Pena Gus Dur

BERI JALAN ORANG CINA

0241586Lukisan-Gus-Dur300x400

Oleh : Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Jadi orang Cina di negeri ini, di masa ini pula, memang serba salah.
Walaupun sudah ganti nama, masih juga ditanyakan ‘nama asli’nya kalau
mendaftarkan anak ke sekolah atau jika membuat paspor. Mungkin, karena
memang nama yang digunakan terasa tidak pas bagi orang lain, seperti
nama Nagaria. Biasanya naga menggambarkan kemarahan dan keganasan.
Apakah si naga yang riang gembira ini tertawa-tawa? Hartadinata, terasa
lucu, karena tidak klop antara kekayaan dan keanggunan jabatan, antara
harta dan nata.

Ternyata bukan hanya karena nama baru orang-orang Cina terasa tidak
sreg di telinga orang lain. Tetapi karena keputusan politik, untuk
membedakan orang Cina dari pribumi. Memang tidak ada peraturan
tertulis, melainkan dalam bentuk kesepakatan memperlakukan orang
Cina tersendiri. Mengapa? Karena mereka kuat, punya kemampuan berlebih,
sehingga dikhawatirkan akan meninggalkan suku-suku bangsa lainnya.
Apalagi mereka terkenal dalam hal kewiraswastaan. Kombinasi kemampuan
finansial yang kuat, dan kemampuan lain yang juga tinggi, dikhawatirkan
akan membuat mereka jauh melebihi orang lain dalam waktu singkat.

Secara terasa, ‘kesepakatan’ meluas itu akhirnya mengambil bentuk
pembatasan bagi ruang gerak orang Cina. Mau jadi tentara? Boleh masuk
AKABRI, lulus jadi perwira. Tetapi harus siap menerima kenyataan, tidak
akan dapat naik pangkat lebih dari kolonel. Mau jadi dokter? Silakan,
namun jangan mimpi dapat meniti karier hingga menjadi kepala rumah sakit
umum. Mau masuk dunia politik? Bagus, tetapi jangan menduduki jabatan
kunci. Di birokrasi? Jadi pejabat urusan teknis sajalah, jangan jadi
eselon satu. Apalagi jadi menteri.

Sialnya lagi, ‘jalan buntu’ itu ternyata tidak membawakan alternatif
yang memuaskan. Jalan terbuka satu-satunya adalah mencari uang. Dan
itu sesuai pula dengan kecenderungan sosiologis mereka sejak masa
lampau, karena di masa kolonial pun mereka hanya boleh cari uang.
Usaha berhasil, uang masuk berlimpah-limpah, kekayaan makin bertambah.
Celakanya, justru karena itu mereka disalahkan pula: penyebab
kesenjangan sosial. Akumulasi modal dan bertambahnya kekayaan ternyata
tidak membawa keberuntungan.

Cara mereka menggunakan uang dinilai sebagai penyebab kecenderungan
hedonistik di kalangan generasi muda kita, padahal permasalahannya
sangat kompleks. Kekayaan mereka dianggap diperoleh melalui pengisapan
si kecil, padahal orang Cina hanyalah satu saja dari sekian banyak
faktor kemiskinan. Dengan kata lain, orang Cina dipersalahkan bagi
kebanyakan hal yang dirasakan tidak benar dalam kehidupan kita.

Salah satu hukum kehidupan masyarakat adalah pentingnya kemampuan
bertahan. Potensi untuk survive ini dimiliki orang Cina, di mana pun
mereka berada. Dan potensi itu diwujudkan di negeri kita oleh mereka,
dengan memanfaatkan satu-satunya ‘jalur kolektif’ yang masih terbuka:
bidang ekonomi. Segala tenaga dan daya dicurahkan untuk mencari
kekayaan. Perkecualiannya hanyalah sedikit orang Cina yang menjadi
intelektual, akademisi, tenaga profesi, politisi dan sebagainya.

Kemampuan bertahan demikian tinggi bila dimampatkan ke dalam sebuah
‘sasaran kolektif’ mencari kekayaan, sudah tentu sangat besar
hasilnya. Apa pula dibantu oleh kemudahan di segenap faktor produksi
dan sektor usaha. Karenanya wajar-wajar saja bila mereka berhasil,
tidak perlu dikembalikan kepada sifat serakah, atau direferensikan
kepada rujukan akan licin dan sejenisnya. Bahwa banyak sekali orang
Cina melakukan hal-hal seperti itu, tetapi tentunya tidak dapat
dianggap sebagai watak rasial atau sifat etnis dari orang Cina. Orang
lain juga berbuat sama.

Dengan demikian, persoalannya bukanlah bagaimana orang Cina itu bisa
dibuktikan bersalah, melainkan bagaimana mereka dapat ditarik ke dalam
alur umum (mainstream) kehidupan bangsa. Bagaimana kepada mereka
dapat diberikan perlakuan yuang benar-benar sama di segala bidang
kehidupan. Tanpa perlu ditakutkan bahwa sikap seperti itu akan
memperkokoh ‘posisi kolektif’ mereka dalam kehidupan bangsa, karena
hal-hal seperti itu dalam jangka panjang ternyata hanyalah sesuatu
yang berupa mitos belaka.

