Gus Dur dalam Pena

Mengenang Gus Dur dan Kiai Asrori

©istimewa

©istimewa

Oleh: M. Najib Yuliantoro*

Jika Desember adalah bulannya Gus Dur, maka Januari adalah bulannya NU. Berbicara tentang NU, tentunya tak mudah dilepaskan dari tokoh utama pendiri Jam’iyyah ini, yakni Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, selain pula tentu saja tokoh-tokoh lain seperti KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syamsuri.

Sebagai seorang santri spiritual dari KH. Asrori al-Ishaqi sekaligus santri intelektual Gus Dur, penulis beryukur tatkala Jamaah Al Khidmah, sebuah organisasi majlis dzikir yang didirikan oleh Kiai Asrori, menggelar Majlis Haul untuk mengenang Mbah Hasyim Asya’ari di berbagai daerah. Digelarnya berbagai Majlis Haul itu semakin memperkokoh adanya koneksitas ruh perjuangan antara santri-santri Jamaah al-Khidmah dan Nahdlatul Ulama’.

Pada beberapa kesempatan, Kiai Asrori secara terbuka pernah menunjukkan rasa penghormatannya yang mendalam kepada Mbah Hasyim, terutama mengenai keistiqomahan dan ghirah perjuangan Mbah Hasyim dalam menjaga ajaran Ahlus Sunnah wal-Jamaah an-Nahdliyyah di bumi Nusantara.

Ketersambungan kedua tokoh tersebut tidak datang secara mendadak. Apabila dirunut mundur ke belakang, secara genealogis akan tampak beberapa titik perjumpaan. Kakek Guru dari Kiai Asrori, yakni KH. Romli Tamim, adalah sahabat karib Mbah Hasyim di Jombang. Mbah Romli terkenal dalam bidang kedalaman ilmu tasawufnya, sementara Mbah Hasyim terkenal dalam hal kedalaman ilmu hadist dan ushul fiqihnya.

Suatu riwayat juga mengisahkan kebertautan yang cukup erat antara Mbah Hasyim dan Ayah Guru Kiai Asrori, yakni KH. Ustman al-Ishaqi, yang tak lain merupakan penerus kemursyidan dari Mbah Romli. Dikisahkan, ketika Mbah Ustman bermukim di lereng Gunung sekitar Ngawi, beliau bermimpi berjumpa dengan Mbah Hasyim. Dalam mimpi tersebut, Mbah Hasyim berpamitan, “Saya duluan, Ustman!”. Syahdan, keesokan harinya, Mbah Hasyim wafat mendahului Mbah Ustman.

Dengan demikian, jika ditengok sejarahnya, baik Ayah Guru maupun Kakek Guru dari Kiai Asrori adalah tokoh-tokoh yang cukup dekat dan satu zaman dengan Mbah Hasyim. Maka, jelas bukan mengada-ada apabila al-Khidmah menyelenggarakan Haul untuk Mbah Hasyim. Pendiri NU itu bukan hanya dekat secara lahiriyah dengan kedua Guru Kiai Asrori, tetapi, penulis yakin, juga cukup dekat secara ruhiyyah.

Gus Dur dan Kiai Asrori

Guru penulis, KH. Najib Zamzami (Kediri), yang tak lain merupakan murid dari Kiai Asrori, suatu ketika memberitahu penulis. Bahwa, menurut Kiai Asrori, ada perbedaan ranah perjuangan antara dirinya dengan Gus Dur. Namun demikian, perlu segera ditambahkan, pebedaan ranah perjuangan tersebut tidak berarti kemudian saling meniadakan. Justru, pada praktiknya, terbukti saling melengkapi dan menyempurnakan.

Sebagai contoh, apabila amaliyah-amaliyah NU seperti yasinan, tahlilan, manaqiban, maulidan, dikatakan sebagai menu utama dari ruh perjuangan NU, maka apa yang dikerjakan oleh Kiai Asrori adalah melakukan modernisasi dan profesionalisasi atas amaliyah-amaliyah tersebut. Sebagai seorang Mursyid Thariqah, beliau cukup paham bagaimana mendesain suatu majlis dzikir yang tidak hanya efektif dan efisien dari sisi waktu, tetapi juga mempesona dari sisi bentuk, dan mudah dirasakan tuahnya oleh pengamalnya.

Baik Kiai Asrori maupun Gus Dur berkhidmah untuk sama-sama memperkuat basis kultural para pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah. Kiai Asrori memperkuat bidang amaliyah-spiritual, Gus Dur memperkuat dalam bidang keislaman dan keindonesiaan. Ringkasnya, Kiai Asrori bergerak di ranah ruhiyyah sebagai pengokoh tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, sementara Gus Dur bergerak di ranah fikriyyah sebagai pengokoh pemikiran NU dalam konteks keislaman dan keindonesiaan.

