Celoteh Santri Gus Dur

Habib Syekh dan Gus Nuril Bergandengan Tangan

Habib Syekh VS Nuril

sumber : google.com

Oleh: Muhammad Autad An Nasher

Sebagai awam, hamba melihat perseteruan, adu gagasan antara Habib Syekh dengan Gus Nuril di Yutub begitu prihatin. Kepritahinan saya adalah ketika video dan pernyataan beliau berdua dimanfaatkan oleh pihak yang tak bertanggungjawab di media sosial. Yang kepentingannya tak lain adalah untuk mengadu domba antar umat Islam. Terutama wargaNahdliyyin.

Banyak website atau media portal yang saya temu untuk memperkeruh suasana ini. Kebanyakan redaksi dalam pemberitaannya menggunakan nada sarkasme. Ngumpat-ngumpat, melaknat-laknat, kafir mengafirkan. Sialnya lagi, media tersebut tak jarang menggunakan label “islami”. Coba saja pembaca googling dengan nama beliau berdua.

***

Sewaktu di pesantren dulu, tepatnya di kota Kudus, saya adalah penggemar Habib Syekh, yang kemudian muncul dengan istilah Syekher mania. Waktu itu belum semarak sekarang. Yang jama’ahnya datang membawa bendera—laiknya orang mau pergi konser. Terkadang saya rasan-rasan di dalam hati kecil terkait fenomena ini. Dulu masih sederhana, dari kampung ke kampung. Walaupun jarak pengajiannya jauh, saya tempuh dengan jalan kaki bersama-sama santri yang lain. Saya sangat gemar pergi ke pengajian Habib Syekh karena bacaan Maulid Simthuddurornya. Di samping kecintaan saya dengan para habaib. Ketika pergi ke acara maulid, pasti yang dicari adalah barokahnya para habaib. Karena bisa berkumpul dengan salihin. Dan itu menjadi tombo ati bagi saya dan teman-teman yang lain.

Kecintaan saya pada bacaan Maulid Simthudduror tak lain karena di sana membacakan sosok baginda agung, Nabi Muhammad Saw. Yang penuh kasih sayang dan menjadi rahmat seluruh alam. Suasana acara Maulid pun tampak teduh, nyaman, tenang dan khusyuk. Terkadang aroma minyak misik dan wewangian menyengat tajam di hidung saya. Sampai kemudian saya jatuh hati pada kitab karangan Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi tersebut. Bisa dibilang saya agak sedikit hafal dengan bacaan ini dibanding dengan bacaan maulid yang lain, seperti Maulid Dziba’, Al-Barjanji, dan Maulid Adl-Dliya Ullami’.

Apalagi ketika Mahallul Qiyam. Semua jama’ah berdiri—seakan-akan menyambut kehadiran yang mulia. Yaa Nabi Salam ‘Alaika pun dibaca sembari diiringi tabuhan rebana yang semakin menambah khidmat suasana. Kembali dengan video yang ada di Yutub. Saya kemudian teringat dengan pernyataan guru saya, KH. M Arifin Fanani, sewaktu di pesantren dulu. Waktu itu sedang ngaji kitab Fathul Qarib kalau tidak salah, beliau mengatakan; “sohabat yo musuhe sohabat, kiai yo musuhe kiai, santri yo musuhe santri, politisi yo musuhe politisi, lan sak teruse”.

Pernyataan tersebut waktu itu ketika beliau menjelaskan terkait perseteruan antara Sayyidina Ali dengan Sayyidah Aisyah dalam perang Jamal. “sedoyo ulama’ lan sesepuh kito mboten pareng ngaran-ngarani dateng apa yang terjadi pada waktu itu. Diam lebih baik”. Begitu kurang lebih pernyataan beliau yang saya ingat. Karena peristiwa tersebut merupakan fitnah bagi umat Islam.

Sebagaimana apa yang terjadi saat ini. Ketika melihat perseteruan antara Gus Nuril dengan Habib Syekh. Sebagai awam yang juga muridnya Habib Syekh, karena saya dulu sering mengikuti pengajian beliau, bahkan pernah diberi uang sama beliau sewaktu mau pengajian. Tidak tahu aku taruh dimana sekarang uang kenang-kenangan itu. Dan saya juga semadzhab dengan Gus Nuril, sama-sama meneruskan gagasan dan perjuangan dari almarhum Gus Dur, yang mengayomi umat—tanpa melihat status agama, suku, ras, dan keyakinan seseorang. Alahkah baiknya, harapan besar saya, beliau berdua bisa bertemu, silaturrahim, dan bisa tabayun bersama. Bergandengan tangan. Karena beliau berdua adalah panutan umat. Suri tauladan.

