Celoteh Santri Gus Dur

Gus Dur dan Pergulatan Sastra

©istimewa

©istimewa

Oleh: Mohammad Pandu*

Barangkali, sastra sudah masuk di urutan keempat dalam daftar hal-hal yang Gus Dur cintai, setelah agama, bangsa dan keluarganya. Sastra merupakan salah satu bagian yang sulit dipisahkan dari sosok Gus Dur. Hobi membaca Gus Dur yang kuat dan ketertarikannya pada soal-soal kemanusiaan, membuatnya berada pada pilihan sulit untuk tidak memilih sastra sebagai bahan bacaan wajibnya. Sebab sebagian besar buku-buku sastra yang telah Gus Dur baca, tidak lebihnya berkutat pada permasalahan kemanusiaan dan cerminan kesederhanaan.

Hobi membaca Gus Dur bisa saja berawal dari banyaknya buku milik ayahnya yang tersedia di rumahnya. Tapi jika ada pertanyaan, dari mana Gus Dur mulai menyukai buku-buku sastra? Tidak mudah untuk menjawabnya. Yang jelas, kegandrungannya pada dunia sastra sudah terlihat sejak Gus Dur duduk di bangku SMP, bahkan hingga beliau sudah menjadi presiden.

Meski dibesarkan di lingkungan pesantren, Gus Dur tidak hanya terpaku pada kajian sastra Arab-klasik saja, melainkan lebih luas lagi. Gus Dur juga memiliki wawasan terkait kajian sastra Barat yang pada saat itu (bahkan hingga sekarang) bukanlah bacaan yang “layak” untuk dikonsumsi oleh santri dan kalangan pesantren.

Sejak kepindahannya ke Yogyakarta dan dipaksa oleh ibundanya untuk sekolah di SMEP (Sekolah Tinggi Ekonomi Pertama), Gus Dur mulai masuk ke dalam dua macam dunia bacaan: pemikiran sosial Eropa dan novel-novel besar Amerika-Rusia. Gus Dur mendapat buku-buku tersebut dengan meminjamnya dari salah satu gurunya. Dari sinilah kecerdasan intelektual beliau mulai terlihat.

Gus Dur telah menyelesaikan buku-buku “babon” karya Karl Marx yang semuanya berbahasa Inggris, seperti Das Kapital dan Communist Manifesto, serta The German Ideology yang ditulis bersama sahabatnya, Engels. Gus Dur juga telah membaca What to be Done karya Lenin. Namun, bagi Gus Dur, topik yang lebih menarik perhatiannya bukanlah seputar politik, ideologi, atau filsafat yang dipandangnya sebagai sesuatu yang abstrak; melainkan topik-topik yang lebih memasuki ranah sifat manusiawi.

Di sisi lain, Gus Dur juga melahap novel-novel yang sudah diakui kebesarannya secara internasional, seperti War and Peace, salah satu karya Leo Tolstoy yang masuk dalam kategori buku yang mengubah dunia. Selain itu, Gus Dur juga menyukai cerpen-cerpen karangan Anton Chekhov, buku-buku “pemberontakan” karya Fyodor Dostoevsky, dan juga drama Pushkin dan Gogol. Mantan presiden keempat RI itu juga telah banyak membaca novel-novel karangan Ernest Hemingway seperti A Farewell to Arms dan For Whom the Bell Tolls. Bahkan master piece dari Hemingway yang membuatnya mendapat nobel kesusastraan: The Old Man and The Sea, telah Gus Dur baca ketika nyantri di Krapyak. Yakni ketika Gus Dur menunggu giliran mendapat pelajaran “privat” dari Kiai Ali Maksum yang sedang mengajar santri-santrinya.

Wawasan Gus Dur tentang sastra Barat bahkan dapat memengaruhi cara pandang Pak Djunaedy yang sebelumnya memiliki stigma negatif terhadap buku-buku sastra, terutama novel. Pak Djunaedy adalah tokoh Muhammadiyah sahabat ayahnya, sekaligus orang yang memberi tempat tinggal Gus Dur selama di Jogja. Setelah keduanya terlibat diskusi, Pak Djunaedy sempat menanyakan novel apa yang paling Gus Dur sukai. Gus Dur pun menjawab bahwa ada novel yang temanya sederhana namun isinya hebat dan menarik hatinya, yaitu Travels with Charley: In Search of America karya John Steinbeck. Setelah Gus Dur banyak bercerita tentang novel-novel yang telah ia baca, diam-diam, tanpa sepengetahuan Gus Dur, Pak Djunaedy juga mencari buku-buku tersebut dan membacanya. Hingga suatu hari Pak Djunaedy rela menunggu Gus Dur pulang dari sekolahnya hanya untuk mengajaknya berdiskusi tentang novel-novel, puisi dan drama.

