Celoteh Santri Gus Dur

Meredam Terorisme: Sinergisme Lokalitas Jawa dan Kebhinekaan

©istimewa

©istimewa

Oleh: Fadli Rais*

Serangkaian kejadian terorisme seperti pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur; bom bunuh diri di Markas Polisi Resort Surakarta, Jawa Tengah; dan Bom Sarinah di Jakarta merupakan alarm bagi masyarakat. Terorisme tidak akan lenyap tanpa adanya kesadaran kolektif untuk melakukan deradikalisasi. Salah satu perspektif yang dapat digunakan untuk proses tersebut mengantarkan kita kembali pada kearifan lokal.

Falsafah ”Dimana bumi berpijak di situ langit dijunjung” berfungsi untuk menjelaskan rasionalisasi kearifan lokal dalam menjaga kebhinekaan negara dan agama. Sinergisme keduanya, mengentaskan pemikiran teroris yang konservatif menjadi transformatif. Guna mengajak kepada masyarakat pada tatanan bernegara dan bermasyarakat secara adil dan tercipta struktur, serta sistem sosial yang inkulisivitas pada budaya dan tidak dominatif.

Nilai-nilai yang dimiliki oleh budaya Jawa dapat digunakan untuk mengentaskan permasalahan deradikalisasi berbasis kearifan lokal. Suyanto (1990) memaparkan nilai-nilai Jawa yang berpangkal pada sifat religius, toleran, dan akomodatif.

Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai Sangkan Paraning Dumadi dengan segala sifat dan kebesaran-Nya merupakan pangkal untuk memahami religiusitas. Agama bukan hanya urusan ilahiah semata yang akan menghilangkan fungsi sosial. Ketika seorang teroris melakukan suatu tindakan moral atas nama agama, perilaku tersebut merupakan bentuk ketidakmampuan untuk menyinergikan teosentris dan antroposentris dalam realita sosial. Hingga mengaburkan sangkan paraning dumadi dan memunculkan kata bijak “sibuk ber-Tuhan lupa beragama”.

Doktrin toleransi agama menjauhkan nilai relegiusitas akomodatif yang diajarkan oleh Walisongo dalam dakwah keagamaan. Komarudin Hidayat (2003) memaparkan subtansi agama-agama yang yang bersifat perennial dan otentik, harus dijelaskan dengan rasional. Jika Tuhan hanya menyelamatkan orang-orang yang menganut agama Kristen saja, misalnya, maka menurut akal sehat mustahil beberapa abad lahir agama Islam yang dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Sebaliknya, jika kedatangan Islam  dengan kebenarannya yang dibawa meniscayakan seluruh manusia memeluk agama ini, maka sulit dijelaskan mengapa Tuhan menutup hati pemeluk agama di luar Islam yang jumlahnya lebih besar ketimbang pemeluk Islam, sehingga tidak tertembus oleh pesan yang dibawa oleh Muhammad SAW.

Kolaborasi antara nilai-nilai transenden dan imanen dalam agama berguna untuk mengembangkan paham toleransi. Toleransi dibangun pada masyarakat Indonesia melalui pendekatan budaya sehingga sejak awal mencerminkan sikap inklusivitas pada tatanan sosial. Pengaruh terhadap inklusivisme sebagai bangsa yang selalu dihadapkan pada multi-tafsir dari agama, aliran, mazhab maupuan pemikiran, telah membuat kepribadian mereka menjadi tidak kagetan dalam menatap sesuatu yang berbeda.

Kebhinekaan Kolektif

Ideologi yang diusung oleh teroris memperlebar jarak kosmpolitan dalam masyarakat pluralistis. Tujuannya tidak lain untuk melenyapkan keragaman menjadi keseragaman dalam aturan yang sesuai dengan konsepsi negara Ilahiah.

Menjauhkan masyarakat dari nilai lokal masyarakat dapat menimbulkan tindakan amoral yang mengatasnamakan agama. Tindakan ini bukanlah sifat asli masyarakat kita, melainkan culture import yang sengaja direduksi untuk membawa seabreg kepentingan di dalamnya. Hanya masyarakat yang “sakit” yang bisa berdiri di tengah kobaran api yang melanda tetangga, tetapi kita pura-pura tak mendengar. Hobi guyub menjadi sesuatu yang mahal ketika sudah ditunggangi kepentingan-kepentingan yang merusak agama & perdamaian.

Keberadaan doktrin ekstrem nan ekslusif dapat diatasi dengan kolektivitas sosial dengan mengusung kearifan lokal yang menyentuh ranah kolektif, seperti sifat guyub (yang diarahkan kepada sifat gotong royong), tepo sliro, saling menghormati, serta andap asor. Upaya non-doktriner menjadi salah satu komponen kerukunan pada komunitas sosial. Keberadaan norma yang diperuntukkan pada kesalehan sosial ditekankan pada keadaan masyarakat dengan menjunjung tinggi budaya persatuan tanpa melihat latar belakang individu, sebagaimana semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu jua).

Kebhinekaan Indonesia menurut Syafi’i Ma’arif merupakan bangsa yang multi-etnis, multi-iman, dan multi-ekspresi kulturual dan politik. Keberbagaian perlu dikelola secara transformatif guna kebaikan, kecerdasan, dan kejujuran masyarakat yang tidak diragukan lagi sebagai kekayaan kultural yang dahsyat. Masa depan Indonesia yang harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, sabar dan lapang dada. Kekayaan ini jangan lagi diperjuangkan untuk kepentingan serbaparokial dan tunamakna.

Mencari titik kosmopolitan dengan tetap pluralistis dilukiskan dalam slogan Bhineka Tinggal Ika sebagai upaya menjaga toleransi. Kebudayaan nasional Indonesia merefleksikan persatuan dan kesatuan dalam keragaman. Suatu usaha mempertahankan tradisi luhur seraya mengupayakan inovasi dengan mengadopsi unsur-unsur baru sedapat mungkin.

Kehidupan bangsa yang berdasarkan Bhineka Tunggal Ika dimaksudkan untuk saling toleransi dalam menghadapi keberagaman. Negara dihuni oleh masyarakat multireligius terdiri dari 6 agama versi pemerintah dan puluhan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Belum lagi suku-suku yang menambah varian keberagaman bumi pertiwi seperti suku Jawa, Batak, Sunda, Bali, Dayak, Asmat, Bugis, dan sebagainya, yang hidup berdampingan tanpa mengusik satu sama lainnya.

 

 

Fadli Rais. Penulis adalah Gusdurian Jogja; alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan ke-5 (KPG V)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top