Mengingat kita saat ini dikerumuni oleh dunia virtual. Siapapun bisa mengakses dengan cepat, dan fatalnya, kebanyakan orang tidak melakukan kroscek terkait berita yang di dapatnya. Sedikit tahu; langsung share. Tanpa adanya konfirmasi. Apalagi, perlu diketahui juga, saat ini banyak website yang kelihatannya berlabel “islam”, tetapi menebar kebencian. Menggunakan bahasa yang tidak mengikuti kode etik jurnalis, asal ceplos dan terpenting; rattingnya naik.

Orang-orang seperti ini yang membahayakan dan perlu diketahui bersama gerak-gerik dan alur pemikirannya. Bukan berarti media yang menggunakan nama Arab itu kemudian Islami. Mereka acapkali menebar Islam Marah, bukan Islam Ramah. Walaupun dia menyuarakan anti kapitalisme, anti neoliberalisme, tapi perlu diingat juga, mereka juga butuh uang, butuh menaikkan ratting medianya. Agar bisa dapat iklan dari google dan banyak sponsor.

Saya sendiri juga pernah teribat di media, walaupun jadi kontributor yang masih level tingkat teri. Namun setidaknya, saya tahu ideologi media seperti apa. Bad news is good news. Berita besar karena dibesarkan. Di Jogja ini, saya banyak bergumul dengan rekan-rekan yang juga terlibat aktif di media.

Banyak cerita ngalor ngidul terkait fenomena maraknya oknum-oknum yang ingin membuat kerusuhan di tengah-tengah umat dengan membentur dan mengadu domba umat. Pihak yang tidak suka dengan sholawatan dan tahlilan (tidak usah menyebut ideologinya karena sudah jelas), pasti sangat suka dengan adanya perseteruan antara Habib Syekh dengan  Gus Nuril di Yutub.

Mereka akan memainkan isu ini dengan gencar. Karena ini video, jadi bagaimana sosok mereka berdua bisa dijual. Dan sudah bisa ditebak, akan kemana alur permainan mereka. Yah, seperti perseteruan KPK versus Polri kemarin, akan ada banyak pihak yang tertawa gembira dan memanfaatkan konflik itu dengan senang. Dia bisa bermuka dua. Dia tidak berpijak pada kebenaran, tetapi kekuasaan. Seperti perseteruan antara Habib Syekh dengan Gus Nuril, orang-orang ini adalah dia yang akan berpijak pada kepentingan dan adu domba, bukan kemaslahatan.

Fatalnya, orang-orang seperti itu kian menjamur di tengah kita dan gerakannya semakin massif. Tetapi, saya kemudian teringat dengan wejangan dari Mas Imam Aziz, ketua PBNU pusat, yang pernyataan ini beliau peroleh dari almarhum Gus Dur, “Mas, sing tenang wae, sing bakal menang kui wong Islam awak dewe..” Wallahhu a’lam bimanihtada.

Yogyakarta, 22-Februari-2015

Muhammad Autad An Nasher. Bisa dijumpai di akun twitter @autad. Ia juga alumni Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan II

81 Comments

81 Comments

    • admin

      February 22, 2015 at 12:29 pm

      sesat dari sisi mana?

    • admin

      February 22, 2015 at 12:32 pm

      tidak sesuainya dimana?

    • Temu Lawak

      November 17, 2015 at 12:05 am

      bertaubatlah,sbelum kalian mati….! orang yang mencela orang lain,sesungguhnya dia mencela diri sendiri

  1. Rukun Arkhan

    February 23, 2015 at 11:09 pm

    Assalamualaikum sahabat KabarMakkah, Santri Gus Dur, Fyan Aja Ezt, Raka Arif Maulana, Arjuna Yusuf, dan sodara admin, kita semua bersaudara 🙂 seperti bangunan yang harusnya saling memperkuat, seperti satu anggota tubuh yang saling menjaga.