Saat remaja, Gus Dur juga menyukai sastra picisan. Salah satunya ialah cerita silat. Cerita silat biasanya berbentuk novelet, novel pendek yang terdiri dari lima belas jilid atau lebih. Cerita silat sendiri merupakan cerita-cerita tentang pendekar silat Tiongkok yang merupakan hasil dari terjemahan dari karya asli berbahasa Tiongkok. Selain itu, cerita silat bisa juga ditulis oleh orang Indonesia asli yang masih memiliki darah keturunan Tiongkok.

Meski cerita silat tidak bisa dianggap sebagai sastra yang serius, namun yang membuat Gus Dur tertarik padanya ialah, adanya unsur falsafah Tiongkok yang dalam pada cerita-cerita tersebut. Hal itulah yang di kemudian hari memberi pengaruh pada cara berpikir Gus Dur. Tema utama pada cerita silat biasanya adalah tentang kesetiaan seorang murid kepada gurunya. Hal ini sama dengan tradisi yang ada dalam dunia pesantren. Di pesantren, kesetiaan dan rasa hormat kepada kiai merupakan hal yang sangat penting. Selain itu, persamaan lainnya ialah tentang pembentukan watak (akhlak), pengembangan jiwa (spiritual) dan pembentukan karakter pada si murid yang juga tidak kalah pentingnya.

Tahun 1970, Gus Dur mulai menempuh pendidikan tingginya di Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak. Setelah beliau memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya di Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Universitas Al-Azhar, Kairo. Dari dua kampus ini, pergulatan Gus Dur pada dunia sastra belum juga redup. Di Kairo, Gus Dur membaca hampir semua karya William Faulkner. Beliau juga membaca prosa dan puisi karya Edgar Allan Poe dan puisi-puisi John Donne. Bahkan Gus Dur sempat menghafal sebagian besar dari puisi Donne yang berjudul No Man Is an Island. Sedangkan di Baghdad, matakuliah sastra Arab menjadi salah satu mata kuliah favoritnya.

Gus Dur cukup intens menggeluti dua bidang sastra berbeda latar belakang ini, yaitu antara sastra Arab dan sastra Eropa-Amerika. Wawasannya tentang sastra Arab, sebenarnya merupakan hasil dari ketertarikannya sejak dari pesantren, ketika beliau mendalami sastra Arab klasik. Barulah, dari Baghdad beliau membawa wawasan sastra Arab modern, yang nantinya banyak terlihat melalui tulisan-tulisannya. Di Indonesia sendiri, Gus Dur adalah seorang pemerhati sastra Arab modern. Sangat sedikit sekali orang-orang Indonesia yang menaruh kecenderungan pada sastra Arab. Selain Gus Dur, pemerhati sastra Arab Islam ketika itu hanyalah Ali Audah yang telah menerjemahkan berbagai karya sastra Arab Islam modern.

Greg Barton menceritakan, ketika Gus Dur menjabat sebagai ketua PBNU, kantornya dibuat sangat sederhana. Beliau hanya memberi sekat pada satu ruang dengan ruang yang lain. Di belakang tempat duduknya terdapat sebuah rak buku yang dipenuhi oleh beberapa buku dan surat. Judul-judul bukunya seringkali menarik. Banyak di antaranya adalah karya sastra Barat, termasuk The Moor’s Last Ligh karangan Salman Rushdie. Sementara buku-buku yang lain mengenai studi-studi yang baru-baru ini dilakukan mengenai Islam atau politik Indonesia. Artinya, dalam situasi apa pun Gus Dur tetaplah menjadi pribadi yang tidak bisa lepas dengan buku-buku sastra yang selalu ada di sekelilingnya. Bahkan ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden dan melangsungkan lawatannya ke luar negeri, beliau masih sempat minta dibacakan salah satu novel karya Pram (Pramoedya Ananta Toer). Setelah novel tersebut selesai dibaca, Gus Dur pun berucap, “Pram adalah orang pertama yang ingin saya temui ketika tiba di Indonesia.” []

 

*Santri Gus Dur Yogyakarta. Disampaikan pada diskusi Ngabuburit Gus Dur di Griya Gusdurian tanggal 19 Juni 2015.

 

Sumber Bacaan:

Abdurrahman Wahid, Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2007)
Greg Barton, Biografi Gus Dur. (Yogyakarta: LkiS, 2010)
Mohamad Sobary, Jejak Guru Bangsa. (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2010)
Irwan Suhanda (ed.), Perjalanan Politik Gus Dur. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010)
Iip D. Yahya, Gus Dur:Berbeda itu Asyik. (Yogyakarta: Kanisius, 2008)
Alfan Alfian, dkk. Damai Bersama Gus Dur. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010)

2 Comments

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top