan BPR lewat NU. Bahwa Gus Dur sadar akan rakyat tidak hanya butuh perhatian tentang kebebasan dan kesetaraan semata, namun permasalahan di sektor ekonomi merupakan hal urgen untuk mereka. Dan beliau menganggap bahwa rakyat harus disokong untuk keterlibatannya dalam membangun perekonomian bangsa, demi kesejahteraan mereka sendiri. Bukan melulu konsen pada perekonomian makro yang harusnya kesejahteraan mereka tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Bukan menggurui bahasanya, namun buku ini sangat menarik untuk dijadikan guru dan cerminan bersama. Demikian kecerdasan serta cara pandang yang cemerlang yang muncul dari Abdurrahman Wahid yang bisa kita serap dari buku ini. Dengan kehadiran buku ini semakin menambah khazanah tentang sosok Gus Dur yang semasih hidup, kebaikan-kebaikannya perlu diteladani. Wallahu a’lam bishowab.

*Penulis adalah Alumni Kelas Pemikiran Gus Dur III

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top