    Saling koreksi silakan, alangkah mulianya jika teman-teman semua berdiskusi dengan hati yang sejuk. Bukankah setiap perkataan yang baik adalah sedekah, setiap senyum adalah sedekah? 🙂 🙂 🙂 Jika syahadat kita sama, cukuplah hal itu menjadi perekat kuat atas perbedaan-perbedaan ini. Mohon maaf jika kurang berkenan 🙂

    Semoga sabahat KabarMakkah, Santri Gus Dur, Fyan Aja Ezt, Raka Arif Maulana, Arjuna Yusuf selalu dalam keselamatan, rahmat, dan bertambah dan terus bertambah kebaikannya atas izin Alloh SWT 🙂

    • elhakim

      May 10, 2015 at 12:29 am

      masya allah…ko malah bawa bawa orang yg sudah meninggal..,silahkan cari hukum menghina orang yang sudah meninggal,yg kamu tak sukai belum tentu menurut allah itu buruk,instropeksi diri yuuk

  2. Heri

    March 3, 2015 at 4:57 am

    Bila saya melihat videonya memang gus nuril keluar dalam pembahasan ceramahnya. malahan pembahasan yang sampaikan menabrak banyak kalangan secara frontal. melihat jamaah yang tidak nyaman dengan ceramah gus nuril membuat habib ali melakukan interupsi. namun, bukan berarti gus nuril salah kaprah. Hanya saja pada saat itu tidak menyampaikan apa yang harusnya dia sampaikan. Gus Nuril adalah seorang ulama yang cerdas, dan mungkin saja sedikit khilaf karena kurang mengerti keadaan audiens. Harapannya tanpa dengan menjelekan kalangan manapun, merendahkan manapun, islam akan maju ketika kita bisa melepaskan ke-eksklusif-an diri dan bersama-sama dalam berkehidupan, mungkin merujuk ke tulisan Islam Kosmopolitan Gus Dur.
    Untuk KabarMekkah.com : isis mutlak salah, sungguh sangat tidak dbenarkan oleh islam manapun (kecuali isis itu sendiri) bahkan oleh golongan manapun. maka dari itu isis diperlihatkan sebagai musuh bersama dan kaidah jurnalistik yang digunakan memang mengandung unsur politik untuk menyudutkan isis. Namun tidak begitu saja berlaku dengan orang semisal Gus Nuril, apakah menurut anda gus nuril adalah musuh orang-orang? atau malah ternyata musuh anda dan golongan anda? lalu anda di pihaknya siapa? apa keperluan anda mencoba membuat gaduh suasana? kalau anda menginginkan kemajuan? kemajuan seperti apa yang diharapkan kalau masih selalu menyalahkan orang lain? mohon maaf terima kasih

  3. djogdjacasual

    March 16, 2015 at 5:56 am

    Jangan Menyamakan Yang Tidak Sama !
    Namun ingat , jangan sekali-kali menjadikan sebuah perbedaan sebagai alasan untuk berperang atau bersilisih satu sama lain.
    Hiduplah dengan Saling menghormati dan bantu membantu dalam hal sosial terlepas dari “AGAMA dan keyakikan ” Mari bersama-sama menjadi warga negara yang baik . Dan hindari ” PERMUSUHAN “

  4. Must Abu

    March 19, 2015 at 4:35 pm

    Pemberitaan seperti ini pasti bakal bikin senang kaum IM dan wahabi. Yang kaum nadhliyyin cuman bisa mengelus dada terhadap fitnah kedua ulama tersebut.. tapi seperti pesan Gus Dur, islam koyo dhewe yang bakalan menang.. omongab aliran IM dan wahabi cuekin aja. 🙂

  5. fahmy

    April 4, 2015 at 7:08 pm

    Walau saya dangkal soal agama dulu pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren mbok yo setiap masalah bisa di selesaikan secara seksama ,tanpa menjelek-jelekan ulama sesungguhnya semua keturunan nabi adam bersaudara dan kita umat nabi akhir zaman beliau nabi muhammad saw

  6. fahmy

    April 4, 2015 at 7:15 pm

    Semua habib kita hormati peran kiayi di perlukan para ustade membangun para pemuda ayok para santri lan para sedulur islam bangun kerukunan umat beragama dan membertahankan NKRI karena islam bagian dari negara indonesia

    • elhakim

      May 10, 2015 at 12:24 am

      berkacalah pada diri sendiri dulu kang,apakah sampean sudah lebih baik dr gus nuril,belajarlah kesabaran dr sang rosul

