Celoteh Santri Gus Dur

Berdamailah dengan Saudaramu

©istimewa

©istimewa

Oleh: Agus Mahardiyanto*

Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Hampir semua muslim sepertinya mengamini argumen tersebut. Islam hadir untuk membebaskan, menyatukan dan memuliakan manusia dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (Sallallahu Alaihi wasallam). Akan tetapi, kenyataan yang ada sekarang ini jauh berbeda dengan apa yang telah diupayakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW tersebut.

Suatu ketika penulis pernah dekat dengan teman-teman yang diasosiasikan memiliki pandangan Islam ‘kanan’, ‘kiri’, ‘tengah’ dan lainnya. Saat itu pula kadang antara penulis dan teman-teman tersebut sering muncul diskusi-diskusi kecil seputar argumen dan pandangan yang dianggap benar oleh masing-masing dari teman tersebut.

Di antara teman-teman tersebut ada yang mengatakan, “Islam liberal itu sudah melenceng dari Islam, dan harus kembali menuju Islam yang kaffah”. Suatu ketika ada pula yang mengatakan, “Cewek-cewek di sana jilbaber (berjilbab panjang) banget dan yang cowok celananya cingkrang dan jenggotnya panjang”. Oke, mungkin ini hanya sedikit kutipan-kutipan langsung ketika ngobrol dengan teman-teman tersebut.

Diskusi menjadi panjang dan rumit ketika masuk ke ranah sensitif yang menurut masing-masing dari mereka pendapatnya adalah yang paling benar sedangkan yang lainnya salah total (truth claim). Maka dari itu, muncullah fenomena ‘takfiri’, ‘Islam teroris’, ‘Islam anti Pancasila’ dan lainnya. Sungguh merupakan hal yang riskan dan disayangkan sekali karena sebenarnya mereka semua adalah bagian dari satu keluarga besar umat Muhammad SAW yaitu ISLAM.

Suatu ketika penulis pernah mengikuti mata kuliah di program Center Religion and Cross Study (CRCS) UGM, mata kuliah tersebut bernama Dialog Antar Agama, berisikan tentang berbagai macam agama yang ada di belahan dunia termasuk Agama Samawi (langit) di antaranya: Islam, Nasrani, Yahudi ; dan juga agama Ardhi (bumi) diantaranya: Hindu, Budha, Konfusian, Taoisme, Sikhisme, Baha’i, Zoroaster, dll. Sangat banyak sekali dan mungkin masih banyak yang belum tercakup di dalam mata kuliah tersebut.

Penulis mencoba merefleksikan isi dari mata kuliah untuk diri sendiri bahwa, antara agama Islam dan selain Islam saja telah ada kajian khusus yang diharapkan dapat mengurangi stereotype dan kecurigaan antara satu dengan lainnya. Kalau demikian, apa mungkin perlu ada juga satu kajian dalam Islam sendiri dengan istilah ‘Dialog Antar Islam’? Ketika melihat realitas pertarungan ideologi (ghazul fikr) yang berkembang di antara umat Islam dan bahkan mengarah kepada perpecahan umat Islam itu sendiri.

Memang benar sekali bahwa sejarah perbedaan pandangan dan perpecahan umat Islam bila dilacak lebih jauh telah ada sejak Era Khalifah dan bahkan dalam konteks kerajaan dahulu kala, antara Imperium Umayah juga berseberangan dengan Imperium Abbasiah. Antara kerajaan Safawiah di Persia berseberangan juga dengan Turki Usmani yang sulit untuk hidup rukun meskipun sama-sama mengatakan sebagai negara Islam dengan pemimpin dari Islam (Lihat Karim, 2014). Barangkali berseberangan saja dalam pandangan dan pendapat tidak menjadi persoalan. Akan tetapi, ketika perbedaan pandangan dan pendapat menjadikan senjata terangkat di antara masing-masing, inilah yang menjadi persoalan. Di titik ini mungkin benar sekali bahwa, yang terpenting dari politik adalah kemanusiaan serta perbedaan dalam pandangan dan fikih itu boleh, yang tidak boleh adalah perpecahan.

Persoalan tentang perdebatan ideologi dan siapa yang paling benar di antara semua itu, mungkin bisa dilihat dengan meminjam pandangan dari Prof. Abdul Karim (Ahli Sejarah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan menyadur dalam Al Qur’an surat 13 (al-Ra’ad: 17): “Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”. Artinya apapun dari pandangan dan gagasan yang ditawarkan dari masing-masing kelompok tertentu, selama pandangan dan gagasan tersebut memberikan kemanfaatan bagi manusia, maka ia akan abadi. Dan sebaliknya yang merugikan, ia akan lenyap. Memang tidak bisa digeneralisir apa yang dikatakan oleh Prof. Karim, tapi setidaknya cara pandangnya bisa digunakan untuk melihat ideologi yang ditawarkan oleh kelompok-kelompok tertentu.

Kesadaran akan persatuan umat Islam telah dimulai dan juga telah diupayakan oleh Jamaah Ma’iyah (Pengajian rutin setiap bulan tanggal 17) yang diasuh oleh Emha Ainun Nadjib di Yogyakarta dengan mendirikan Nahdlatul Muhammadiyin (NM) yaitu suatu komunitas yang berupaya untuk menyatukan saudara lama Islam di Indonesia yang sejak dulu di daerah-daerah pedesaan termasuk di daerah asal penulis (Banyuwangi) sulit sekali untuk bersatu.

Tulisan ini mungkin akan kontroversial dan bahkan ditentang apabila dibaca oleh teman-teman dari masing-masing kelompok tersebut. Namun, marilah kita refleksikan lagi ke dalam diri masing-masing, bahwa, siapa kita? Apa yang kita lakukan? Dan apa manfaat yang dapat kita berikan kepada umat? Mungkin jalan kita berbeda tapi tujuan kita sama, mencari ridho Ilahi dengan cara masing-masing. Maka dari itu, berdamailah dengan saudaramu!

 

*Agus Mahardiyanto. Penulis adalah alumnus Kelas Pemikiran Gus Dur III

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top