Review Buku

Meredefinisikan Konsep Kepemimpinan Islam

Oleh: Betriq Kindy Arrazy

kepemimpinan-profetikKH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa dengan Gus Dur dalam tulisannya berjudul “Arabisasi, Samakah dengan Islamisasi?” cukup apik memaparkan sebuah tulisan yang berangkat dari pengalamannya. Berawal saat Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU, didatangi oleh seorang Ulama Pakistan yang memintanya untuk memerintahkan warga NU agar mendoakan Pakistan diberikan kesalamatan karena sedang dipimpin oleh seorang Perdana Menteri wanita yang bernama Benazir Bhutto.

Menurut pengalaman tersebut dalam konteks Indonesia, masyarakat akan kembali diingatkan dengan salah seorang lurah di DKI Jakarta yang bernama Susan tentang respon masyarakat yang tidak menerimanya. Hanya karena perempuan dan non-muslim.

Tidak sampai disitu, dua periode pemilu kepala daerah di Jawa Timur, dengan posisi teratas yang ditempati pasangan Soekarwo-Syaifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumawiredja yang dua kali dimenangkan oleh pasangan Soekarwo-Syaifullah Yusuf. Menariknya adalah kontestasi politik tersebut antara Syaifullah Yusuf dan Khofifah Indah Parawansa adalah kader Nahdlatul Ulama yang mempunyai posisi penting di struktural dan kultural NU. Disinilah kemudian suara NU di Jawa timur yang notabene merupakan basis masyarakat NU terbelah menjadi dua poros utama. Meski kemudian dimenangkan oleh pasangan Soekarwo-Syaifullah Yusuf yang berujung pada legalitas kemenangan yang menjadi pertanyaan, saat Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar terindikasi “bermain” gugatan yang dilayangkan oleh pasangan Khofifah Indah Parawansa.

Terakhir, yang paling terbaru dan masih hangat adalah kasus FPI yang merusak kantor DPRD karena kekhwatiran tingkat tinggi atas melanggengnya Basuki Tjahja Purnama atau Ahok sebagai Gubernur DKI. Bagaimana pun, perusakan sebagai akhir dari cara mengekspresikan aspirasi tidak dibenarkan dalam sebuah negara yang lebih mengedepankan cara-cara demokratis.

Secara tersurat, dalam kitab suci Al-Quran memang tidak memberikan celah sedikit pun kepada non muslim atau seorang perempuan untuk menjadi pemimpin. Misalnya dalam ketiga peristiwa yang sudah terpaparkan diatas, menjadi bukti sebagian dari masyarakat Indonesia yang beragama Islam masih tidak siap dengan kondisi-kondisi di luar ekspektasi dalam kepemimpinan Islam. Seakan-akan terjadi benturan antara agama dan negara yang tidak bisa ditolerir. Terlebih paling ekstrim adalah menggerogoti karir sosial sang calon pemimpin yang tidak diharapkan dengan memunculkan sentimen-sentimen negatif yang cenderung berbau SARA. Bila ini dibiarkan, tentunya akan membentuk sebuah masyarakat Islam yang konservatif. Di sisi lain juga memperuncing perbedaan yang semakin tidak titik temunya dalam masyakat Indonesia yang beriklim multikultural dan plural.

Gus Dur mulai meredefinisikan, sekaligus mencoba mengaktualisasikan tafsir kuno dalam otoritas orang Islam dan laki-laki menjadi seorang pemimpin dalam suatu umat. Dimana zaman Rasulullah, konsep kepemimpinan masih bersifat perseorangan dengan tugas seorang pemimpin melakukan tugasnya mjemimpin peperangan, melawan suku lain, membagi air melalui irigasi di daerah padang pasir, memimpin karavan perdagangan, mendamaikan pertikaian antarsaudara (keluarga), hingga pembuatan aturan (hukum).

Konsep pemikiran Gus Dur yang berpijak pada keadilan dan kesataraan. Mencoba untuk memperbarui konsep kepemimpinan yang lebih demokratis berdasarkan dengan kondisi zaman kontemporer. Merubah konsep kepemimpinan yang bersifat personal dengan melembagakan kepemimpinan dalam sebuah institusi untuk menciptakan tatanan pemerintahan dan kepemimpinan yang lebih demokratis. Demokratis disini, tentunya tidak ada satu dominasi kekuasaan oleh seseorang yang rentan memicu pemimpin-pemimpin tirani di sebuah kelompok masyarakat besar dalam hal ini adalah negara. Diimbangi dengan kebebasan berekspresi yang beradab dan bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang merasa dirinya dirugikan. Tentunya tanpa memberhangus aspirasi dengan memanfaatkan otoritas kekuasaan.

Berangkat dalam kondisi sekarang di mana para pemimpin yang dominasi adalah laki-laki tersandung kasus korupsi yang beberapa diataranya berasal dari Partai Politik Islam. Pembajakan nilai-nilai Islam tentang “mencuri” dengan memanfaatkan kekuasaan membuat Islam sebagai din menjadi desakralisasi akibat oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Atas kondisi tersebut, menyitir argumentasi Cak Nur yang sempat melegenda di zamannya tentang “Islam, Yes. Partai Islam, No”.

Sampai dalam tataran tersebut, membaca pemikiran Gus Dur tentang konsep kepemimpinan tersebut adalah sebuah upaya konkret dalam bentuk pemikiran untuk merobohkan kultur patriarkhi dan feodalisme Islam. Gus Dur mencoba untuk menegakkan nilai-nilai Islam tidak pada posisi superior, namun ia mencoba mengkombinasikan dengan aspek persamaan (al-Musawah), keadilan (al-Adalah), moderat (at-Tawasut), keseimbangan (at-Tawazun), dinamis (at-Tawatur), dan demokrasi yang Islami (Assura). Apa yang ia coba pikirkan dan implementasikan terlebih ingin menciptakan sebuah tatanan masyarakat madani (Khaira Ummat) dalam kondisi dan situasi yang tidak gagap ada perubahan zaman.

*Penulis adalah peserta Kelas Pemikiran Gus Dur 3

1 Comment

1 Comment

  1. Quiana

    May 30, 2016 at 4:34 am

    What a plarsuee to meet someone who thinks so clearly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top