Review Buku

Menelanjangi Sunnah Gus Dur

Buku “Tabayun Gus Dur”. Adalah sebuah buku yang sangat sederhana namun bukan berarti nir-makna. Apabila kita membacanya secara utuh, kita akan tahu dari cara berfikir, sikap, dan gaya bicara dari mantan Presiden RI yang unik plus nyentrik tersebut. Yang hemat penulis, tidak ada duanya di bumi Nusantara ini.

Buku ini merupakan sekumpulan hasil wawancara oleh jurnalis kepada Gus Dur yang pernah dimuat di pelbagai koran, majalah, yang banyak berserakan di mana-mana. Intinya, pernah dimuat di media. Lalu dijadikan menjadi satu, dalam sebuah buku.

            Sangat wajar kalau kemudian buku tersebut dinamai dengan tabayun. Dalam bahasa Indonesia mempunyai arti penjelasan atau klarifikasi. Yakni sebuah penjelasan dari Gus Dur, atau komentar-komentar Gus Dur yang menyorot mengenai gejala sosial, fenomena politik, agama, dan lain-lain yang tengah hangat dibicarakan pada waktu itu.

Jadi, dalam buku ini, murni (purepandangan Gus Dur. Yang tiap katanya mengandung misteri (bagi yang belum mengetahui, bahkan dicap kontroversi), dan bernilai tinggi, bagi ia yang sudah paham betul siapa itu sosok yang bernama asli Abdurrahman Ad-Dakhil tersebut.

            Ada tiga bagian utama yang dijadikan sub bab di dalam buku ini. Yang pertama tentang suksesi dan demokrasi. Dalam bab ini Gus Dur lebih banyak membicarakan mengenai persoalan politik dan kepemerintahan (demokrasi) pada saat itu.

Sebagaimana yang kita tahu, yang namanya orde baru, era kepemimpinan Pak Harto, hal-hal yang yang berkaitan dengan demokrasi, seperti; kebebasan berpendapat, kebebasan memilih, kebebasan berfikir sangatlah terbatas. Terpasung oleh pemerintah yang berkuasa. Siapa yang berani menyuarakan ide-ide ‘nakal’ atau malah melawan kekuasaan pemerintah orde baru, siap-siap saja esok hari tidak lagi muncul di tengah keluarga. Hilang dengan penuh tanda tanya.

Waktu itu, orang mau ngomong apa sangatlah sulit. Kalau bahasa sederhana saya, apa yang dikatakan Presiden, harus disendiko dawuhiDengan adanya fenomena seperti itu. Lalu Gus Dur bersama Forum Demokrasi-nya muncul ke tengah permukaan. Namun, sangat sayang, ketika Gus Dur mau mengadakan Halal bi Halal pada Forum Demokrasi (Fordem) dicekal oleh polisi. Dengan alasan tidak punya izin keramaian. hal.3

            Pada bagian kedua, yakni Gus Dur mengomentari seputar dunia sepak bola, humor, seni, dan keluarga. Pada bab ini, menurut saya lebih mengarah ke persoalan pribadi Gus Dur. Dan ciri khas beliau ketika diwawancarai pun menjadi kesan tersendiri bagi wartawan TIARA pada waktu itu. Dengan gayanya yang cuek, ogah-ogahan, terkadang terkantuk-kantuk dan tak lupa, humornya, yang tiba-tiba; Ha..ha..ha. Terbahak-bahak.

            Adalah ketika Gus Dur ditanya wartawan, “Kalau diisukan seperti dulu, Anda dicalonkan sebagai presiden, bagaimana?. “Siapa? Saya (Gus Dur menunjuk dirinya). Presiden. Yaa, Presiden Taxi-lah. Orang kayak saya kok masih ada yang mau menjacalonkan sebagai presiden.. ketawa saya..”jawab Gus Dur.

Maksudnya itu, Gus Dur kan orang Jawa, Islam, bisa diterima kanan-kiri-atas-bawah dan tengah?”tanya wartawan lagi, “Yaa kalau begitu yang paling bagus adalah Tarsan“ jawab Gus Dur enteng. Tarsan mana?”wartawan semakin penasaran dengan jawaban Gus Dur tersebut. “Yaa Tarsan anggota Srimulat, Asmuni itu.. bisa kan diterima kanan-kiri.. (tawa berderai-derai dari mulut Gus Dur pun meledaklah), hal. 89-90. 

Dari persitiwa tersebut, Gus Dur selalu membuat kesan tersendiri dibenak para wartawan. Baik banyolannya yang khas, dan juga gayanya yang nyentrik unik yang selalu dinanti-nanti oleh banyak orang. Jadi, buku ini begitu membawa pembaca seakan-akan sedang berbincang hangat, face to face bersama Gus Dur, mengikuti ke mana Gus Dur pergi. Karena setiap gerak, lontaran kata,uneg-uneg dari Gus Dur bagaikan mutiara yang selalu dinanti oleh semua orang.

