Gus Dur dalam Pena

Namaku Abdurrahman Wahid

©istimewa

©istimewa

Oleh: William Liddle*
Terjemah: Rifqi Fairuz

Ada bumbu yang terlupakan dalam deskripsi media tentang presiden baru Indonesia, Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur. Kita tahu ia adalah seorang ulama Muslim, ketua Nahdlatul Ulama (NU) dari tahun 1984, mungkin organisasi ulama dan cendekiawan Muslim terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Penglihatannya yang hampir buta dan kerentanan masyarakat fisik, komplikasi dari diabetes dan dua stroke baru-baru ini terlihat jelas oleh para pemirsa televisi di seluruh dunia, yang menyaksikan sidang MPR ketika ia terpilih dan dilantik sebagai presiden keempat Indonesia.

Ia digambarkan mahir dan lincah sebagai ahli siasat politik. Mahir, dalam cara dia membangun dan mempertahankan posisinya sebagai tokoh utama demokrasi di hari paling represif pemerintah Suharto. Meletup-letup dan licin, karena ledakan emosional nya, kecenderungannya untuk percaya teori konspirasi yang keterlaluan, dan manuver zig-zagnya kadang menghibur musuh-musuh dan bikin bingung teman-temannya.

Kita juga mesti paham bahwa ia adalah seorang ulama Muslim yang langka. Dia adalah seorang pluralis yang percaya bahwa agama adalah urusan pribadi, dan secara konsisten bertindak atas keyakinannya itu selama beberapa dekade. Selama rezim Suharto ia secara terbuka membela hak-hak minoritas non-Muslim serta kelompok Muslim yang dianggap sesat oleh seagama dan oleh negara. Dia adalah sosial-demokrat bergaya Eropa yang berkomitmen untuk tegaknya partisipasi demokrasi, juga untuk penggunaan kebijakan negara demi mengurangi ketimpangan dan ketidakadilan. Mungkin yang paling mengejutkan bagi masyarakat sekuler Indonesia, ia juga mampu menjadi anggota aktif dari elit intelektual Jakarta modern, membahas isu terkini melalui tulisan dan organisasi. Selama beberapa tahun di tahun 1980-an ia membuat geger Muslim konservatif dengan posisinya sebagai juri di festival film nasional, setara dengan Hollywood Academy Awards.

Apa yang terlupa dari gambaran ini adalah pemahaman yang lebih dalam tentang bentuk kepemimpinan yang akan Gus Dur abdikan kepada negaranya, tentunya jika kesehatannya memungkinkan.

Saya pertama kali bertemu dengannya di pertengahan tahun 70-an, tak lama setelah kembali dari studi di Timur Tengah, ketika ia baru mulai membangun dirinya dalam kelompok intelektual politik Jakarta yang terpusat di lingkaran Tempo, majalah berita mingguan terkemuka di Indonesia, dan LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial), sebuah lembaga kajian ilmu terapan yang dikelola oleh para pemuda Muslim sosialis perkotaan berpendidikan Barat.

Gus Dur bukan anak kemarin sore bagi kehidupan Jakarta. Ayahnya adalah seorang pemimpin NU dan Menteri Agama pertama setelah Indonesia merdeka, dan keluarganya telah tinggal di ibukota selama beberapa tahun. Tapi pendidikannya sebagai santri di pedesaan, kuliahnya di Baghdad dan Kairo, dan afiliasi NU membuat dia dipandang sebelah mata di kalangan intelektual Jakarta. Baik dari kacamata sosialis sekuler atau muslim modernis, dia hanya dipandang sebagai Muslim yang ‘ndeso’, masih dirantai oleh kajian Fiqh kuno abad pertengahan dan terperosok dalam takhayul sufi maupun keyakinan adat dan praktik mistis Indonesia. Pada tahun 1950, saat awal eksperimen demokrasi di Indonesia, politisi NU tingkat nasional –termasuk ayah Gus Dur– diolok-olok sebagai orang kampungan yang tidak paham dengan urusan nasional dan kementerian agama.

