Celoteh Santri Gus Dur

Pembangunan Intelektual sebagai Aksi Bela Islam yang Hakiki

©istimewa

©istimewa

Oleh: M. Fakhru Riza

Di akhir tahun 2016 ini, kita (umat Islam dan bangsa Indonesia) banyak terkuras pikirannya untuk mengurusi hal-hal yang terkadang jauh dari substansi keberagamaan kita. Rangkaian aksi bela Islam kemarin, dari jilid 1 sampai jilid 3 dengan pemberitaan-pemberitaan di media massa, baik cetak, elektronik bahkan media sosial. Sentimen-sentimen rasial dan sentimen agama yang pada dasarnya merupakan konflik politik yang mempunyai kecenderungan memecah belah umat dan bangsa, akhir-akhir ini sungguhlah banyak menyita pikiran dan kesadaran kita.

Setelah kita dibuat lelah oleh aksi-aksi dan pemberitaan kemarin, perlu adanya sebuah refleksi dalam diri kita, apakah rangkaian gerakan aksi bela Islam kemarin merupakan perjuangan yang mampu membangun kemajuan peradaban dan keberislaman kita. Ataukah malah sebaliknya, kita hanya terjebak oleh reaksi emosional semata, yang jauh dari substansi dari problem umat saat ini.

Sejarah bangsa-bangsa di dunia sudah membuktikan, kalau kunci utama dari kemajuan suatu masyarakat atau bangsa adalah ilmu pengetahuan. Perkembangan peradaban Barat saat ini, seperti negeri-negeri Eropa, Amerika Utara dan juga Asia Timur seperti Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan.

Di Indonesia, negara yang mayoritas umat beragamanya adalah Islam, belum mempunyai tradisi ilmu pengetahuan yang baik. Hal ini bisa dilihat dari indeks membaca masyarakat Indonesia yang hanya 0,001 %. Hal ini menandakan jauhnya kapasitas kita untuk membangun menjadi suatu umat  yang maju dan berperadaban.

Kasus “penistaan agama” yang dituduhkan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Gubernur DKI Jakarta kemarin menandakan bagaimana kita belumlah mempunyai kapasitas wawasan yang cukup dewasa untuk menyikapi masalah yang terjadi. Kita belum bisa melihat konteks ucapan Ahok dengan pertarungan politik yang terjadi di ibukota. Arogansi umat tersulut hanya oleh propaganda elit-elit ormas yang menggunakan sentimen agama untuk kepentingan prinsip politiknya.

Sudah saatnya umat Islam di Indonesia mulai memikirkan rencana jangka panjang untuk membangun kemajuan umat untuk mencapai kemajuan peradaban Islam. Sebuah rencana pembangunan pemberadaban umat yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan yang maju.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh penyair dan budayawan Emha Ainin Nadjib “al-Qur’an itu kalau diberikan kepada kambing, tidaklah mempunyai fungsi apa-apa”. Hal ini berarti, untuk memahami dan melaksanakan tuntunan-tuntunan Tuhan dalam kitab suci-Nya membutuhkan sebuah kapasitas intelektual dan ilmu pengetahuan yang cukup.

Kita bisa belajar dari tradisi pengembangan ilmu pengetahuan yang maju itu dari tradisi Barat. Di Barat, membaca, entah buku, majalah, koran bahkan komik menjadi sebuah tradisi sehari-hari, baik anak-anak, orang dewasa bahkan orang tua. Tradisi membaca inilah yang membentuk wawasan intelektual masyarakat Barat sangatlah baik.

Di dalam tradisi kita sendiri, sebenarnya di dalam Al-Qur’an pada wahyu pertamanya mewajibkan kita untuk “membaca”, namun ini sering kita lupakan. Di sini sudahlah jelas bagaimana pentingnya budaya membaca. Al-Qur’an sudah menggariskan visi yang sangatlah maju dengan menyuruh kita untuk senantiasa banyak-banyak membaca.

Umat Islam harus sudah mulai beralih dari kebiasaan reaksioner, merespon masalah sosial dan keagamaan, kebudayaan dan politik yang hanya berdasarkan perasaan emosional semata yang sering ditampilkan belakangan ini. Kebiasaan lama itu harus mulai diubah. Upaya-upaya baru harus dilakukan. Sebuah upaya pembangunan intelektual umat dan upaya tradisi ilmu pengetahuan dalam kebudayaan kita. Sebuah jihad di bidang ilmu pengetahuan, seperti yang pernah dilakukan oleh ulama-ulama masa dinasti Abbasiyah dalam Bait al-Hikmah. Kerja ilmiah dengan penterjemahan buku-buku filsafat Yunani kuno ke dalam bahasa Arab untuk membangun intelektualisme umat Islam.

Budaya yang kurang konstruktif belakangan ini, seperti budaya kerumuanan masa yang banyak ditampilkan ini harus mulai untuk diubah. Kebiasaan eksistensi massa yang berkerumunan untuk menyatakan kuantitas umat semacam aksi bela Islam kemarin menampilkan budaya ikut-ikutan, budaya patronase dan fatalistik yang tidak mempunyai kemandirian berpikir umat dan mempunyai kecenderungan anti-intelektual. Yang ditampilkan kemudian hanyalah arogansi mayoritas kepada minoritas. Akhirnya, umat rentan digunakan oleh kalangan elit untuk kepentingan ambisi pribadi dan politik elit.

Kerja-kerja intelektual dan ilmu pengetahuan seperti inilah yang perlu untuk kita upayakan untuk membangun peradaban Islam ke depannya yang lebih maju dan tidak terjebak oleh emosional semata yang kemudian tidak menyelesaikan substansi masalah yang ada dalam umat kita sendiri.

 

 

M. Fakhru Reza. Penulis adalah mahasiswa Psikologi UIN Jogja; alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan ke-5 (KPG V)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Pembangunan Intelektual sebagai Aksi Bela Islam yang Hakiki | DEAD-LINE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top