Pada bagian ketiga, Gus Dur membaca Islam, ideologi, dan pemberdayaan masyarakat sipil.  Pada bab ini, Gus Dur membincang hal ihwal agama dan kemanusiaan. Bagaimana pandangan dan kacamata Gus Dur itu sendiri ketika beliau ditanya tentang persoalan yang menyangkut hak-hak umat. Karena bagi Gus Dur, memandang hidup ini dari asas manfaatnya saja. Sebagaimana ajaran dari Islam. Mementingkan asas manfaat. Bisa melakukan suatu hal yang ‘anfa’uhum linnas.

Seperti yang kita tahu, perjuangan Gus Dur dalam membela hak-hak kaum (yang kebetulan) minoritas, dan mementingkan aspek kemanusiaan, sudah dikenal oleh masyarakat secara luas. Baik dari dalam maupun luar negeri. Yang mana Gus Dur ini tidak memandang sebelah mata agama apa itu, dari suku mana orang tersebut berasal, dan lain sebagainya. Karena saking getolnya beliau menyuarakan isu-isu yang terkait dengan kemanusiaan, dikenalah Gus Dur ini oleh pendeta Hindu dari India.

Waktu itu, Gus Dur ditanya (diwawancarai) oleh wartawan, Anda bangga bertemu dengan pejabat luar negeri?” Ah, sama-sama manusia kok. Kebangaan saya itu yah, sedikit sekali.”jawab Gus Dur. Di antaranya yang membuat saya bangga itu ketika seorang pendeta Hindu dari India Swami Shanti Prakash datang ke sini (Indonesia). Semua umat hindu di Pasar Baru, berkumpul, duduk melingkar mengelilingi pendeta Swami Shanti. Cerita Gus Dur, dia duduk di singgasana yang agak tinggi yang semuanya dibuat dari kembang.

Ketika Dirjen Hindu Budha, Diputre datang, dia tetap saja duduk. Lalu semua orang mencium tangannya. Prakash sendiri buta dan berusia 80 tahun. Nah, sewaktu saya datang, dia dibisiki oleh pembantunya, dia langsung berdiri, kemudian merangkul saya. Apa katanya? Dia menitipkan umat Hindu di sini pada saya.

Kok bisa begitu?”tanya wartawan keheranan. Nah, itulah. Orang minoritas juga punya hak. Swami Shanti Prakash kenal saya lewat laporan anak buahnya. Tapi juga artinya sebagai orang buta dia punya mata hati. kontak bathinnya itu lho..”jelas Gus Dur. Pada saat itu saya betul-betul merasa bangga sekali diterima sebagai warga manusia. Rasanya nggak sia-sia hidup ini, ditentang jutaan orang juga biarin aja, yang satu ini bagi saya lebih penting dari yang lain-lain, hal. 167-168

            Jadi, buku ini, dalam pandangan saya, kalau pembaca pernah melihat tontonan di Kompas TV tentang “Aiman Dan..”—yang biasa diwawancarai adalah para tokoh yang tengah naik daun—Ya, hampir seperti itu kinerja para jurnalis dalam buku Tabayun Gus Dur ini. Di mana-mana, Gus Dur selalu diikuti oleh para wartawan. Namun, bedanya dalam buku ini, yang menjadi peliput adalah berbagai macam media yang mempunyai karakter yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, buku ini menjadi menarik untuk dibaca, didiskusikan, dan di review ulang, bagi siapa saja yang ingin menelanjangi sosok yang nyentrik tersebut.

 Hemat penulis, kalau di dalam studi ‘ulumul hadits, inilah yang dinamakan sunnah. Yang mana sangat perlu untuk dijadikan bahan renungan; mana yang baik dan mana yang kurang baik untuk kita semua. Karena tidak semuanya, segala sesuatu tindakan yang dilakukan oleh Gus Dur itu cocok untuk diri kita sendiri. Mengingat Gus Dur juga manusia. Ada kekurangannya.

Akan tetapi, nilai-nilai kebaikan yang pernah beliau perjuangkan, seperti mengayomi minoritas, anti diskriminasi, kebebasan berpendapat, cinta tanah air, dan lain-lain, patut kita perjuangkan kembali. Fardhu ‘ain hukumnya untuk kita tiru dan kemudian diaplikasikan ke tengahmasyarakat.

Semoga kita bisa meniru dan memperjuangkan kembali apa saja yang sudah di lakukan oleh Gus Dur selama di dunia ini. Lebih-lebih, kita mampu melampaui dari segala sesuatu yang sudah diperbuat oleh Gus Dur. Semoga saja. Allahhumma amien.

 

 

*Santri Gus Dur yang masih menyelesaikan studi di Sekolah Pemikiran Gus Dur

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top