Review Buku

Gus Dur dan Masa Depan Peradaban Islam

04846c3aa795d8b3e9ee93e92139f953Sebelum memulai membaca buku ini, hilangkan dulu kesan buku tebal dan berat yang menyandangnya. Karena sebenarnya buku ini hanya 300an halaman,  karena kualitas kertasnya yang tebal lah buku ini terlihat menyebalkan. Islam Kosmopolitan adalah kumpulan tulisan – tulisan Gus Dur  dalam merespons isu  isu pada tahun 1980 – 1990 an. Sehingga ada beberapa hal yang sepertinya “ketinggalan jaman” namun sebenarnya jika dilihat secara substansial tetap relevan dipakai untuk memahami fenomena sosial tersekarang.

Buku ini terdiri dari tiga bab, masing-masing bab memiliki fokus kajian yang berbeda. Padabab pertama, Gus Dur banyak bicara tentang ajaran, Transformasi dan Pendidikan Agama. Dibuka dengan sebuah tulisan berjudul “universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam” yang banyak mengkritik eksklusivme Islam sehingga tertutup dan sulit melakukan keterbukaan. Gus Dur memandang universalisme Islam dapat benar- benar dibumikan dengan cara mendukung (1) persamaan di muka hukum dan Undang-Undang , (2) perlindungan masyarakat dari kedzaliman dan kesewenang-wenangan, (3) penjagaan hak-hak mereka yang lemah, (4) pembatasan atas wewenang para pemegang kekuasaan. (hal. 3).

Peradaban Islam pernah besar karena keterbukaannya, baik dari ilmu-ilmu “asing” maupun dari kebebasan berpendapat yang ada. Kejayaan bani abbasyaih misalnya, menjadi salah satu contoh dari hasil keterbukaan yang  tak bisa lepas dari atmosfer dialog dan perdebatan ilmiah antara kaum mu’tazilah dengan Ahlusunnah. Bahkan Gus Dur menyatakan bahwa jika Islam tetap “sempit”, maka Islam hanya akan menjadi beban bagi perkembangan peradaban dunia. Maka tugas muslim sekarang adalah meneruskan tradisi yang sudah ada secara dinamis, karena menjaga kehidupan tradisi ini lebih sulit daripada melahirkannya. kaum muslim kini tidak dituntut untuk mendirikan aliran-aliran hukum islam atau teologi, tetapi kewajiban mereka untuk menerapkan secara kreatif ketentuan-ketentuan dalam mazhab terebut kelam situasi kehidupan modern. Islam memang memerlukan penerjemahan agar bisa memajukan kehidupan umat manusia yang terus bergerak. Hal ini juga menjadi salah satu usaha Gus Dur untuk mematahkan anggapan bahwa agama adalah unsur yang paling sukar dan lambat berubah.

Hal menarik lain  dalam buku ini adalah pernyataan Gus Dur, bahwa jargon Al-muhafadhah ala al-qadim al-shalih ma’al-akhdzi bi al-jadid al-ashlah (memelihara warisan lama yang baik dan mengambil baru yang lebih baik) yang sangat tenar di kalangan Nahdliyin  akan lebih indah jika diganti dengan Al-ijad bil jadi al-ashlah (menciptakan sesuatu yang baru) sehingga kita tak hanya sebagai “konsumen” barang baru namun juga ikut dalam proses inovasinya. kebanyakan muslim masih terhenti pada jargon yang pertama (hal. 80). Ini adalah bentuk kepedulian Gus Dur terhadap perkembangan islam di masa yang akan datang. Memang, pada dasarnya tiap agama menghendaki transformasi, namun transformasi ini tak selalu menimbulkan harmoni, tetapi kadang juga konflik karena bertolak belakang dengan kehendak atau kebiasaan masyarakat.

Penampilan universalisme islam juga bisa dilihat dari warisan kuno berupa kerangka usul fiqh: hifdzu an-nafs (keselamatan fisik warga dari tindakan badani diluar hukum), hifdzu an-nasl (keselamatan keluarga dan keturunan, karena keluarga adalah fondasi toleransi), hifdzu ad-din (keselamatan keyakinan agama masing-masing, tanpa ada paksaan untuk berpindah agama), hifdzu al-mal (keselamatan harta benda dan milik pribadi dari ganggungan atau penggusuran di luar prosedur hukum), hifdzu aqli (keselamatan hak milik dan profesi). Namun, kelima hal tadi dalam pandangan Gus Dur hanya menjadi kerangka teorotik, tidak didukung oleh kosmopolitanisme peradaban islam. Peradaban islam masih belum terbuka terhadap nilai-nilai universalisme islam.

