Celoteh Santri Gus Dur

Hari Santri itu Tidak Penting?

Oleh: Rifqi Fairuz

Dua minggu lalu, saya membaca surat kabar yang memberitakan akan dihelat acara akbar pada Hari Santri Nasional, 22 Oktober. Tanggal tersebut dipilih atas dasar peristiwa Resolusi Jihad pada tahun 1945, ketika KH. Hasyim Asy’ari menyerukan para Kiai dan Santri yang ada pada jarak 40 (beberapa menyebutkan 90) KM dari Surabaya untuk berjihad melawan tentara Inggris.

Di media sosial, saya juga mengamati bahwa hadirnya Hari Santri ternyata menuai pro kontra di tengah-tengah publik, di samping kental dengan nuansa politis, juga dianggap dapat memecah belah dikotomi antara kaum santri, abangan, dan priyayi. Pertanyaannya kemudian, seberapa pentingkah penetapan Hari Santri ini untuk kita? Terlebih buat kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut hemat saya, apabila Hari Santri dianggap sarat dengan nuansa politis, selagi hal itu mempunyai maslahat besar untuk kita semua, mengapa tidak? karena peringatan ini juga menyadarkan kita sekaligus memberikan pelajaran kepada kita semua bagaimana menghargai jasa dan perjuangan para pahlawan yang telah berjihad mengusir penjajah pada 70 tahun silam.

Pada catatan ini, sebenarnya saya ingin lepas dari polemik yang menyertai. Dan saya ingin lebih merefleksikan Hari Santri Nasional ini penting untuk diperingati atas beberapa alasan.

Jamak kita tahu, bahwa arti Santri atau Santeri ialah seseorang yang mempelajari atau sedang menuntut ilmu agama (Islam), dengan pergi ke suatu tempat seperti pesantren. Setelah mendapatkan ilmu, ia menyebarluaskan ilmu yang didapakannya tersebut atas dasar niat suci bahwa ilmu-ilmu yang didapatkan selama nyantri diyakini sebagai kebenaran dan dipraktikkan dalam laku sehari-hari. Baik itu mengenai urusan syari’at (hal-hal yang berkaitan dengan ibadah), maupun hubungan sosial di masyarakat.

Maka wajar, jika seorang santri ketika pulang ke rumah, ia selalu menjadi rujukan masyarakat. Karena dianggap paham agama. Ia belajar ilmu agama bertahun-tahun, mulai dari cara memberikan harakat pada kitab gundul sampai belajar bagaimana berijtihad (menentukan hukum). Jadi tidak cukup belajar pada mbah google, kemudian langsung memberikan hukum seenaknya.

Perebutan Identitas

Diakui bahwa situasi masyarakat muslim di Indonesia sekarang makin kompleks. Terutama semenjak runtuhnya Orde Baru, identitas-identitas Islam “baru” bermunculan. Identitas Islam Baru di sini dimaksudkan sebagai kelompok Islam yang di masa Orde Baru belum banyak muncul di publik akibat pemerintah yang represif atas alasan stabilitas negara.

Sebenarnya sah-sah saja jika istilah Santri secara umum ditujukan kepada para murid yang belajar di institusi pendidikan Islam pesantren. Tapi faktanya, belakangan bermunculan pesantren dan kelompok Islam yang berlawanan dengan nilai kebangsaan. Ada pesantren yang mengharamkan upacara. Hormat kepada bendera merah putih dianggap syirik. Menghormati jasa pahlawan dianggap sia-sia karena tidak pernah diajarkan Nabi. Pancasila dan demokrasi dianggap tidak ada dalilnya, sementara mematuhi Undang-undang negara adalah percuma, karena dianggap sebagai hukum buatan manusia, bukan buatan Tuhan.

Dan, disinilah pentingnya peringatan Hari Santri itu hadir di tengah-tengah kita. Kita sebagai muslim dan warga negara Indonesia, tentunya tidak ingin ada pesantren yang mengajarkan hal demikian. Kita juga tidak ingin jika ada kelompok “Santri” yang dengan mudah menyepelekan penghargaan terhadap pahlawan yang sudah berkorban demi kemerdekaan negara. Apa kita ingin Santri identik dengan aksi kekerasan dan terorisme?

Oleh sebab itu, barang siapa yang mempelajari Islam untuk sekadar diketahui, baik karena tidak meyakini kebenaran Islam, maupun untuk tujuan yang merugikan umat Islam dan umatnya, maka ia tidak layak disebut sebagai santri. Hal ini patut menjadi refleksi kita bersama.

Di sisi lain, hadirnya Hari Santri Nasional juga merupakan perebutan identitas. Perebutan identitas ini dirasa penting untuk membentuk bagaimana istilah Santri dikenal dan dipahami di masyarakat. Identitas ini penting karena perpengaruh dengan stigma dan anggapan masyarakat. Sebagai contoh, jika anda mendengar kata “Islam ekstremis”, maka akan dengan mudah membayangkan segerombolan orang-orang berjubah dan membawa pentungan. Tidak perlu berpikir panjang untuk mengkaitkannya dengan aksi kekerasan.

Penulis jelas tidak setuju dengan stigma seperti ini, karena tidak semua muslim berjubah berperilaku kasar dan melakukan kekerasan. Banyak dari mereka yang berperilaku baik. Tapi inilah kekejaman stigma dan identitas. Sebagai muslim, kita pasti ingin Santri identik dengan Islam yang ramah, rahmatan lil ‘alamin dan juga punya semangat kebangsaan.

Kata Santri juga identik dengan usia muda dan anak-anak yang sedang belajar agama Islam. Istilah Santri cenderung tidak identik bagi mereka yang belajar di usia sepuh. Maka momentum Hari Santri ini perlu dimaknai juga sebagai momentum bagi anak-anak dan pemuda  untuk kembali bersemangat belajar agama Islam. Lebih jauh lagi, mengkampanyekan kepada anak-anak dan pemuda usia belajar untuk lebih akrab dengan pesantren. Apalagi bagi banyak orang di perkotaan, yang masih menganggap santri sebagai kaum kolot dan terbelakang.

Maka dengan Hari Santri Nasional ini, tidak usah malu untuk mengunjungi masjid, madrasah dan pesantren di sekitar untuk mengaji, memperdalam agama Islam. Tidak perlu juga untuk membedakan pesantren satu adalah milik ormas A, dan pesantren lain milik ormas B. Karena Hari Santri Nasional adalah milik semua muslim yang masih belajar agama Islam, tentunya dengan garis besar nilai-nilai berbangsa dan cinta tanah air.

Walhasil, menjadikan Hari Santri sebagai sumber polemik dan perdebatan hanya akan membuat muslim Indonesia terbelah. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Akan banyak timbul madharat jika Hari Santri ini terus dijadikan perdebatan panjang. Toh, di pesantren sudah diajarkan bahwa berbeda itu biasa dan wajar saja. Tidak perlu ditanggapi dengan serius, hingga mengorbankan rasa peraudaraan. Justru jiwa seorang santri adalah ia bisa berikap legowo dan menyambut perbedaan dengan tangan terbuka. Berbeda juga tidak lantas mengurangi jadwal ngopi dan joinan rokok dalam satu meja. Selamat Hari Santri.

Rifqi Fairuz. Penulis adalah jama’ah mushola Ad-Dakhil dan sedang nyantri di CRCS UGM Yogyakarta

2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top