    • Gio

      June 29, 2015 at 7:22 pm

      Emank dulu Nabi Muhammad ceramahnya dimana ya?kan blm ada mesjid waktu awal2 beliu diangkat jd nabi?dan jg nabi2 sebelum beliau agamanya apa ya?saya cuma th nabi2 sebelum beliau hanya menyembah Allah.gmn nasib orang zaman batu dimna blm ada ajaran agama.klw mereka masuk neraka g adil donk.sejak kapan jg kita jd islam?apa sejak nenek moyang kita yg duluan islam?makanya kita jd islam.atau diislamkan oleh kiai atau ustad.?contohnya saya ikut sekolah sampek ujian tp saya tidak pernah daftar?apa saya dpt ijazah? Saya rasa g bakal dpt ijazah.begitu pula sebaliknya sudah kah kita daftar jd islam?atau islam warisan.karena saya jg g mw dpt surga warisan.wasalam

  7. santri edan

    April 14, 2015 at 6:29 pm

    orang kalo kotor hatinya bs dpastikan rusak otaknya
    gausah menilai org,perbaiki aj ibadahmu

  8. Siti Hajar

    April 30, 2015 at 8:19 am

  9. elhakim

    May 10, 2015 at 12:21 am

    sangat di sayangkan,beliau beliau ini adalah orang yg notabene sama sama warga NU, ak mengagumi mereka..memang seharusnya harus bisa menahan emosi bukankah mereka sudah ngaji bab ghodob?….kita doakan saja semoga mereka saling memaafkan..aamiin

  10. cecep supriatna

    May 14, 2015 at 6:49 am

    Ass. Wr. ga usah emosi, butikan saja ucapan gus nuril, apakah benar di Saudi arabia banyak nama habib?, apakah ada makan fatimah R.A, Khadijah RA, ada acara mauludan, rajaban ? kalau ucapan Gus Nuril benar mesti minta maaf sama beliau, kecuali memang antum pengecut, pecundang, ya sudah fitnah saja orang lain sebanyak-banyaknya

  11. Wahidin

    June 24, 2015 at 9:11 am

    Nuril orang yang gak paham sejarah. Ceramahnya melecehkan dan mengadu domba, wajar saja nasibnya dipermalukan.

  12. thony

    June 28, 2015 at 12:12 pm

    gk usah ngeklaim gus nuril. . Dirimu kamu apa sudah bener, sudah hebat,semakin kamu banyak ngeklaim orang, maka kamu smkin keliatan begoknya. . He.he. . Tak kasih tau ya. . Surga itu bkn punya habib, surga bkn punya org arab, dan surga jg bukan punya pak kyai. . . Surga adl kepunyaan org2 yg dridhoi allah swt.
    Mari kita berlomba2. . Dlm menggapai ridho nya.

  13. soerya

    July 1, 2015 at 2:16 am

    Gus Nuril jika memandang toleransi seoKiai boleh ceramah di gereja Apakah seorang Pendeta boleh ceramah di Masjid???.Dengan Mengatas namakan Toleransi

  14. muhammad shahrum

    October 13, 2015 at 3:17 am

    assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuh…. tidak perlu di besar besarkan wahai saudaraku yg seiman dan seaqidah,, hanya allah lah yg berhak menilai mana yg baik dan mana yg buruk, mna yg salah dan mna yg benar, karena allah maha tau segalanya.
    WASSALAM

  15. Mohammad Rofiq

    November 5, 2015 at 2:16 pm

    Nyapo kuwe melu-melu rameh… mending moco sholawat wae… ayo podo moco sholawat wae ben adem, ayem, tentren… ojo podo padu… konco2 wis teko mbulan, awak dewe gek gegeran… nyapo? ayo sing rukun, sing guyub, ojo digawe gede… ayo podo sepuro2an…

  16. kelelawar malam

    December 26, 2015 at 5:06 am

    semoga ummat nahdyihin bisa mengambil pelajaran dari apa yang mereka liat, tidak langsung menelan mentah-mentah apa yang mereka liat

    • admin

      January 3, 2016 at 12:31 pm

      benar, mas.

    • admin

      January 4, 2016 at 10:19 pm

      balas dengan tulisan dongs, jangan cuma ngakak, mas. 🙂

  17. habibi

    February 17, 2016 at 5:12 pm

    hmmmm .. . . ya sudah bunuh bunuhan saja sana murid sama gurunya, gurunya sama muridnya.. puaskan nafsu kalian.. atau kalian semua yg komentar di sini saya tantang tinju aja.. gimana ?? yg penting nafsu nafsu busuk sampeyan tersalurkan bukan.. ???

  18. mjanah

    February 18, 2016 at 3:30 pm

    Indahny prbedaan..

