Celoteh Santri Gus Dur

Antara Pengetahuan dan Karakter dalam Pembentukan Diri

© istimewa

© istimewa

Oleh: Sarah Monica Arahim*

Sungguh menarik, menyaksikan bagaimana Yogyakarta begitu riuh ramai oleh berbagai acara seni dan aktivitas kebudayaan yang silih-berganti, bahkan seringkali berlangsung di waktu bersamaan. Diskusi, pameran atau festival seni muncul dan tumbuh pesat sebagai wujud antusiasme berkarya oleh generasi muda yang sedang mencari jati diri dan makna hidupnya. Berawal dari kecintaan pada dunia berkesenian, berdiskusi, dan berkomunitas di Kota Istimewa ini, saya melanjutkan pengembaraan untuk menggali dan menghayati pengetahuan dengan lebur berpartisipasi di beberapa komunitas serta kegiatan seni budaya yang ada di Jogja.

Keterlibatan itu merupakan bentuk eksplorasi demi memahami visi dan karakter tiap-tiap mereka. Hanya saja, lambat laun, setelah sedikit banyak tenggelam di arus aktivitas seni dan intelektual tersebut, ada sebuah titik kehampaan yang tumbuh perlahan lalu mengoyak dimensi batiniah saya. Ini adalah kota dimana begitu banyak pemain seni di atas panggung pagelaran yang terbatas, sehingga esensi pengetahuan yang harusnya dikandung dan ditawarkan kepada publik justru menjadi samar, bahkan lenyap, karena terlalu banyaknya persaingan. Publik sebagai partisipan aktif pada akhirnya hanya akan menjadi kerumunan atau penari latar dari perayaan-perayaan tersebut, terlebih jika konsep, bentuk, dan makna kegiatan yang diciptakan terlampau jauh dari konteks kultur sosial masyarakat setempat.

Yogyakarta sangat layak dikagumi karena sebagai satu-satunya kota di Indonesia yang masih berdiri Kesultanannya, sebab inilah faktor utama yang membuat Jogja memiliki kekuatan benteng budaya demi memfilter masuknya unsur negatif dari kebudayaan asing. Atas dasar itu dan berangkat dari pengalaman reflektif di atas, memang penting untuk membangun kerangka dan jejaring budaya di sini, dengan mempertimbangkan Jogja sebagai core kebudayaan nasional. Namun, bagaimana cara dan dalam wujud yang seperti apa, saya kira perlu berangkat dari tiap individu sebagai agen pencipta dan penggerak. Ini penting untuk dilakukan agar tiap aktivitas seni budaya yang dibuat, tidak jatuh pada perayaan-hiburan tanpa makna yang hanya berorientasi untuk sebuah istilah “eksistensi” belaka.

Mengenai pembentukan karakter individu, kita perlu belajar dari almarhum guru besar Gus Dur agar bisa menjadi person yang tidak hanya pintar secara teori dan analisa, melainkan juga mampu memetakan persoalan dan memiliki metode untuk mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kenyataan hidup sehari-hari. Jadi pengetahuan tidak hanya menjadi model of yang menjelaskan tentang suatu realitas, tetapi juga model for yang bisa membentuk realitas yang dibutuhkan. Pengetahuan yang aplikatif.

Inilah hakikat dasar dari pengetahuan, bahwa pengetahuan selayaknya dapat digunakan untuk menciptakan kesejahteraan peradaban manusia, bukan justru untuk menghancurkannya. Secara ideal, manusia mencari, menyerap, dan menggunakan pengetahuan demi menghasilkan suatu perubahan positif di dalam masyarakat. Kalaupun tidak, minimal pengetahuan tersebut dapat membentuk karakteristik yang murni, kuat, dan bijak dalam diri seseorang. Sehingga pengetahuan tidak sekadar menjadi busana atau lencana kebesaran semata, namun bisa lebur membentuk karakter dan memiliki dimensi praktis untuk diaktualisasikan. Tentunya aktualisasi yang sejalan dengan nilai moral dan kultur masyarakat setempat.

Pembentukan karakter individu telah menjadi concern Gus Dur ketika masih hidup. Bagaimana beliau dahulu juga sangat senang bersilaturahmi ke banyak generasi muda, itu karena dia perlu mengenal dan mendalami karakter mereka secara personal, yang dengan itu dia mampu mengarahkan dan membentuk mereka menjelma pribadi-pribadi yang matang serta kreatif. Sebab demi mewujudkan bangsa yang cerdas, adil, dan sejahtera, kita harus bertolak dari pribadi yang berkarakter, yang akan sanggup mencipta apapun. Sosok semacam itu mau mengenal akar budayanya, dan lewat akar tersebut prinsip hidupnya terbentuk secara kuat, tidak mudah silau dan terbeli oleh materi maupun ketenaran.

Inspirasi semacam ini yang patut dipelajari dari seorang Gus Dur, agar jangan hanya jatuh pada fanatisme figur yang tidak membawa perubahan apapun dalam diri. Sebaliknya, kita perlu menyerap luapan inspirasi dari sikap hidup dan pemikirannya yang mampu melompati zaman sebagai salah satu contoh dari, yang dalam bahasanya Nietzsche, Manusia Unggul.

Pada dasarnya, tiap manusia telah dibekali elemen pembentuk karakter di dalam dirinya masing-masing, yakni pengalaman hidup. Kita keliru jika menganggap bahwa sumber pengetahuan hanya berasal dari buku-buku semata, karena mata air pengetahuan yang asali justru dari pengalaman hidup manusia itu sendiri. Ini sejalan dengan filsafat Immanuel Kant yang menyebut bahwa pengetahuan itu lahir dari dunia pengalaman. Meskipun demikian, kualitas pengetahuan tersebut bergantung pada sejauhmana seseorang kuat bertarung di dalam problematika pengalaman-pengalamannya, dan kemudian bisa merefleksikan itu semua sebagai batu pijakan ke tingkatan hidup selanjutnya.

Dengan demikian, kita harus mencintai apa-apa yang adalah diri kita, bisa memaknai segala pengalaman, dan memeras kemurnian pengetahuan dari sana. Pribadi-pribadi yang berkarakter akan lahir dan menjelma melalui proses ini. Karakter tersebut akan menyulap penciptaan karya dan kegiatan apapun sehingga memiliki “ruh” pengetahuan yang bisa terus menginspirasi khalayak dari waktu ke waktu. Hanya manusia jenis ini yang akan mampu menjadi garda terdepan generasi muda yang cerdas, aktif, dan kreatif dalam memimpin bangsa Indonesia.

 

*Penulis adalah Pecinta Seni-Budaya; Alumni Antropologi Universitas Indonesia

1 Comment

1 Comment

  1. Akut

    February 10, 2016 at 7:48 am

    sungguh beragam budaya di indonesia ini.. kalau di sebut satu satu memang banyak tak terhingga..

    Obat Maag Akut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top