Celoteh Santri Gus Dur

MENJAWAB DAN MENGUCAPKAN SELAMAT KEPADA AGAMA LAIN

Oleh: Abu Jibril al-Banjuwanji

(Alumnus Pesantren Darunnajah Banyuwangi).

Dalam kehidupan bangsa Indonesia, umat Islam tidak bisa lepas dari hidup bersama orang lain, bersama agama lain. Misalnya, ketika umat Islam menerima ucapan selamat dari agama-agama lain dalam berhari raya; demikian juga umat Islam mengucapkan dan balik menjawab salam agama-agama lain dan kepercayaan lain ketika berhari raya. Ini adalah bagian dari kehidupan manusiawi, hidup bersma orang lain.

Dari sudut kenegaraan, dengan dasar Pancasila dan berpijak pada UUD 45, semua kelompok anak bangsa yang berlainan agama dan kepercayaan itu memang dipandang sebagai warga negara. Ini menjadi kenyataan yang mestinya menyadarkan setiap orang Indonesia bahwa bangsa ini berasal dari dari semua peranan kelompok untuk rakyat, bukan oleh satu kelompok untuk satu kelompok.

Kosekuensi dari fenomena ini adalah kemestian adanya relasi antara kepercayaan dan agama-agama, termasuk dengan umat Islam, didasarkan pada jiwa persaudaraan sesama bangsa, sesama makhluk Allah dan sesama orang yang berlomba untuk berbuat keajikan. Nah, masalahnya soal menjawab dan mengucapkan selamat kepada agama lain, baik kepada agama Katholik-Protestan, Hindu, Budha, Penghayat Kepercayaan (yang tidak mengidentifikasi dengan agama-agama besar lain) itu sering menjadi perdebatan.

Bagi umat Islam, hubungan seperti ini sejatinya tidaklah asing dan memiliki pijakan yang kokoh, meskipun jarang diungkap. Ada sebuah kisa, pada zaman Nabi Muhammad, ada sekelompok orang Yahudi datang kepada Rasulullah. Mereka kemudian mengucapkan salam yang diplesetkan: assamu `alaikum (semoga kerusakan menimpa kalian). Mendengar itu, istri Nabi, Aisyah menjawab dengan sepadan: wa `alakum as-samm (dan atas kamu semua kerusakan). Mendengar itu, Rasulullah kemudian berkata kepada Aisyah: “mahlân yâ Âisyah, innallôha yuhibbu ar-rifqa fi al-amri kullihi” (HR. Muslim, dari Aisyah).

Hadits ini menjelaskan dengan terang bahwa menjawab sepadan daari salam yang jelek kepada orang lain, dalam kasus itu salam kepada orang-orang Yahudi, kurang diperkenankan oleh Nabi; kedua menjawab salam itu diperbolehkan. Hanya saja, jawaban yang lebih baik justru dianjurkan oleh Nabi kepada istrinya, Siti Aisyah. Hikmah dari anjuran Nabi ini dapat direnungkan, yaitu perlakuan yang lebih baik akan lebih menggetarkan hati, mempermenarik Islam bagi orang lain Islam, dan menjadikan Islam memperoleh penghargaan yang baik di mata orang lain. Hal ini tentu dibedakan dengan mereka yang mengusir kaum muslimin dari rumah-rumah mereka dan melarang memiliki keyakinan Islam. Perlakuannya jelas lain. Untuk kasus yang terakhir, umat Islam diperkenankan melawan dengan perang.

Anjuran Nabi Muhammad untuk menjawab pengormatan (termasuk dengan salam, silaturahmi, kunjungan dan lain-lain) dengan lebih baik, diperkuat lagi dengan ajaran dasar dalam QS. an-Nisâ’ [4]: 86 yang berbunyi:

Dan apabila kamu diberi penghormatan dengan sebuah penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik. Atau balaslah pengormatan itu yang sepadan dengannya. Sungguh Allah memperhitungkan segala sesuatu.”

