Celoteh Santri Gus Dur

Jalan Sunyi Untuk Negeri

[Catatan Reflektif Lampah Ratri dan Topo Bisu]

Oleh: Harris Surya

Selasa malam, alunan gendhing Jawa mengalun di sekitar tugu Jogja. Suara itu menyusup di antara deru suara kendaraan bermotor yang lalu lalang di sekitar tugu yang oleh masyarakat Jogja biasa disebut “tugu pal putih”. Beberapa orang berkumpul di seberang selatan dengan menggunakan pakaian adat Jawa lengkap dengan keris dan blangkon khas Yogyakarta.

Beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan ‘uba rampe sesaji’ dan sebuah gunungan yang terbuat dari hasil bumi. Ya, malam itu sedang diadakan “Laku Budaya Lampah Ratri dan Topo Bisu”. Acara yang diprakarsai oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) tersebut diadakan rutin setiap tahun, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Lampah Ratri dan Topo Bisu diadakan sebagai wujud refleksi doa dan rasa keprihatinan menyoal keadaan negeri kita saat ini.

Acara ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Jogja, namun juga dari berbagai kalangan lintas suku dan agama. Mulai dari masyarakat awam, siswa sekolah, mahasiswa serta pemuka agama dan pejabat pemerintah, mengikuti acara ini. Terlihat di barisan pertama, seseorang yang membawa dupa diapit oleh dua orang yang berpakaian adat rapi.

Di belakangnya ada dua orang yang memanggul “bende”, sejenis gong kecil yang pada jaman dahulu yang berfungsi untuk memanggil orang-orang untuk berkumpul bila ada suatu acara yang akan diadakan. Selanjutnya, dua orang yang memanggil bende diikuti oleh gunungan yang dipikul oleh 4 orang yang di belakang-nya berjejer para pemuka agama dan ratusan orang yang membawa obor, menyala. Tidak lupa janur kuning juga dibawa sebagai lambang perlawanan di jaman penjajahan.

Kesunyian Lampah Ratri
Setelah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya selesai dinyanyikan, doa mulai dipanjatkan, memohon kelancaran iring-iringan yang rencananya akan menempuh rute dari tugu Jogja menuju depan pagar pagelaran Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peserta mulai berkonsentrasi memanjatkan doa dalam hati masing-masing. Suara bende yang dipukul oleh panitia menandai barisan orang yang mulai berjalan ke selatan tanpa ada suara (hening). Semuanya hanyut dalam “lampah” (jalan) sembari “topo bisu” (diam) khusyuk. Dalam hati mereka memanjatkan doa dan harapan yang mengiringi langkah kaki memecah keheningan ratri (malam).

Ada 4 jalan iring-iringan yang dilalui dalam Lampah Ratri dan Topo Bisu. Jalan yang pertama ialah Jalan Margo Utomo yang berarti jalan yang menuju keutamaan. Setelah melewati Margo Utomo, ada Jalan Malioboro, yang berarti pengembaraan mencari kemuliaan. Bergerak ke selatan lagi ada Jalan Margo Mulyo, yang artinya adalah jalan kemuliaan, dan yang terakhir adalah Jalan Pangurakan, di sebelah utara alun-alun sebelum memasuki keraton. Jalan Pangurakan ini sering dimaknai bersihnya diri manusia dari hawa nafsu duniawi.

Dari nama jalan-jalan ini kita diajarkan untuk mengerti bagaimana cara manusia jika ingin mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam. Hal itu dikarenakan nama jalan tersebut memiliki filosofi khas yang sejajar dengan makna sumbu imajiner filosofi Yogyakarta, yang terbentang lurus dari Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, Kraton, Panggung Krapyak, hingga laut selatan.

Para peserta lampah pun seperti meresapi kembali filosofi jalan yang mereka lewati. Dengan keramaian yang masih ada di kanan kiri jalan, mereka tetap diam tanpa bicara bahkan makan dan minum mereka tahan berharap agar doa yang mereka panjatkan dalam hati bisa di terima Tuhan Yang Maha Pengasih.

Laku Prihatin dan Harapan
Orang Jawa sering melakukan usaha untuk menjauhi kesenangan duniawi yang terkadang bisa membuat orang lupa hakikat dirinya di dunia–untuk apa?. Maka orang Jawa sering memilih untuk hidup sederhana atau bahkan hidup serba kekurangan. Ihwal ini oleh orang jawa disebut “Laku Prihatin”. Laku prihatin dilakukan dengan cara misalnya mengurangi makan dan tidur, selalu bersyukur atas apa yang telah didapat, dan yang paling penting adalah selalu membersihkan hati dan batin agar menjadi orang yang tulus, ikhlas, selalu eling lan waspada.

Selain laku prihatin, orang Jawa sering melakukan usaha-usaha yang sulit dan memberatkan dirinya sendiri yang tujuannya adalah semoga dengan usaha yang dilakukannya itu, Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan mengabulkan keinginan dan harapannya, usaha-usaha inilah yang disebut “Tirakat”.

Tirakat juga dapat dilakukan misalnya pada waktu orang menghadapi suatu tugas yang berat, ketika terjadi masalah dalam keluarga, pekerjaan atau hubungan dengan orang lain, tetapi dapat juga pada waktu masyarakat atau negara berada dalam keadaan yang sulit seperti terjadinya bencana atau kekeringan

Maka, Lampah Ratri yang bermakna berjalan di malam hari dan Topo Bisu yang bermakna diam, termasuk usaha masyarakat Jogja agar terkabulnya doa, keinginan dan harapan agar di Hari Kebangkitan Nasional ini. Di samping itu, yang paling penting adalah masyarakat diingatkan lagi bahwa Indonesia menjadi sebuah bangsa karena persatuan dari berbagai jenis adat, suku, agama serta budaya. Oleh karenanya, semoga kesadaran yang penuh golong gilik untuk menjadi satu bangsa ini kembali tumbuh menjadi semangat bersama.

Di akhir acara Laku Budaya Lampah Ratri dan Topo Bisu tersebut, dipungkasi dengan doa bersama lintas agama untuk para pahlawan yang gugur dalam memperjuangkan negeri ini. Harapan dari doa tersebut tidak lain semoga kota Yogyakarta dibebaskan dari segala macam perpecahan dan bencana, dan para pejabat dan priyagung yang sedang menduduki kekuasaan selalu diberikan rahmat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa agar mampu menyejahterakan rakyatnya. Amin.

*penulis adalah alumni Kelas Pemikiran Gus Dur II

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top