Celoteh Santri Gus Dur

Pendidikan adalah Suri Tauladan

Oleh : Nur Sholikhin

“Nak, sekolah yang rajin ya, supaya pintar dan kelak mendapatkan pekerjaan yang layak,” demikianlah pernyataan yang sering kita dengar dari orang tua saat memberikan pesan kepada anaknya. Apalagi bagi masyarakat kecil, sekolah menjadi tumpuan mereka, agar kelak anak-anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Bisa memperbaiki nasib, tidak seperti apa yang dialami oleh orang tuanya.

Tidak menjadi persoalan sebenarnya bagi saya pribadi, yakni dengan menyekolahkan anak ke jenjang yang tinggi demi mendapatkan pekerjaan. Karena realitas yang terjadi, diakui atau tidak, memanglah demikian.

Oleh sebab itu, wajar jika banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya ke jenjang tinggi dengan tujuan supaya mendapatkan pekerjaan yang layak. Bahkan, di kampung saya, banyak orang tua yang menjual sawah, tanah, hewan ternaknya yang biasa dibuat untuk bertani, demi bisa menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi.

Tentu, harapan mereka jelas, kelak dikemudian hari anaknya tersebut bisa menjadi orang yang pintar, bisa bekerja dengan gaji yang melimpah ruah, tidak seperti apa yang dialami oleh orang tuanya, berpanas-panasan di tengah sawah.

Hal ini sebagaimana yang saya amati ketika wisuda di kampus. Banyak orang tua yang hadir, yang mana dari raut mukanya, penampilan mereka seperti para orang tua yang ada di desa saya. Mereka berbondong-bondong, datang dengan menggunakan bus, mengajak para keluarga; Bu Dhe, Bu Lik, Kakek dan Neneknya untuk melihat kesuksesan yang diraih oleh anaknya. Pemandangan seperti itu acap kali tertangkap oleh retina mata saya.

Namun yang jelas, terlepas dari hal tersebut, sebenarnya tujuan dari pendidikan adalah bisa mencerdaskan bangsa dan mampu mengubah peradaban; dari kebodohan dan kegelapan menjadi terang benderang. Maka benar ketika pemerintah Indonesia mewajibkan belajar sembilan tahun bagi rakyatnya. Karena menginginkan peradaban yang unggul. Sementara peradaban yang unggul itu dilihat dari ilmu pengetahuan dan generasi bangsanya.

Pentingnya Suri Tauladan

Banyak orang-orang besar yang mempunyai pengaruh kuat di masyarakat, termasuk pendiri bangsa kita ini yang lahir dari kaum terdidik (akademis). Pun juga sebaliknya, dari kaum terdidik pula banyak yang merusak citra negeri ini, yakni dengan memberi contoh negatif kepada masyarakat. Lihat saja bagaimana wakil rakyat dan para pemegang kebijakan (pemerintah) yang menindas rakyat kecil. Korupsi menjamur, banyak para elite yang menyalahgunakan uang rakyat. Dagelan pejabat publik pun acap kali dipertontonkan oleh kita dengan tindakan-tindakannya, sebagaimana yang kita lihat bersama melalui layar kaca. Padahal, seharusnya, para penguasa itu bisa menjadi tuntunan dan teladan bagi masyarakat.

Bahkan, yang lebih miris lagi sebagaimana fakta yang terjadi dewasa ini, adalah pemberian kesaksian palsu di dalam kasus sengketa Pabrik Semen di Kendeng Rembang, Jawa Tengah, oleh dua orang dosen dari Universitas ternama di Yogyakarta. Sungguh miris. Pendidikan tinggi, titel berjejer rapi, tetapi tidak digunakan kepada ihwal yang semestinya. Dan maaf, menurut saya, hal tersebut merupakan bagian dari ‘pelacuran intelektual’.

Yang menjadi pertanyaan adalah; kenapa hal ini bisa terjadi? Adakah yang salah di dalam sistem pendidikan kita? Bila kita mengingat kembali ajaran dan uswah kanjeng Nabi Muhammad, hakikat dari pendidikan bukanlah pada titel yang berjejer rapi, IPK tinggi, dan wisuda berpredikat cumlaude, akan tetapi pendidikan adalah akhlak (suri tauladan). Percuma mempunyai IPK tinggi dan begelar profesor maupun doktor, tetapi tidak bisa menjadi tauladan yang baik bagi masyarakat.

Sebagaimana peribahasa yang digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri handayani”. Sosok figur yang baik adalah disamping menjadi suri teladan, tetapi ia juga harus mampu menggugah dan membangkitkan semangat, serta memberikan dorongan moral. Dengan begitu maka akan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Bukan malah merugikan yang lain.

Saya kemudian teringat dengan pendidikan kaum Samin atau sedulur sikep (gerakan kelompok di Blora dan sekitarnya), yang menekankan bahwa tujuan dari mereka menyekolahkan anaknya tidak untuk mencari jabatan. Namun, cita-citanya untuk memperbaiki ‘tindakan dan ucapan’. Tujuan pendidikan menurut leluhurnya adalah tidak untuk pintar, akan tetapi yang penting ngerti (tahu). Toh kalau hanya pintar saja tetapi digunakan untuk menipu orang lain, ya percuma saja. Wallahhua’lam.

*Penulis adalah santri yang masih belajar di Pesantren Mahasiswa Garawiksa-Yogyakarta.

Tulisan ini juga dimuat di Buletin Santri edisi 12.

1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top