Sebagai anak muda, Gus Dur mengamati bagaimana para sesepuhnya di NU diremehkan, dan sama-sama menanggung amarah mereka. Bertahun-tahun kemudian, dalam wawancara dengan saya dan orang lain, ia sering mengeluh tentang arogansi musuh NU, terutama kaum modernis Muslim. NU telah didirikan pada tahun 1926 oleh para ulama Muslim tradisional berbasis pedesaan dan cendekiawan yang bersangkutan untuk membendung kemajuan yang dibuat oleh modernis perkotaan yang lebih berpendidikan Barat, yang mengajarkan interpretasi langsung dari al-Qur’an oleh para Muslim kontemporer. Kiai dan ulama NU ingin melestarikan tradisi interpretasi Sunni klasik dalam madzhab Fiqh, yang selama berabad-abad telah membangun pondasi pendidikan Islam di Indonesia. Untuk periode singkat di akhir 1940-an dan awal 1950-an kaum modernis dan tradisionalis bergabung dalam partai politik tunggal, tetapi pada tahun 1953 para pemimpin NU terpecah untuk membentuk partai mereka sendiri. Sejak saat itu kedua kubu tetap terpisah dan bermusuhan, meskipun usaha pemulihan hubungan juga telah dilakukan, terutama dalam beberapa tahun terakhir.

Pemahaman tentang kepemimpinan Gus Dur berakar pada latar belakang NU-nya. Dalam obrolan santai beberapa tahun yang lalu, saya bertanya apa yang dia suka baca. Dia menjawab novel kontemporer favoritnya adalah ‘My Name is Aher Lev’, karya Chaim Potok. Ketika saya tanya mengapa, dia hanya menjawab bahwa novel itu laksana cermin.

Tokoh dari My Name is Asher Lev adalah seorang pemuda Yahudi yang tumbuh di Brooklyn pada 1940-an dan 1950-an. Kehidupan keluarganya berdasar pada tradisi keagamaan yang kuat. Kedua orang tuanya adalah keturunan beberapa generasi Rabi dan cendekiawan Yahudi. Ayahnya berkeliling ke berbagai negeri dan Eropa membantu menyelamatkan orang-orang Yahudi di balik Tirai Besi dan membangun Yeshiva “atas permintaan Rebbe” yang merupakan pemimpin sekte Hasidic mereka. Kakek buyutnya –yang muncul dalam mimpi Asher sebagai “leluhur mistis”– mengubah perkebunan bangsawan Rusia yang lalim menjadi sumber kekayaan besar. Leluhur Asher ini kemudian menghabiskan sisa hidupnya bepergian “untuk melakukan perbuatan baik dan membawa penguasa semesta ke dunia,” yaitu, untuk mengembalikan keseimbangan yang telah ia kacaukan karena memungkinkan bangsawan untuk menyiksa budaknya.

Kakek Asher, yang nama Asher sendiri dinisbatkan kepadanya, bepergian ke seluruh penjuru Uni Soviet sebagai utusan ayah dari Rebbe saat ini. Kakek Asher dibunuh oleh seorang petani mabuk saat perjalanan pulang dari sinagog Rebbe pada malam sebelum Paskah. Adapun Ibu Asher, adalah keturunan dari “salah satu pemimpin Hasid yang paling saleh”, sangat terpukul pada bagian awal novel akibat kematian saudara satu-satunya, tapi kemudian pulih dengan mengabdikan hidupnya untuk sekte.

