Gus Dur dalam Pena

Gus Dur, Buku dan Seorang Kosmopolitan

©istimewa

©istimewa

Oleh : Suhairi Ahmad*

Jangan tanyakan Gus Dur soal buku. Ia adalah seorang maniak buku. Jika ditanya soal buku apa yang pernah dibaca olehnya, saya tidak tahu pasti. Selain saya bukan bukan temannya dan juga bukan keluarga dekatnya. Pun  saya bukan siapa-siapanya. Melainkan hanya pembaca tulisan Gus Dur. Yang saya tahu tentangnya hanya melalui buku biografi yang ditulis oleh Greg Barton.

Di buku tersebut diceritakan, Gus Dur telah mengenal bahkan khatam karya magnum opus pemikir besar sosialisme, Das Capital Karl Marx saat masih di sekolah menengah pertama sekaligus saat menjadi santri Kiai Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.

Selain seorang maniak, ia adalah pembaca yang rakus. Buku-buku yang ia baca konon tidak akan selamat oleh corat-coret, catatan-catatan layak memaknai kitab kuning. Ia seorang yang amat teliti, memahami sekaligus dapat mengkritisi buku yang sedang ia baca. Segala macam tema mulai dari politik, budaya, agama hingga persoalan sastra ia baca. Di Jogja, melalui Bu Rubiah, guru semasa Sekolah Menegah Ekonomi Pertama (SMEP), mengenalkan Gus Dur pada literatur kiri berbahasa Inggris. Mulai buku berhalaman tipis yang bisa buat kipas-kipas hingga buku yang berhalaman tebal yang bisa digunakan buat bantal tidur. Kebiasaannya membaca berbagai literatur ini kemudian juga dilakukan kala ia melanjutkan kuliah di Mesir walaupun tak lulus karena apa yang ada di kampus Al-Azhar sudah pernah ia lakukan semasa ia menjadi santri.

Keberagaman bacaan inilah, yang membuat seorang Gus Dur menjadi seorang yang amat kosmopolitan. Seseorang yang memiliki pandangan luas terhadap persoalan dan tidak buru-buru dalam menyimpulkan. Sekaligus  hal ini membuat dirinya seorang visoner, jauh berpandangan ke depan. Walaupun karena ini pula ia sering disalahartikan.

Gus Dur dan Kosmopolitan

Watak kosmopolitan itu teramat jelas dalam berbagai esai-esai yang ditulisnya. Mulai dari pesantren yang olehnya disebut sebagai subkultur hingga pada persoalan sosial, politik, ekonomi, budaya dan lainnya. Yang amat menarik bagi saya salah satunya ialah esainya yang terbit 13 Februari 1982 di kolom TEMPO, yang berjudul “Perubahan Struktural Tanpa Karl Marx.”

Dalam esai tersebut tokoh yang bernama lengkap KH. Abdurrahman Wahid ini menjelaskan secara tersurat “Marx harus diikuti analisisnya terhadap keadaan, tetapi jangan begitu saja dituruti dalam kesimpulan. Dengan kata lain, marxisme harus dipahami sebagai kenyataan sejarah, tetapi belum tentu memiliki kebenaran transendental. Kita sendiri harus berani melakukan kritik atas marxisme, jika tidak ingin terjajah olehnya.”

Logika berpikir serupa ia gunakan untuk menanggapi tentang Islam. Kehadiran Islam pun jangan sampai menjajah. Ia harus berdialog dengan kebudayaan lokal yang eksis dan mengakar di masyarakat. Dialog kebudayaan ini yang dulu sempat dilakukan oleh para Wali Songo beserta murid-muridnya yang tersebar di berbagai pulau di Nusantara.

Tak mudah menggolongkan Gus Dur sebagai seorang pemikir. Karena sepanjang hidupnya ia tak pernah sama sekali menuliskan buku utuh secara sistematis. Buku-buku yang ada ialah kumpulan esai yang tersebar di berbagai media.

Karena bukan seorang pemikir murni, ia cenderung disebut cendikia atau intelektual yang meletakkan keberpihakan secara jelas, kepada mereka yang terpinggirkan. Menolak hidup di menara gading, walau dengan keterbatasannya, ia mampu memberi kemanfaatan bagi semua orang. Mampu merangkul berbagai lapisan masyarakat. Mulai yang tak berpunya sampai mereka yang bergelimang harta dan tahta. Tak heran bila ia dekat sekali dengan tukang ojek jakarta sekaligus bisa tersenyum bersama dengan Jenderal Benny Moerdani, yang saat Presiden Soeharto berkuasa merupakan “orang dekat” sang presiden. Berinteraksi sesama Islam ataupun mereka yang non-Islam. Terlebih, ia akan menaruh empati lebih kepada kelompok minoritas. Bahkan pada masa ia menjabat sebagai Presiden, agama Kong Hu Cu resmi menjadi salah satu agama yang diakui di indonesia. Sejak itu pula, perayaan masyarakat yang menganut agama Kong Hu Cu dapat merayakan perayaan agamanya.

Tak heran ia dikagumi oleh kawan dan lawannya. Kalangan sendiri maupun di luarnya. Ia pun disebut sebagai Guru Bangsa, yang dikenang oleh seluruh lapisan masyarakat berbagai latar belakang. Mulai dari agama, kelas sosial, dan suku dan ras mana saja.

Bernama kecil Abdurrhman Ad-dakhil telah hidup mewarnai jagad perdebatan dan memberi kemanfaatan yang besar dalam peralihan politik negara dan bangsa Indonesia ini. Namanya dikenang sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia dengan masa jabatan 2 tahun 9 bulan ( 22 Oktober 1999 – 23 Juli 2001).

Persinggungan dengan banyak buku membuat pikiran-pikiranya selalu terbuka. Tak ada hal yang tidak mungkin, selama kemungkinan itu diusahakan. Tak ada kebenaran yang benar-benar mutlak soal keyakinan. Maka, keyakinan setiap orang tak dapat dipaksakan dan tidak berhenti pada penghakiman.

Ibarat buku Gus Dur adalah buku itu sendiri. Buku yang tak pernah habis untuk ditulis dan dibaca. Tulisan dan pikirannya terus hidup melewati dinamika dengan ketidakwarasan zaman. Perjalanannya melintasi berbagai wilayah membuatnya menemui beragam pikiran dan keyakinan.

Tetap membaca Gus Dur merupakan salah satu cara agar tetap waras, merawat akal sehat. Tanpa penyeragaman dan menghidupkan keberagaman kelas sosial, keyakinan, dan pikiran.[]

 

*Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Demisioner PSDM di LPM Rhetor.

 

Tulisan ini sepenuhnya diambil dari blog pribadi penulis https://akubukumu.blogspot.co.id/2017/05/gus-dur-buku-dan-seorang-kosmopolitan.html?m=1

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top