Keperkasaan orang putih ternyata dapat
disaingi oleh keperkasaan orang hitam di Amerika Serikat. Orang Melayu
di Singapura juga menyimpan kemampuan sama maju dengan orang Cina,
seperti semakin banyak terbukti saat ini. Begitu pula bangsa-bangsa
lain, baik yang menjadi minoritas maupun mayoritas. Tesis pokoknya di
sini adalah: dapatkah kelebihan kekayaan orang Cina dimanfaatkan bagi
usaha lebih memeratakan lagi tingkat pendapatan segala lapisan
masyarakat bangsa kita di masa depan? Jawabnya, menurut penulis,
adalah positif. Orang Cina, sebagaimana orang-orang lain juga, dapat
di-appeal untuk berkorban bagi kepentingan masa depan bangsa dan
negara. Tentu dengan tetap menghormati hal-hal mendasar yang mereka
yakini, seperti kesucian hak-milik dari campur-tangan orang lain.

Pemindahan kekayaan secara masif bukanlah barang baru bagi orang Cina,
karena mereka pun baru saja melakukan hal itu, dalam bentuk
merampungkan upaya akumulasi modal yang bukan main besarnya. Salah satu
instink untuk tetap bertahan hidup bagi orang Cina adalah realisme
sangat besar yang mereka miliki. Akal mereka akan mendiktekan
keputusan pemindahan kekayaan secara masif kepada mereka yang lebih
lemah, dalam upaya mendukung pihak lemah itu agar juga menjadi kuat.
Tetapi itu semua harus dilakukan dengan menghormati kesucian hak-milik
mereka, bukan dengan cara paksaan atau keroyokan.

Kalau begitu duduk perkaranya, jelas akses orang Cina kepada semua
bidang kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau
sekarang ada tiga orang Arab menjadi menteri, tanpa ada pertanyaan
atau kaitan apa pun dengan asal-usul etnis atau rasial mereka, hal
yang sama juga harus diberlakukan bagi orang Cina kepada semua bidang
kehidupan harus dibuka, tanpa pembatasan apa pun. Kalau prestasi para
dokter orang Cina sama baiknya dengan yang lain-lain, mereka pun
berhak menjadi kepala rumah sakit umum. Begitu juga menjadi jenderal,
dan demikian seterusnya.

Cerita gurau yang luas beredar menyebutkan perbedaan orang Jawa dari
orang Cina. Orang Jawa, kata cerita itu, akan senantiasa menanyakan
kesehatan kita kalau bertemu: “Sampean waras?” Bagi orang Jawa yang
mudah masuk angin dan sebagainya, kesehatan adalah perhatian utama.
Ini berbeda dengan orang Cina. Kalau berjumpa dengan orang lain,
pertanyaan yang diajukan: “Sampean apa sudah cia?” alias apakah sudah
makan atau belum. Mengapa? Karena mereka dahulu datang kemari akibat
bahaya kelaparan di daratan Cina, negeri asal mereka.

“Keanehan” seperti itu adalah karakteristik etnis, yang tidak boleh
mengganggu keserasiah hidup sebuah bangsa. Apalagi bagi bangsa yang
pada dasarnya sudah sangat heterogen, seperti bangsa kita. Kita sudah
harus dapat melihat karakteristik khusus orang Cina seperti juga
‘keanehan’ suku-suku bangsa kita yang lain. Ini berarti kita harus
mengubah cara pandang kita kepada orang Cina. Mereka harus dipandang
sebagai unit etnis. Bukan unit rasial.

Kalau kita bisa menerima kehadiran orang Flores, Maluku dan Irian
sebagai satuan etnis – padahal mereka bukan dari stok Melayu (karena
stok mereka adalah Astromelanesia), maka secara jujur kita harus
melakukan hal yang sama kepada stok Cina. Juga stok Arab. Mereka bukan
orang luar, melainkan kita-kita juga.

Mudah dikatakan tapi sulit dilakukan. Itulah reaksi pertama pada
ajakan “menyatukan dengan orang Cina”. Akan banyak alasan dikemukakan
dan argumentasi diajukan. Karena, memang, dalam diri kita telah ada
keengganan mendasar untuk menerima kehadiran orang Cina sebagai “orang
sendiri”. Kita sudah terbiasa mau menerima uang mereka tanpa merasakan
kehadiran mereka. Boleh saja keengganan bahkan ketakutan seperti itu
kita beri sofistikasi sangat canggih.Tetapi,ia tetap saja merupakan
keengganan dan ketakutan. Sesuatu yang irasional. Justru itulah yang
harus kita perangi, kita jauhi sejauh mungkin. Mengapakah hal itu
menjadi keharusan? Karena hanya dengan perlakuan wajar, jujur dan fair
dari kita sebagai bangsa kepada orang Cina sajalah yang dapat
mendorong timbulnya rasa berkewajiban berbagi kekayaan dan nasib
antara mereka dan pengusaha kecil kita. Ini kalau kita benar-benar
jujur, lain halnya kalau tidak….

 

 

Sumber: Majalah Editor, 21 April 1990

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top