Sejak usia dini Asher memahami bahwa ia memiliki bakat unik. Dia adalah seorang seniman yang ditakdirkan untuk besar. Tuntutan seni –digambarkan oleh Potok sebagai dunia penafsiran bebas dengan nilai dan standar sendiri– kemudian menyebabkan konflik dengan orang tuanya, terutama ayahnya, yang meyakini bahwa jadi seorang seniman adalah kebodohan, “tidak sesuai Taurat“, dan bahkan mungkin godaan dari Sitra Achra (dunia kegelapan di mistisisme Yahudi). Rebbe bijaksana, dengan wawasan yang lebih luas daripada ayah Asher, ikut campur tangan dan memperkenalkan Asher ke Jacob Kahn, seorang seniman besar yang merevolusi seni pahat sebagaimana Picasso merevolusi seni lukis. Rebbe mengatakan, “Saya berdoa kepada Tuhan bahwa dunia suatu hari juga akan mendengarmu sebagai seorang Yahudi… Jacob Kahn akan membuatmu sebagai seorang seniman. Tapi dirimu sendiri lah yang akan menjadikanmu seorang Yahudi.” Kahn menjadi guru dan pelindungnya, akhirnya mengatur pameran tunggal bagi Asher, di mana ia diakui oleh para kritikus sebagai artis baru yang besar.

Konflik Asher dengan orang tuanya makin menjadi-jadi. Dia terdorong oleh kebutuhan untuk mengekspresikan kesedihan dan rasa tersiksanya dalam seni. “Demi misteri yang tak terungkapkan, yang membawa ayah dan anak yang baik ke dunia dan memungkinkan seorang ibu menyaksikan mereka menggorok leher masing-masing.” Dia melukis adegan penyaliban metaforis (Asher memilih simbolisme Kristen karena Yahudi, katanya, tidak menyajikan gambaran yang sebanding). Asher menggambarkan ibunya dengan tangan memanjang di atas jendela ruang tamu keluarga, wajahnya retak menjadi dua bagian. Di bawahnya, sang ayah berdiri membawa tas jinjing dan Asher membawa lempeng cat lukis, mereka menuntut hal yang mustahil, mana yang akan sang ibu pilih di antara mereka.

Orang tua Asher sangat terkejut dengan lukisan itu. Bahkan Rebbe yang semula mendukungnya, meninggalkannya saat ini.  “Asher Lev,” kata Rebbe lembut. “Kau telah kelewat batas. Aku tidak bisa membantumu. Kau sendirian sekarang. Aku memberkatimu.” Pada akhir novel dia meninggalkan Brooklyn menuju Paris, tapi bagaimanapun dia masih “Asher Lev, seorang Hasid.. Asher Lev, pelukis” Dia mendengar leluhur mitisnya berkata: “Ikutlah denganku, Asher-ku sayang. Kau dan Aku akan berjalan bersama sekarang selama berabad-abad, kita berjalan demi perbuatan kita masing-masing yang membuat dunia ini tak seimbang.” Asher akan menjadi pelukis besar, tetapi dengan begitu ia juga akan terus menyakiti orang yang dicintainya. Tidak ada jalan keluar dari dilema.

Apa hubungan antara My Name is Asher Lev dan Abdurrahman Wahid? Pada tingkat yang paling sederhana, apresiasinya atas dunia Asher Lev mencerminkan kemampuan empati untuk memasuki kesadaran orang lain, yang dalam kasus ini luar biasa, karena sangat sedikit perhatian untuk orang-orang Yahudi di tengah mayoritas umat Islam Indonesia. Di novel ini dia membaca sapaan khas Ibrani dan jawabnya “Sholom aleichim, aleichim Sholom” dan melihat, dia mengatakan kepada saya, sapaan Arab “Salam alaikum, alaikum salam,” sangat familiar digunakan oleh umat Islam Indonesia sebagai tanda identitas Islam mereka, untuk membedakan mereka dari lain. Bagi Gus Dur, kesamaan frasa ini tidak hanya menandakan kedua agama mempunyai asal-usul sama, tetapi juga universalitas lebih mendalam dari pengalaman religius manusia. Cintanya kepada novel ini juga membantu untuk menjelaskan terpikatnya Gus Dur dengan Yahudi dan Israel, negara yang telah ia kunjungi beberapa kali sebagai warga biasa dan sebagai presiden ia sekarang mengusulkan untuk membangun hubungan ekonomi.

