Celoteh Santri Gus Dur

Apakah Sistem Khilafah Solusinya?

©istimewa

©istimewa

Oleh: M. Fakhru Riza*

Kita sering kali menemukan sebuah fakta bahwa di dalam sebuah tatanan sosial, individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Begitu pula sebaliknya, di dalam masyarakat peran individu juga berperan aktif dalam mempengaruhi lingkungan sosialnya.

Kemudian menjadi menarik jika berkaitan dengan mana yang lebih penting, sistem yang harus dibenahi ataukah individu masyarakatnya? Membahas persoalan ini akan menarik kita untuk menuju bahasan sistem Khilafah Islamiyah. Beberapa organisasi masyarakat (ormas) Islam yang memperjuangkan tercapainya sistem ini. Mereka mendambakan sebuah formalisasi ajaran Islam dalam sistem bernegara. Islam dijadikan pijakan dasar atau ideologi dalam bernegara.

Kalangan yang sepakat dengan sistem khilafah tentunya melihat bahwa untuk memperbaiki sebuah masyarakat, yang terpenting adalah sistemnya. Sistem yang islami adalah segala-galanya.

Melihat pengalaman dalam gerakan perubahan masyarakat di negeri-negeri lain, kesuksesan sebuah sistem masyarakat atau ideologi  dalam berbangsa dan bernegara harus didukung oleh kualitas individu dalam bangsa tersebut. Semisal kesuksesan Revolusi Bolshevik 1917 di Uni Soviet yang didukung oleh warisan dari kualitas birokrasi peninggalan Tsar Nicholas.

Seperti juga pengalaman bangsa Inggris, setelah mengalami masa kelam pada sekitar abad ke-17 karena merajalelanya korupsi. Pemerintahan Inggris mampu bangkit setelah pemberantasan besar-besaran terhadap koruptor digalakkan. Yang pada akhirnya Inggris tampil dalam peringkat atas dunia masa abad 19 hingga sekarang.

Hal ini mengisyaratkan bagaimana dalam perubahan masyarakat, bukan hanya sistem yang diperbaiki, namun yang lebih penting adalah perbaikan kualitas dari individu masyarakat. Hal ini sangatlah penting, karena untuk menyangga sistem tersebut diperlukan individu yang berkualitas. Kalau perbaikan individu ini tidak dilakukan, hanya kegagalan sistemlah yang akan ditemui, sistem yang dijangkiti penyakit korupsilah yang dihasilkan.

Kembali lagi pada masalah Khilafah Islamiyah. Wacana ini juga tidak menyentuh masalah individu umat. Persoalan kualitas umat kemudian diabaikan, padahal masalah semacam ini merupakan kunci dari perubahan wajah Islam menuju peradaban yang maju. Kalau misalnya kita bandingkan dengan gerakan ormas islam yang lainnya, semisal Nahdlatul Ulama’ (NU) dan Muhammadiyah, kedua ormas terbesar di Indonesia ini lebih memilih kepada gerakan yang sifatnya kultural. Umat perlu dididik dalam kantong-kantong pendidikan dan wadah penyangga sosial umat. Kalau NU dengan pesantrennya dan Muhammadiyah dengan Sekolah dan basis sosial kemasyarakatannya.

Kalau kita melihat secara rill masalah yang dihadapi negeri kita konteks hari ini, dalam sebuah gerakan perubahan struktural, haruskah mengganti ideologi Negara, ataukah cukup dengan perjuangan dalam ranah kultural dan akar rumput?

Sebelumnya perlu untuk kita uraikan problem-problem hari ini yang secara rill sering kita hadapi. Pertama, tentunya adalah masalah korupsi. Konon katanya gara-gara korupsilah sampai hari ini bangsa kita urung mendapatkan kemajuan. Menurut sejarawan cum Indonesiais, Peter Carey (2016), persoalan korupsi di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonialisme, sejak era Deandels hingga hari ini belum bisa teratasi.

Kedua, adalah masalah kesejahteraan. Kemiskinan adalah masalah yang identik dengan negara dunia ketiga. Masalah ini sejak kemerdekaan 71 tahun silam belumlah kunjung bisa diatasi. Ketiga, masalah kebodohan. Masalah ini sejak lama juga belumlah mampu untuk ditangani. Dan masih banyak masalah yang lainnya.

Bisakah dengan mudahnya kita katakan kemudian bahwa solusi masalah di atas adalah Khilafah Islamiyah? Seperti brosur buletin jum’at yang dibagi-bagikan oleh salah satu ormas Islam, yang menulis bahwa solusi dari segala masalah adalah Khilafah Islamiyah. Tentunya tidaklah semudah itu dalam memecahkan masalah. Ketika dihadapkan dengan masalah di atas, perubahan masyarakat atau umat yang secara ambisius melalui sistem struktural demikian itu hanya bagaikan mimpi di siang bolong.

Dengan pendekatan yang demikian itu, malah akan menjadikan Islam seolah hanya menjadi mantra-mantra dalam melihat segala masalah, Islam secara abakadabra langsung mampu menjadi solusi masalah sosial. Hal ini akan menjadikan Islam menjadi tidak rasional.

Ketika dihadapkan masalah-masalah di atas, korupsi, kesejahteraan, kebodohan dan lain-lainnya, maka sistem khilafah akan menemui ketumpulannya. Hal ini bersumber dari belum jelasnya sistem khilafah itu. Selama ini, belum pernah diungkapkan secara terbuka dan jernih bagaimana sistem khilafah itu oleh ormas yang pro dengannya. Selama ini hanya menjadi ungkapan jargon-jargon yang dogmatis saja. Belum lagi, dihadapkan dengan problematisnya formalisasi ajaran Islam ini dalam bernegara. Di mana tidak adanya ajaran baku dalam islam mengenai sistem pemerintahan.

Akhirnya, relevankah Khilafah Islamiyah untuk kita perjuangkan?

 

 

M. Fakhru RizaPenulis adalah alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan ke-5 (KPG V)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Apakah Sistem Khilafah Solusinya? | DEAD-LINE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top