Berbagai penafsiran dalam kitab-kitab tafsir tentang ayat ini, adalah sangat dianjurkan menjawab salam yang lebih baik, meski begitu menjawab salam sepadan juga boleh. Dalam berbagai penafsiran, ada yang membatasi itu untuk orang Islam; dan ada yang memandangnya secara luas, untuk setiap manusia. Akan tetapi kisah Siti Aisyah di atas menjelaskan, bahwa salam itu tidak semata di antara kaum muslimin saja, tetapi menjawab salah orang selain Islam, bahkan yang lebih bagus dianjurkan. Dengan demikian yang mengkhususkan menjawab salam yang baik kepada sesam Islam saja, tidaklah kuat.

Imam al-Qurthubi dalam Tafsîr al-Qurthubî mengutip Imam al-Baihaqi yang meriwayatkan dari Ibnu Umar demikian:

Imam al-Baihaqi di dalam kitab Syu’bul Iman dari Ibnu Umar (Abdullah bin Umar) menjelaskan bahwa apabila manusia (insan) memberi salam kepada Ibnu Umar, dia menjawabnya sebagaimana salam itu, assalamu alaikum. Maka berkata Abdullah bin Umar: as-salamu’alaikum (al-Qurthubi, jilid IV: 650).

Di dalam riwayat ini, perawi menjelaskan dengan kata insan, yang berarti umum, siapa saja (bukan hanya muslim), dan penafsiran ini jelas merujuk dari penafsiran sahabat, dan sahabat adalah orang yang dekat dengan Nabi Muhammad. Dalam riwayatlain juga dari Ibnu Umar, Ibnu Umar menjawabnya dengan salam yang lebih baik, yang ini juga ada di dalam Tafsîr al-Qurthubî.

Pentingnya menjawab dan memberi salam yang baik sebagaimana dianjurkan Nabi dan para sahabat, karena salam merupakan perbuatan baik dan mulia yang menunjukkan akhlak mulia. Manakala kita diberi salam, sebagai lambang perdamaian dan keselamatan, tetapi kita mengacungan tangan sambil menyimbolkan permusuhan, itu justru mencerminkan akhlak yang tidak baik. Padahal sangat terang bahwa menirut Nabi Muhammad itu juga harus menerima pandangan bahwa Nabi itu diutus untuk menciptakan akhlak yang baik.

Dalam al-Qur’an di surat yangt lain juga memperkokoh lagi, yaitu dalam surat al-Mumtahanah[60]: 8-9 berbunyi demikian:

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

Kalau salam itu bagain dari perbuatan baik, maka dengan sendirinya mengucapkan salam, tidak dilarang, yaitu apabila orang yang dituju dari pengucapan salam itu “tidak sedang memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu”. Ini juga menjelaskan dengan gamblang bahwa al-Qur’an memerintahkan berakhlah baik itu kepada setiap orang, baik kepada sesama muslim atau kepada orang di luar Islam.

Kalau sikap demikian dipandang dari bagian dakwah, maka dengan sendirinya, dakwah bilhikmah dan kelembutan adalah bagian dari yang diperintahkan al-Qur’an. Akan tetapi kalau itu dipandang semata sebagai akhlak, maka cukuplah itu dilihat sebagai penampilan akhlak seorang muslim yang baik dan lebih baik dari orang lain yang dianjurkan Nabi Muhammad, yang tentunya menjadi dambaan Nabi Muhammad sebagaimana Nabi memerintahkan kepada Siti Aisyah tadi. Dengan sendirinya, menjawab salam dan mengucapkannya secara lebih baik dan bukan hanya sepadang kepada orang lain selain Islam, merupakan akhlak mulia.

Yogyakarta, 16 Februari 2015selamat-hari-raya

1 Comment

1 Comment

  1. @maspriy17

    February 21, 2015 at 10:00 am

    Dari judulnya, saya kira akan di bahas tentng ucapan selamat tuk agama lain. Ternyata pembahasnnya adalah ucapan salam (mendoakan) kepada agama lain. Bukannya konteks keduanya berbeda. Antara ucapan salam dan ucapan selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top