Lebih dalam, bagi Gus Dur novel ini adalah cermin karena dua alasan. Pertama, dunia terpusat Hasid yeshiva dijelaskan oleh Potok sangat mirip seperti pesantren atau dunia pendidikan Islam tradisional Indonesia. Menjadi santri di sekolah ini berarti menjadi anggota dari komunitas moral yang memiliki nilai-nilai dan keyakinan bersama yang membedakan ide-ide dari luar. Ini adalah pengalaman intens yang menciptakan ikatan seumur hidup yang kuat di kalangan santri dan di antara mereka dan Kiai mereka. Pusat dari keduanya adalah pemimpin, Rebbe atau Kiai yang dihormati, bahkan karismatik, yang harus ditaati tanpa pertanyaan dan keraguan. Yeshiva dan pesantren juga merupakan lembaga sentral dari masyarakat yang mereka bangun, Yahudi Hasidic dan Muslim tradisional Indonesia. Sowan kepada Rebbe dan Kiai jelas hal yang biasa ketika keluarga atau masyarakat mempunyai masalah serius, dan saran mereka jarang ditolak.

Kedua, sebagai pemimpin yang kuat, bahkan karismatik, Rebbe dan Kiai memiliki tanggung jawab utama untuk membentuk masa depan komunitas mereka. Dalam rangka menjawab tantangan zaman, mereka harus memiliki cakrawala sosial dan budaya yang lebih luas dari anggotanya. Mereka harus mampu menjadi jembatan ke dunia lain, antara Yahudi kolot dan non-Yahudi Amerika dalam kasus Hasid Yeshiva. Masyarakat Muslim modern dan budaya global dalam kasus Muslim pesantren. Dalam hal ini sosok Rebbe di My Name Asher Lev menegaskan konsep Gus Dur sendiri tentang sosok Kiai NU yang ideal, yakni seorang pemimpin yang berakar kuat dalam tradisi klasik Islam Sunni dan untuk alasan itu mampu fleksibel menafsirkan atau bahkan membentuk-ulang tradisi untuk memenuhi tantangan dunia modern. Adalah Rebbe, (bukan ayah Asher yang sama salehnya tetapi konvensional secara intelektual dan moral) yang percaya bahwa Asher mampu untuk menjadi seorang Yahudi yang taat dan seorang seniman besar abad kedua puluh secara bersamaan. Dengan memberinya Jacob Kahn sebagai guru (yang mana tradisi keguruan ini adalah sikap alami tradisi yeshiva), Rebbe membuat keberhasilan Asher di luar dunia Yahudi menjadi mungkin.

Bagi Gus Dur, ada unsur yang sangat personal dalam semua ini. Dalam beberapa hal, ia adalah Rebbe dan Asher Lev sendiri. Kakeknya adalah pendiri NU, ayahnya seorang pemimpin terkemuka NU, dan diharapkan bahwa Gus Dur akhirnya akan meneruskan perjuangan mereka. Sebagai seorang anak dan pemuda, bagaimanapun, dia adalah seorang nyeleneh dengan pikiran yang tajam, tidak nyaman dengan keyakinan dan praktek Islam konvensional, dan bersemangat untuk memperluas cakrawalanya. Setelah studinya di Baghdad dan Kairo (di mana ia tidak dapat gelar) ia menghabiskan waktu di beberapa universitas Eropa sebelum pulang di pertengahan 1970-an. Dia kemudian memulai karirnya sebagai aktivis sosial berbasis di Jakarta, yang selama beberapa tahun setelahnya menulis serangkaian kolom yang luar biasa di majalah Tempo. Masing-masing kolom ini bercerita tentang seorang Rebbe bijaksana – sebagaimana Kiai yang mampu memecahkan masalah sosial kontemporer yang tidak bisa diatasi oleh pendekatan konvensional, dengan hanya berdasarkan teknologi modern dan organisasi.