  19. wong bodho

    March 9, 2016 at 12:07 pm

    Mf ada yang udah tau DR.zakir naik dari India??
    Beliau sering ceramah ke gereja,malah sasaran dakwahnya ke gereja,atau didaerah notabene ateis,dan tidak sedikit beliau merangkul pendeta atau pastur untuk ber-argumen,
    Dan alhamdulillah misinya pun sukses meng -islamkan ribuan bahkan jutaan orang ateis maupun nasrani,termasuk pastur dan pendetanya,sampai dikabarkan paus paulus selalu menolak untuk diajak bertemu.
    Beliau hafal alqur’an,ribuan hadist dan jangan salah beliau hafal kitab injil lama atau perjanjian baru..
    Terus kalau begitu menurut anda-anda semua yang udah merasa pintar gmn?
    Apakah beliau jg bisa dikatakan kyai gereja?
    Atau kyai kafir?
    Atau silahkan memberi umpatan yang lebih sangar,monggo…
    Yuk berpikir jernih,,buktikan kalau kalian benar-benar orang islam sejati

  20. sahabathino

    March 18, 2016 at 11:03 pm

    semuaa pada ribut padahal rata rata dari kita menerima ajaran bak warisan dari orang tua kita atau coba renungkan sunnah nabi ngga pernah sekecapun nabi mengina atau menghujat orang lain …padahal nabi pembawa kebenaran ??? orang2 yangi mengaku pinter dalam semua urusan agama malah merasa kepinteraanya melebihi Nabi !!! subbahanallah …. atau anda yang merasa ahli surga hingga menghujat orang kafirr….. bisa ngg anda jangan mencari nafkah yang ada bos,, perusahaan …atau barang motor , mobil …HP …atau apalah yang dibuat atau dihasilkan …maaf orang yang anda sebut kafir ???…atau bisa ngg anda beli motor atau apalah yang adan hubungan dengan Riba ????..kalau bisa barulah anda berfikir bisa sebut org lain dengan dengan kata kuffur (kafir) kalau perlu hari ini anda bilang bos saya mundur kerja karna agama kita beda !!!! monggo dicoba

  21. fathorrahman

    April 6, 2016 at 6:57 pm

    Kalau dilihat dr akar permasalahannya habib syekh awal mulanya bermaksud mengingatkan kiai nuril yg keluar jalur dlm menyampaikan tausiah di peringatan maulid nabi,kelirunya mengkafirkan orang lain yg belum tentu orang itu memang kafir adanya,terus kiai nuril kelirunya terlalu mudah mengucapkan kata2, seakan2 ia banyak tau tentang sejarah dan kebenarannya,kalau memang tauladan dia syeh siti jenar yg mengajarkan “ana alhaqqu”,mestinya ia belajar sufi,jgn sok soan meniru gus dur,teladanilah teladanmu sendiri syeh siti jenar,ingat gus dur bukan siti jenar,siti jenar sendiri lebih banyak mendengarkan ketimbang bertausiah,dia lebih banyak “manunggal ing kaulo gusti”,jgn jadi penceramah yg ia sendiri belum tentu ngejalanin apa yg ia ceramahin pada umat manusia,wallaahu ‘a’lam bishshawab …

  22. lebiqshofie

    April 7, 2016 at 11:25 pm

    ya Allah,hamba mohon berilah hidayah kepada orang orang yang tersesat.termasuk hamba jika tersesat.

  23. Hamba Pencari Keridhoan Allah

    April 25, 2016 at 3:16 am

    Ko malah pada ribut sih,,,
    Semuanya islam dan yg islam semuanya baik,,,
    Sesat atau pun tidak dipengadilan allah yg dinilai amal masing”..

    Jadi engga usah bilang si (A) Sesat Si (B) si (C) Benar si (D) Lebih benar,,,

    Dimata allah yg dinilai Amal Perbuatan Sendiri,,,

    Sekarang yg terpenting mah jalankan sholat 5 waktu dan menuntut ilmu khususnya mengaji,,,

    Malu noh sama orang” yg bukan islam,, kalo melihat agama islam saling menghina,,

    ( Inna allaha yuhibbu aladzina yuqotiluna fii sabilihi shofa,kaanahum bunyanun marsus )

    Sesungguhnya allah mencinta orang yg bersatu dan berjuang dijalan allah dan merapatkan barisan maka akan seperti bangunan yg kuat dan kokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top