Celoteh Santri Gus Dur

Konflik Timur Tengah: Memoar Darah dan Kebencian

Oleh: Agus Mahrdiyanto*

Ketika penulis belajar sejarah Islam dalam mata kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, penulis semakin tercerahkan tentang bagaimanakah makna Islam yang sesungguhnya. Dalam konteks sejarah yang sedang dibahas tersebut, telah terekam dengan jelas bahwa, bagaimanakah proses munculnya sebuah Dinasti atau Kekuasaan Islam, munculnya aliran-aliran dalam Islam yang dibarengi dengan ketidakpuasan pengikut kepada pemimpinnya, terlepas dari konteks objektifitas dalam Ilmu sejarah bahwa, kebanyakan sejarah itu ditulis oleh pemenang atau penguasa yang telah mengalahkan lawan-lawannya (Emha Ainun Nadjib, 2014)[1]. Dan Sejarah Islam yang tidak terlepas dari pertarungan politik dan kekuasaan (Karim, 2014)[2], para kelompok yang kontra dengan pemimpin kelompok, kabilah atau suku serta aliran yang berbeda dengan dirinya, yang akhirnya mendeklarasikan diri sebagai golongan baru dengan tata aturan baru yang mereka susun sendiri.

Melihat dari konteks sejarah panjang peradaban Islam, kiranya tidak heran bila “memori sejarah” masa lalu tetap abadi dan diwariskan kepada anak keturunan dari masing-masing kelompok tersebut. Dalam titik ini mungkin dapat diakui bila konflik dalam peradaban Islam di masa lalu, hari ini muncul kembali dengan wajah baru.

Melihat situasi Timur Tengah hari ini yang semakin memanas, diwarnai dengan pergolakan politik antar negara di kawasan tersebut yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir,dan dilakukannya eksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi yang mengaku mayoritas Sunni atas terdakwa teroris Syekh Nimr al-Nimr yang notabennya adalah ulama Syi’ah, tentu akan membuat situasi Timur Tengah semakin tak terkendali. Negara Iran yang mayoritas masyarakatnya Syi’ah marah besar dengan eksekusi tersebut. Kecaman dari negara Iran tidak terelakkan hingga berujung pada demonstrasi dan pembakaran Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran (Kompas. 6 Januari 2016), aksi itu dijawab oleh Arab Saudi secara mendadak dengan pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran, dan diikuti oleh negara-negara yang pro Saudi seperti Bahrain dan Sudan.

Hal ini sungguh mencengangkan karena tidak hanya Sudan dan Bahrain yang ternyata mendukung aksiArab Saudi. Negara-negara teluk yang mengaku bermadzhab sama dengan Saudi lainnya seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman dan negara lainnya secara terbuka mendukung langkah Saudi dengan menarik diplomatnya, melarang warganya berkunjung ke Iran dan sebagainya, tentunya hal ini akan semakin meruncingkan hubungan Saudi dan Iran yang masing-masing mengaku berasal dari dua aliran umat Islam; Sunni dan Syiah.

Apabila konflik politik ini terus meruncing dan secara terbuka menarik umat Sunni dan Syiah di luar Timur Tengah seperti di Asia Tenggara dan belahan dunia lainnya, tentunya bisa dibayangkan akan terjadi bara konflik dunia yang luar biasa dan sulit untuk dipadamkan.

Islam rahmatan lil ‘alamin

Dari persoalan tersebut penulis mencoba merefleksikan mengenai definisi dari Islam, para Ulama bersepakat bahwa Islam adalah ajaran yang “Rahmatan Lil Alamin”, Rahmat dan kedamaian bagi seluruh alam tanpa terkecuali, setiap yang hidup di bumi akan dirahmati oleh ajaran Islam dan oleh Allah SWT (Subhanahu wa Ta’ala), Islam bukan hanya Rahmatan Lil Muslimin atau orang muslim saja, karena konflik di Timur Tengah tentunya juga berimbas pada umat-umat lain yang hidup disana. Dalam hal ini, ketika melihat realitas sosial di negara-negara Timur Tengah tersebut sebagai tempat lahirnya Islam dan awal perkembangan Islam, apakah perilaku saudara-saudara kita di Timur Tengah tersebut mencerminkan Islam sebagai Rahmat bagi seluruh alam.?

Dari ungkapan “memori sejarah” tadi kiranya kita perlu berdamai dengan sejarah, ada ungkapan menarik dalam ilmu sejarah yaitu “Jangan pernah dendam kepada sejarah, tetapi jangan melupakan sejarah” bahwa masa lalu peradaban yang diwarnai oleh pergolakan-pergolakan politik tidak perlu dibawa hingga hari ini sehingga akan merugikan umat Islam itu sendiri. Apabila Islam dilabelisasi sebagai kendaraan politik yang ternyata malah banyak menimbulkan perpecahan dan permusuhan, maka tidaklah perlu membawa Islam dalam konstelasi politik yang rawan kepentingan tersebut, karena hal ini akan mereduksi makna Islam sebagai ajaran yang Rahmatan Lil Alamin. Diketahui bersama bahwa dalam politik tidak kawan atau lawan yang abadi, dan hanya kepentingan sesaat saja yang abadi. Kepentingan negara-negara Timur Tengah yang “mengaku” Islam  tentunya sangat berbeda-beda antara satu dengan lainnya. IslamRahmatan Lil Alamin tidak mengajarkan permusuhan, perpecahan dan kedengkian. Islam mengajarkan Persaudaraan (ukhwah), mengasihi(rahman), dan menyayangi(rahim). Bila ada seseorang atau kelompok yang mengaku sebagai Islam tetapi masih saja memiliki sifat dengki, mengobarkan permusuhan dan kebencian, maka patut dipertanyakan keislamnnya tersebut. Wallahu A’lam Bisshowwab.

*Penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur angkatan III, dan juga aktif sebagai mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Islam UGM Yogyakarta

 

[1]Acara Refleksi Akhir Tahun di Banyuwangi tanggal 31 Desember 2014 diisi oleh Emha Ainun Nadjib

[2]Karim, M. Abdul. 2014. Sejarah Pemikiran dan Peradadaban Islam. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top