Dalam kolom ini mudah untuk melihat bahwa Gus Dur selalu memiliki kegeraman tersendiri terhadap kaum Muslim modernis, yang terlalu bersemangat untuk mencerabut sejarah-budaya Islam dan Indonesia sebagai dukungan terhadap penerapan tekstual al-Qur’an untuk kehidupan kontemporer. Tapi tujuan lebih besarnya adalah positif, dan tidak terbatas pada komunitas Muslim saja: yaitu untuk menunjukkan bahwa peran nilai-nilai dan praktik tradisional seperti yang dimiliki Kiai, keduanya diperlukan untuk transisi ke masyarakat modern dan merupakan bagian tak terhindarkan dari modernitas khusus Indonesia yang dia idamkan dan akan dia bangun. Dia juga secara implisit menawarkan dirinya sendiri, meskipun selama bertahun-tahun tanpa banyak harapan sukses, sebagai semacam Kiai-Presiden, perpaduan peran tradisional dan modern.

Konsep Kiai-Presiden memiliki kekuatan dan kelemahan. Mungkin kekuatan terbesar adalah keakraban dan oleh karenanya mampu meraih legitimasi instan ke puluhan juta orang Indonesia dari sebagian besar daerah dan latar belakang etnis. Karakteristik ini tentu akan membantu para reformis, Gus Dur di antara mereka, yang berusaha untuk menggantikan otoriter Orde Baru yang didukung militer Soeharto dengan sistem yang lebih demokratis. Adapun kelemahan paling mencolok adalah kurangnya peraturan dan prosedur yang mana melalui jalur itu pemimpin dapat bertanggung jawab kepada konstituen mereka. Kiai mencapai statusnya melalui kombinasi bawaan lahir, pendidikan, dan penerimaan bertahap pengetahuan dan mengajar kemampuan oleh Kiai lainnya, potensi santri dan orang tua mereka, dan masyarakat Muslim tradisional yang lebih besar. Tidak ada prosedur pasti bagaimana posisi Kiai bisa diangkat, atau lebih penting lagi, seorang Kiai bisa diturunkan dari posisinya.

Oleh karenanya, dalam porsi yang besar, lembaga-lembaga yang memegang pertanggungjawaban presiden harus dipinjam dari tradisi-tradisi lain, terutama dari Barat dan demokrasi Asia Timur. Proses ini dimulai oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, pengganti Suharto, yang pemerintahnya tunduk pada tekanan populer untuk pers yang bebas dan pemilu yang demokratis. Hal ini terus terjadi di bawah Gus Dur, presiden yang terpilih secara demokratis pertama dalam sejarah Indonesia. MPR yang memilih dia saat ini sedang mempersiapkan amandemen konstitusi dan peraturan yang akan membatasi presiden selanjutnya dan memastikan peran yang lebih besar bagi Parlemen dan peradilan yang independen. Presiden juga telah menanggapi dengan cepat tuntutan daerah untuk membuat sistem federal de facto, di mana provinsi akan memilih legislatif dan gubernur mereka sendiri.

Meskipun kurangnya konsep akuntabilitas kelembagaan, Islam tradisional mungkin belum memberikan kontribusi yang signifikan untuk demokratisasi Indonesia melalui sosok Kiai-Presiden Gus Dur. Baik Rebbe di novel My Name is Asher Lev maupun banyak Kiai yang ceritanya ditulis oleh Gus Dur, merupakan sosok yang dikenal karena kombinasi akar yang mendalam dan pendekatan terbuka, fleksibel dan inklusif bagi orang luar dan masa depan. Pada akhir cerita, Asher Lev pergi terlalu jauh, melintasi batas di mana Rebbe tidak bisa lagi mengikutinya, meninggalkan Asher hanya berteman leluhur mitis di sampingnya. Melihat riwayat masa lalunya, ada peluang bagus di mana Gus Dur akan menarik garis batas dengan cara yang akan menjaga para pemain utama –entitas etnis, daerah dan agama– tetap ada di dalam garis kebangsaan, sementara dia terus bergerak ke arah demokratisasi negara.

 

William Liddle. Penulis adalah profesor Ilmu Politik di Universitas Negeri Ohio.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top