Tak lupa, Gus Dur juga berbicara masalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia : Pesantren. Gus Dur adalah orang pesantren yang juga mengkritik pesantren, menurut beliau, penempatan Kyai sebagai bentuk paling ideal dari pewaris ilmu Islam mempunyai sisi negatif melemahkan pesantren dalam menjaga kelangsungan hidupnya. Kesetiaan yang bersifat pribadi (kepada kyai) susah untuk di terjemahkan menjadi kesetiaan terhadap lembaga. Hal ini terbukti banyak pesantren yang mundur bahkan hancur setelah wafatnya tokoh/pendiri pesantren. Namun sisi positifnya adalah mudahnya perubahan yang terjadi dalam tubuh pesantren atas pengaruh Kyai. Selain mengkritik, Gus Dur juga mengurai keunikan-keunikan pesantren. Oleh beliau pesantren di anggap memiliki 3 unsur keunikan yaitu: pola kepemimpinan berada diluar kepemimpinan pemerintah desa, literatur universalnya terus dipelihara selama berabad-abad, sistem nilainya terpisah dari yang diikuti oleh masyarakat.

Pada bab yang kedua, Gus Dur berbicara tentang Nasionalisme, gerakan sosial dan anti kekerasan. Banyak pandang Gus Dur yang saat itu mengkritik kebijakan kebijakan Soeharto seperti menganggap bahwa pemerintahan Soeharto adalah pemerintahan tanpa ideologi, Pancasila asas tunggal hanya kedok untuk menyingkirkan ideologi-ideologi lain yang ada seperti komunisme. Pemerintahan Soeharto adalah pemerintahan aneh dengan ideologi aneh bernama “Pembangunan ekonomi” yang terjebak pada pembangunan yang hyper-pragmatis, sebuah konsep pembangunan yang hanya melihat sesuatu semata-mata dari kacamata bisnis tanpa landasan etika.

Dan yang menjadi orang paling Indonesia menurut Gus Dur adalah orang dalam sebuah pencarian tak berkesudahan akan sebuah perubahan sosial tanpa memutuskan sama sekali ikatan dengan masa lampau. Di bab inilah paham-paham kenegaraan Gus Dur banyak dikemukakan.

Dan pada bab yang ketiga. Gus Dur banyak menyinggung masalah pluralisme, HAM hingga demokrasi. Hak-Hak asai manusia adalah harga mati yang harus di perjuangkan oleh semua, terlebih umat Islam yang di dalam ajarannya memiliki banyak sari-sari penegakan HAM. Keistimewaan yang dimiliki manusia membawa konsekuensi tanggung jawab manusia untuk menekankan pada penegakan hak-hak asasi manusia dan kebebasan berfikir sehingga keterbukaan dan watak kosmopolitanisme muncul dan membawa perubahan positif bagi peradaban manusia.

Gus Dur juga menyoroti hubungan islam dan demokrasi. menurut beliau, tidak bolehnya non-muslim menjadi presiden atau kepala daerah adalah pengingkaran terhadap demokrasi. Karena mendudukan islam lebih unggul daripada agama lain yang jelas hal ini melanggar pasal 29 ayat 2 UU 1945 yang mendudukan agama – agama pada kedudukan yang tak berbeda.

Memang benar ungkapan Gus Dur bahwa “Nabi tidak pernah salah, namun yang salah adalah kita yang membacanya”.

Pada intinya, buku ini memang sangat luas pembahasannya hingga kadang melebar dari fokus pembahasan, namun hal ini malah menambah kesan akan keluasan pemikiran sang penulis buku.  Terlepas dari pengulangan-pengulangan yang kadang terjadi, buku ini tetap menjadi buku berkualitas yang wajib dibaca oleh para “pembaca” pemikiran Gus Dur.

 

 

*Penulis adalah santri dari Sekolah Pemikiran Gus Dur Angkatan II

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top