Celoteh Santri Gus Dur

Tragedi Paris dan Sikap Kita

©istimewa

©istimewa

Oleh: Mohammad Pandu*

Sudah sepatutnya kita bersyukur atas turunnya hujan belakangan ini. Setidaknya fisik kita tak ikut-ikutan panas, layaknya hati kita yang gerah mendengar kabar serangkaian teror di sana-sini. Kasus terakhir terjadi minggu lalu di Paris, Perancis, tepatnya pada Jum’at malam (13/11). Ada enam titik lokasi yang menjadi sasaran pengeboman dan penembakan brutal oleh para teroris; mulai dari restoran, lingkungan stadion, hingga tempat konser musik.

Ratusan korban berjatuhan. Sedikitnya ada 100 korban meninggal dunia dan 200 lainnya mengalami luka-luka. Kita mungkin miris mendengarnya. Tak heran jika simpati banyak berdatangan sebagai dukungan untuk Paris. Seperti media sosial dan gedung-gedung yang mendadak berwarna biru-putih-merah, atau kegiatan doa bersama seperti yang dilakukan penduduk Muslim Perancis di Masjid Agung Lyon.

Di sini, penulis tidak sedang mencoba mempermasalahkan ketimpangan teror yang terjadi di Perancis dengan yang terjadi di Iraq, Syiria maupun Palestina. Kita tahu, apa yang terjadi di Perancis kemarin belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bencana kemanusiaan di negara-negara Timur Tengah. Tapi ini tentang momentum, dan juga peran media yang punya andil cukup besar.

Kita bisa bersimpati untuk Palestina kapanpun kita mau, karena memang sampai saat ini belum juga ada penyelesaian terkait konflik di sana. Tapi bukan berarti kita harus acuh pada teror yang terjadi di Paris, hanya karena sikap sinis kita pada media yang terkesan “membesar-besarkan” masalah “kecil”. Kita juga harus ingat, bahwa Perancis ataupun negara di belahan dunia manapun merupakan saudara yang harus kita rangkul bersama atas nama kemanusiaan.

Tragedi Paris menyisakan “rantai setan” berkepanjangan yang merugikan banyak pihak. ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di Paris, telah kena batunya. Belum genap dua hari dunia berkabung, pesawat jet Perancis sudah membombardir Kota Raqqa di Syria, tentunya sebagai balasan telak untuk kelompok ISIS. Hampir bisa dikatakan, bahwa apa yang terjadi antara negara-negara Barat dengan ISIS saat ini merupakan Perang Dunia III yang akan terus merenggut korban jiwa dari kedua belah pihak.

Dampak lebih lanjut, agama Islam menjadi sasaran kambing hitam oleh penduduk dunia yang masih awam. Penduduk dunia yang belum bisa membedakan mana Islam dan mana terorisme. Kita sebagai Muslim tentunya merasa dirugikan akan hal itu. Barangkali, banyak orang telah sepakat bahwa ISIS hanya memakai nama Islam saja, namun perilaku mereka sama sekali tak mencerminkan keislamannya.

Semua kekacauan yang berbuntut panjang ini, saya kira berakar dari perbedaan dogma (plus politik) yang dipermasalahkan oleh segelintir pihak. Sebut saja ayat-ayat jihad dalam kitab suci (Al-Qur’an) yang ditafsirkan sedapatnya tanpa memandang aspek kebenaran universal. Di sisi lain, fanatisme pada agama membuat mereka semakin gelap mata untuk menghalalkan segala cara termasuk aksi kekerasan. Saya yakin, tiada agama yang mengajarkan kekerasan kepada para penganutnya. Bahkan para nabi yang menjadi suri tauladan umatnya, tak satupun kita jumpai bersikap sewenang-wenang.

Rasulullah SAW sendiri telah memberi contoh banyak sekali pada kita untuk selalu menjaga kerukunan dan persatuan umat. Salah satu peninggalan beliau yang paling bersejarah adalah Piagam Madinah (Shahifatul Madinah). Dalam dokumen Piagam Madinah, Rasulullah SAW mencoba menyatukan semua umat dengan membuat perjanjian resmi antara beliau dengan suku-suku dan kelompok-kelompok besar di Yastrib (Madinah). Sebelumnya, keadaan di Yastrib sangat kacau balau. Peperangan, penindasan dan perebutan dominasi serta kekuasaan sudah menjadi tontonan biasa di sana.

Rasulullah SAW dengan 47 pasal dalam Piagam Madinahnya telah menghapus semua tindakan jahiliyah tersebut. Beliau merumuskan pengembalian hak-hak kaum minoritas, kebebasan memeluk agama, baik bagi penduduk Muslim, Nasrani, Yahudi maupun para penyembah berhala. Selain itu, Piagam Madinah juga berisi konsep nasionalisme, ajaran toleransi yang mengesampingkan segala perbedaan, dan juga ajaran humanisme. Masyarakat Yastrib di kemudian hari pun lantas bisa hidup damai dan berdampingan.

Ini adalah contoh nyata dari junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW. Bahwa perbedaan selalu bisa disikapi dengan jalan damai. Hanya emosi sesaat dan tingginya ego manusialah yang membuat segala bentuk perbedaan malah berujung konflik. Tragedi Paris yang menyedihkan itu, sangat mungkin merupakan hasil dari tidak mampunya para ‘teroris’ menangani perbedaan. Meskipun agama menjadi landasan dasar mereka, namun jika dilihat dari contoh yang telah diberikan Rasulullah SAW, maka hal tersebut tidak bisa dibenarkan.

Tragedi Paris dan serangkaian teror yang terjadi merupakan contoh dalam skala besar. Sedang dalam skala kecil, jangan kira kita terbebas dari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Kita bisa lihat kasus-kasus intoleransi seperti yang terjadi di Sampang (Madura), Tolikara (Papua) dan Singkil (Aceh). Percikan-percikan kecil seperti inilah yang jika dibiarkan bisa berbuah pada aksi teror yang lebih besar.

Betapa sulitnya manusia menghargai perbedaan satu sama lain, menanamkan toleransi dan menebarkan perdamaian. Lebih dari itu, saya pribadi malu pada Imam Syafi’i yang sangat menghormati Imam Abu Hanifah di tengah perbedaan pandangan fiqhnya. Saya malu pada KH. Hasyim Asy’ari yang sangat menghargai KH. Ahmad Dahlan di tengah perbedaan konsep dakwahnya. Saya juga malu pada sosok Gus Dur yang bisa duduk rukun dengan Romo Mangunwijaya di tengah perbedaan agamanya. Lantas, bisakah kita meneladani akhlak mereka?

Mohammad Pandu. Penulis adalah Santri Ponpes Kotagede Hidayatul Mubtadi-ien (PPKHM), Yogyakarta.

*Tulisan ini dimuat di Buletin Santri Edisi 28/Jum’at 20 November 2015

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top