Kehadiran dan pandangan-pandangan Gus Dur dan Kiai Asrori juga dibuktikan melalui berbagai karya tulis yang mereka terbitkan. Gus Dur, sebagaimana kita tahu, adalah penulis lintas-topik, mulai dari agama, politik, seni, budaya, film, dan sepakbola. Karya tulisnya tak terhitung karena saking banyaknya. Ia dikenal sebagai sosiolog yang cerdas, karena berhasil memperkenalkan kekayaan tradisi dan budaya Islam Indonesia dalam berbagai tulisannya sehingga kemudian menjadi lokus perdebatan kaum intelektual dan cendekia.

Begitu pula dengan Kiai Asrori. Kedalaman ilmiahnya dalam bidang tasawuf tertuang di berbagai kitab berbahasa Arab, seperti Al-Muntakhobat fi Rabithah al-Qalbiyah wa Shilat al-Ruhiyah (5 Jilid), Al-Nuqthah wa al-Baqiyah al-Shalihah wa al-‘Aqibah al-Khairah wa-al- Khatimah al-Hasanah, Basya’ir al-Ikhwan fi Tabrid al-Muridin ‘an Hararat al-Fitan wa Inqadzihim ‘an-Syabakat al-Hirman, dan kitab-kitab tasawuf lainnya. Adapun dalam hal ushul fiqh tertuang dalam karyanya berjudul Ar-Risalah Asy-Syafiyah fi Tarjamati Tsamrot Ar-Roudhot Asy-Syahiyah bi Lughot al-Maduriyah.

Sudah banyak bukti bahwa tidak semua pemikiran dan pergerakan yang diinisiasi oleh “kaum elite”, betapapun benar, akan selalu cocok dengan kondisi sesungguhnya di masyarakat akar. Dua tokoh ini, yakni Gus Dur dan Kiai Asrori, adalah tokoh pemimpin yang tidak hanya konsisten dalam memperjuangkan apapun yang diyakininya, tetapi juga sejuk dalam menyampaikan pemikiran-pemikirannya sehingga mudah diterima oleh orang awam.

Berbagai terobosan yang mereka munculkan melalui organisasinya, baik di NU maupun al-Khidmah misalnya, selalu memikat dan mempesona umatnya, karena pendekatan yang mereka gunakan tumbuh dari rasa cinta dan kasih sayang kepada umat—dan berdasarkan hal itulah kemudian melahirkan kebijaksanaan yang mencerahkan. Pendekatan kultural, menggunakan bahasa umat, membiarkan segalanya berjalan secara alamiah, dan sesekali diselingi humor-humor segar, adalah karakter khas dari pendekatan mereka dalam memahami, mendidik, dan mewarnai umat.

Dengan mengambil pejalaran dari kedua tokoh tersebut, tampak jelas bahwa sesungguhnya tidak ada dinding pemisah antara tradisi berilmiah dan tradisi beramaliyah, antara teori dan praktik, karena keduanya ternyata dapat dijalankan secara berkesinambungan. Justru produktivitas karya ilmiah pada mereka tumbuh subur seiring perjuangan mereka dalam berkhidmah secara konkret di tengah-tengah umat.

Tradisi amaliyah yang menjadi ruhul jihad warga NU berguna sebagai tazkiyah al-nafs, pembersih diri dari anasir-anasir kekejian nafsu, yang dari situ diharapkan mampu menjadi sumber energi untuk dapat berpikir jernih; menggerakkan hati, pikiran dan tangan untuk menulis karya-karya yang bermutu tinggi dan mampu menghantarkan mereka menuju keridhoan-Nya.

Pada akhirnya kita tahu bahwa Gus Dur dan Kiai Asrori adalah dua tokoh yang sudah selesai terhadap dirinya. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk berkhidmah kepada umat, mendidik umat, dan menggerakkan umat, sehingga umat semakin peka terhadap berbagai realitas persoalan yang tumbuh di tengah-tengah diri mereka sendiri, baik dari sisi lahir maupun batin.

Biarpun saat ini tak banyak tokoh agama seperti mereka, tetapi kita tidak boleh larut dalam suasana pesimisme. Kita harus terus optimis sebab, pelan-pelan, kita sadar, santri-santri mereka terus lahir, meneruskan apa yang sudah mereka perjuangkan. Untuk bangsa Indonesia.

*Penulis adalah Gusdurian, tinggal di Kota Brussel, Belgia.

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: Mengenang Gus Dur dan Kiai Asrori | M. Najib Yuliantoro

  2. Pingback: Mengenang Gus Dur dan Kiai Asrori – najib.blog

  3. Pingback: Gus Dur dan Kiai Asrori – najib.blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top